Ahok dan Valentino Rossi

Ahok dan Valentino Rossi

Tadinya tulisan tentang Ahok ini dibuat sambil nonton final MotoGp 2015 di Valencia. Tanpa sengaja, judulnya jadi campur-aduk begitu saja antara Ahok dan MotoGP. Ada dua tulisan tentang Ahok. Satu judulnya Ahok dan VR. Dan satu Lagi; Ahok, Jangan Adu POLRI dan TNI dengan Rakyat. Sungguh, pertarungan final MotoGP me-ngulik-ulik suasana batin para fans racer MotoGP. Apalagi kemenangan Lorenzo yang begitu dinyiyiri publik pencinta MotoGP, wal khusus jamaah rider bernomor 46.

Saya tidak suka menonton VR-46 start dari depan, karena hanya satu-satunya rider MotoGP yg bisa menampilkan seni menyalip dari belakang hanyalah The Doctor. Karenanya bukan soal bila VR harus start dari belakang saat di Valencia. Saya termasuk salah satu diantara sekian pendukung fanatik Rossi. Bagi saya, penampilan Rossi di Valencia pada laga final, bukan pada soal dia start dari Belakang atau bisa merengkuh gelar dunia ke-10, tapi lebih pada kemampuan Rossi mempertahankan martabatnya sebagai rider sejati.

Sejak di Sirkuit Sepang-Malaysia pada 25 Oktober 2015, erupsi faktor X mulai muntah ke publik pecinta MotoGP. Selain kompetisi dan sportifitas, ada soal lain yang membara dalam ajang balap MotoGP berkelas dunia itu. Ditengarai, rekan senegara Lorenzo [Marquez] memantik letupan pertarungan Rossi vs Lorenzo. Marquez, diduga menghalangi Rossi mendulang point di Malaysia. Duo senegara itu, ditenggarai secara tidak sportif kong kali kong menghalangi Rossi merengkuh kemenangan ke-10. Dan akhirnya Rossi dipecundangi di Sepang-Malaysia.

Lalu terjadilah peristiwa naas nan kontroversial di Sepang-Malaysia. Rossi disanksi pengurangan tiga point oleh race director MotoGP, dan start dari posisi paling bontot malam tadi [8/10/2015] pada ajang final MotoGP di sirkuit Valencia.

Namun laki-laki dari negara tempat Pizza berasal itu, pantang surut dan menyalip 22 rider MotoGP, lalu mengurut di posisi empat hingga lap terakhir. Ada kebesaran hati, sportifitas dan ketahanmalangan yang memompa emosi dan respek penggemar 46 di senatero dunia yang menyaksikan kedigdayaan Rossi. Bavo VR-46.

Sementara Lorenzo bermain” kucing kaleng” dengan dua rekan senegaranya; Pedrosa dan Marquez. Dari posisi dan kondisi, mestinya di lap ke tiga, dua rider asal Spanyol itu (Markuez dan Pedroa] bisa menyalip dan meninggalkan Lorenzo hingga di garis finish, namun “drama sambal” itu sekan-akan dipertontonkan ke masyarakat dunia yang kadung sudah menganggap, untuk menglahkan Rossi, Lorenzo butuh dua pengawal senegaranya [Dani dan Mark].

Apalah itu, Rossi dan para fans nya telah bersuka cita meraup kemenagan pride-nya. Meskipun Lorenzo harus memikul beban kemenangan dengan sebuah permufakatan licik, yang tak pantas. Yang kita saksikan semalam pada laga final MotoGP adalah, semakin cepat Lorenzo memacuh laju motornya, semakin cepat juga ia mendekati garis kebohongan. Lorenzo seakan melingkari liuk-liuk kejumawaan yang didapatkannya dengan cara yang culas bersama Marquez.

Di momen penganugerahan gelar MotoGP, senyum Lorenzo tak Lebar. Pandangannya redup. Di bawah dua bola matanya, terlihat garis-garis tebal beban dan ketakbanggan yang begitu kenatal dan nyata. Merengkuh gelar juara dunia MtoGP 2015, seakan memikul segunung rasa malu. Saksikan, ia tak lama menyapa dan menatap penonton saat penganugerahan gelar di pedium.

Berbeda soal, di Sirkuit Valencia, kostum kuning bertulis VR-46 tumpah ruah membanjiri arena MotoGP, begitupun ledakan sosial media yang mengungkapkan respek dan kebanggaanya pada Rossi. Rossi benar-benar meledakan senyuman pada penggemarnya. Ia berhasil mengakhiri lap balapan dengan harga diri yang gemilang. Sekali lagi, bravo VR-46 !

Andaikan Lorenzo menang dengan posisi start di tiga atau 4 besar bersama Rossi, dan andaikan Pedrosa dan Markquez, serius meninggalkan Lorenzo di lap-lap terakhir, Lalu Loronzo pun enggan dan berpacu meraih kemenangannya, pasti itu kemenagan yang baik buat Lorenzo. Tapi ternyata?

Di sela-sela ramainya laman sosial media tentang suka cita para fans Rossi, demikianpun Lorenzo yang di-meme pengguna sosmed seantero dunia, muncul dan ramai juga laman sosmed [terutama link di facebook] tentang Ahok dan Sampah.

Seperti kemenangan Lorenzo yang dianggap sampah, Ahok pun dianggap sampah kalau tak menyelesaikan masalah sampah di Jakarta dengan baik? Pertarungan MotoGP begitu sengitnya mempertontonkan keculasan Lorenzo dan Marquez terhadap Rossi. Setali tiga uang dengan duo Spanyol itu, Gubernur DKI Jakarta Ahok dalam segala masalah termasuk sampah, acap kali mempertontonkan keculasan dalam menyelesaikan masalah.

Sampah dan penanganannya di Pemda DKI, menjadi isu nasional. Dus Wapres Jusuf Kallah di media, ikut-ikutan omongin sampah dan menelepon Ahok [baca www.liputan6.com : Wapres JK Menelepon Ahok Tanya Soal Sampah]. Kini katanya, Ahok rela menyampahkan jabatannya demi urus sampah?

Saya sebenarnya tak benci-benci sekali dengan watak Ahok. Namun gaya komunikasinya acap kali merusak selera makan saat memelototinya di tv. Di mulut Ahok seakan-akan ada bara api. Semua letupannya panas dan membakar. Publik Jakarta yan sudah mampet, gerah dan bising, sering dibuat gerah dengan letupan-letupan amarahnya yang tak karuan.

Setiap kali Ahok muncul di tv dalam merespon masalah-masaah tertentu di DKI Jakarta, rasa-rasanya layar tv saya bertambah panas. Karenanya saya langsung mematikan tv kalau ada Ahok muncul.

Di depan anak-anak, saya juga mematikan tv kalau Ahok marah-marah, karena bagi saya, Ahok bukanlah pemimpin yang mendidik publik dari sisi komunikasi. Jangan sampai anak saya mengira, menjadi pemimpin; seperti kepala daerah itu kalau sudah bisa marah-marah; seperti Ahok. Sikap Ahok, hanyalah ledakan energy negatif.

Tentu kita masih ingat, ketika masyarakat media (baik media mainstream dan sosmed), menyoal mantan Gubernur DKI Jakarta; Fauzibowo atau bang Foke yang dianggap keras dan culas. Waktu itu, orang menyoal kumis bang Foke. Katanya komis bang Foke yang tebal, menambah stile kesangaran dan keculasannya.

Dengan kumis tebal yang menambah performance kesangaran, sosok bang Foke seakan membuat publik Jakarta tertekan psikisnya di tengah-tengah kondisi Jakarta yang mampet, macet dan bising. Intinya, warga Jakarta butuh pemimpin yang punya gesture kelembutan, dan persuasif.

Kehadiran Jokowi, dengan segala citranya sebagai sosok yang low profile, persuasif dan sering menggunakan komunikasi kelembutan dalam menyelesaikan masalah, adalah salah satu obat pembangunan Jakarta. Kadung warga Jakarta sudah menganggap, performance Jokowi yang lembut, adalah antitesis terhadap bang Foke yang sangar dan culas.

Ketika pilkada DKI Jakarta 2012 [Foke-Nara Vs Jokowi-Ahok], hanya soal kumis bang Foke saja, Jokowi meraup perhatian publik. Tulisan tentang kumis bang Foke bahkan sampi di muat KOMPAS. Harian KOMPAS pernah merilis berita : Pendukung Foke Geram Lihat Kampanye “Anti Berkumis” [Kompas, 31 Mei 2012].

Berbeda gaya dengan bang Foke, Ahok yang tak berkumis apalagi jenggot, jauh lebih culas 10 kali lipat dari bang Foke. Persamaannya; dua-duanya culas. Perbedaannya; laporan pertanggungjawaban penggunakan keuangan daerah DKI Jakarta di era Foke lebih baik dari Ahok yang menyandang raport wajar dengan pengecualian [WDP].

Status WDP jugalah bikin Ahok nyinyir terhadap BPK. Semua orang yang tak sependapat dibilangnya salah dan segala macam underestimate. Ditambah lagi kekonyolan Peraturan Gubernur DKI Jakarta tentang pengaturan demonstrasi di wilayah Jakarta. Naga-naganya, Gubernur pemarah ini tengah bermain gila dengan watak diktator pemerintahan masa lalu [orde baru].

Rasa-rasanya ingin bilang langsung ke Gubernur Ahok, Pak, jangan sering muntahkan kemarahan di saluran tv kami. Tumpahkan saja perstasi pembangunanmu dengan gaya komunikasi yang etik, lembut dan beradab.

Rasanya, warga kota Jakarta dengan tumpahan masyarakat kelas menengah yang terdidik, lebih memahami ide-ide pembangunan yang disampaikan dengan cara-cara santun dan beradab. Beda kasus bila Jakarta adalah hutan belantara yang peradaban warganya di bawah rata-rata kodrat kemanusiaan. Jika demikian, silahkan saja pak Ahok sampaikan protes dan statemen di media, dengan nada dan pilihan diksi yang menggambarkan kehidupan alam liar yang keras dan beringas.

Keculasan Lorenzo dan Markuez VS harga diri dan kebesaran Hati Valintino Rossi di dua Sirkuit MotoGP [Sepang dan Valencia], adalah dua attitude beda kelas yang mengajarkan pada Ahok, bahwa prestasi tak selamanya diperoleh dengan cara-cara yang naif dan culas, tapi bisa diperoleh dengan lapang dada dan tak grasak-guruk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *