PDIP, Adian, Ruhut dan Politik Taman Kanak-kanak

PDIP, Adian, Ruhut dan Politik Taman Kanak-kanak

Lihatlah Adian Napitupulu cs dimalam paripurna DPR 1 Oktober 2014. Semua jenis perbendaharaan kata-kata kotor dan tak senonoh, disemprotnya ke meja pimpinan sidang sementara DPR. Jari telunjuknya berulang kali disasarkan ke biji mata dua pimpinan sidang itu dengan sorot mata bengis. Rasa-rasa, pimpinan sidang mau ditelannya bulat-bulat.

Tak puas di balik pembatas meja pimpinan sidang, rekan Adian lainnya merangsak naik ke panggung pimpinan sidang. Mengintervensi, memaksa, dan segala bentuk tekanan. Saya melihatnya dengan jarak dekat, mereka tak punya kemampuan seni melobi, makanya pimpinan sidang ditekan untuk meloloskan keinginannya. Atau memang terlampau pongah di puncak kemenangan.

Alhasil saya mengendus dan memaklumi, bahwa setiap kekuasaan punya penjaga atau penunggunya. Mereka tak mau kekuasaan diseruduk. Bahkan mereka mau menyeruduk siapa saja yang dikira menggangu kekuasaan.

Sama persis Ruhut Sitompul yang kita kenal dengan kata-katanya yang familiar “SBY guru kami, presiden yang terhormat”. Keduanya (Adian Napitupulu dan Ruhut Sitompul) setali tiga uang. Sama-sama sebagai penunggu atau penjaga kekuasaan. Gaya komunikasi, diameter mulut dan tenggorokan saat teriak-teriak persis seukuran. Substansi omongannya pun sederajat rendahnya.

Semua dinamika politik yang terjadi hari ini adalah pendewasaan demokrasi. Waktu 16 tahun pasca reformasi 98, terlalu sebentar untuk menyegerahkan demokrasi kita tumbuh menjadi dewasa. Kematangan demokrasi “bukanlah suatu hal yang given,” tapi terus menjadi.

Dua kali Koalisi Merah Putih menggunduli Koalisi Indonesia Hebat, adalah bagian proses “menjadi”. Suatu proses dialektik yang terus mencari bentuk. Ini bukan soal siapa mengalahkan siapa ! Bukan soal siapa menginjak kaki siapa !

Di tengah proses menjadi itu, menjustifikasi siapa yang demokratis dan yang anti demokrasi, adalah pernyataan yang terburu-buru dan latah. Karena menjustifikasi pihak lain dengan bumbungan subjektifitas politik yang tinggi, juga bentuk lain dari ketidak–demokratisan. Karena selalu merasa benar sendiri. Lalu siapa yang paling demokratis?

Apa yang dipertontonkan Adian Napitupulu cs, adalah ciri infantilisme politik. Atau politik taman kanak-kanak. Yang mereka tampilkan adalah keculasan politik, egoisme politik dan sindrome tak mau kalah. Dalam psikologi politik, apa yang ditampilkan Adian cs, adalah gejala akut “narsisme politik”.

Gejala narsisme politik akut ini, ditandai dengan sikap membanggakan diri dan kelompok secara berlebihan dan menganggap orang dan kelompok lain tak pernah benar atau berpeluang untuk hebat melebihinya. Ingin menang sendiri.

Terkadang, gejala narsisme politik yang berlebihan, membuat politisi pengidap suka bercermin dengan kelebihan sendiri, dan berulang-ulang dilakukan sekedar mendapatkan kepuasaan personal dan kelompok. Persis  tokoh dalam mitos YunaniNarkissos (bahasa Latin: Narcissus), yang dikutuk sehingga ia mencintai bayangannya sendiri di kolam. Kalaulah ada klinik politik, Adian cs tepatnya ditempatkan di partai berkebutuhan khusus.

Klimaksnya narsisme politik adalah, sebatas membanggakan diri dan menertawainya sendiri berkali-kali.Lihatlah Adian, selalu menganggap reformasi 98, adalah milik bapak moyangnya. Padahal reformasi itu perjuangan moral kolektif seluruh mahasiswa dan organ gerakan di tanah air. Sebagai tanggungjawab sejarah anak bangsa.

Adian acap kali bersolek dengan sejarah reformasi 98. Ia tak punya bahan lain, selain narsis dengan gerakan 98. Seolah-olah bila bukan karena dia, perjuangan reformasi berhenti seketika.

Ia (Adian) selalu mengklaim diri dan kelompoknya yang paling berperan dalam perjuangan reformasi 98. Dan disitulah kita tahu, ia bukan siapa-siapa. Ia bukan tokoh yang berpikiran besar.

Ia pamrih. Dan sekarang kekuasaan dikulumnya. Ia mulai nyaman di selangkangan kekuasaan. Kekuasaan dibelanya berdarah-darah. Jokowi yang waktu reformasi entah di alam mana, kini didaulat Adian cs sebagai anggota kehormatan aktivis 98. Adian Napitupulu cs menjual murah sejarah perjuangan mahasiswa demi syahwat kekuasaannya.

Rasa jumawa berlebihan elit PDIP, terutama ketua Umumnya dan cecunguknya seperti Adian cs, tentu menjadi penyakit dan virus bagi komunikasi politik yang sehat dan beradab. Menyakiti, merendahkan lawan politik di ruang publik, adalah perbuatan yang sesumbar telah menjadi tabiat elit dan cecunguk PDIP. Kita masih ingat, Mega yang begitu sombongnya menampik kedatangan ARB, Prabowo dan beberapa elit KMP lainnya. Ini adalah tabiat politik yang terlampau melukai lawan.

Kekalahan politik pilpres 2014, bukan sesuangguhnya kusumat yang menjadi sebab pembakar api perlawanan Koalisi Merah Putih hari ini terhadap Koalisi Indonesia Hebat. Bangunan resistensi politik saat ini, lebih disebabkan oleh gaya komunikasi politik PDIP yang terlampau menjaga jarak. Mengisolasi diri, dan menolak komunikasi dengan berbagai pihak seberang.

Mereka (elit PDIP), baru keteteran setelah formasi perlawanan itu apik dan mengancam. Akibatnya, dibikin “muter” pusing tuju keliling oleh SBY. PDIP dipecundangi SBY berkali-kali. PDIP dan elitnya, terengap-engap di tengah gelombang perlawanan. Dan kini tak sadar hendak memelas, meminta jatah pimpinan MPR dan alat kelengkapan di DPR. Ini kelucuan, atau kekanak-kanakan?

Dan sekarang, Adian cs baru sadar, melek dan mangap-mangap. Dikiranya politik itu seperti peradaban di jalan. Kapan saja ia boleh kencing, muntah dan berak di trotoar, tak ada yang urus. Dikiranya politik itu sebatas membayar Rp. 25.000 lalu mengumpulkan anak jalanan untuk demonstrasi, dan teriak-teriak berorasi.

Kini Ia (Adian cs) baru tahu, bahwa saluran politik itu soal gagasan, soal strategi dan taktik, soal kemampuan dan seni melobi yang beradab. Adian seperti lupa jalan pulang. Setelah sekian lama narsis dan bersolek dengan cermin sejarah reformasi 98 yang dibikinnya dengan tangan sendiri lalu ditentengnya kemana-mana.

Sekarang kita menunggu sikap PDIP, mau cooling down atau terus menghela kepongahan, setelah tiga kali dikuliti koalisi merah putih tanpa ampun.

Saya mengapresiasi dan menaruh hormat pada Bapak Pramono Anung (Mas Pram). Ia menjadi mesin pendingin yang mampu menurunkan tensi kepongahan PDIP yang terus memanas (baca : Kalah terus PDIP lobi).

Mas Pram, menjadi pintu masuk yang tepat untuk melerai baku hantam politik antara kedua faksi ini. Pramono relatif santun dan bisa diterima lintas partai.

Jauh hari, mestinya PDIP meng-harmonikan Mas Pram dengan kondisi politik yang alot ini. Bukan sebaliknya, membiarkan Adian terus berkoar di ruang publik tanpa isi dan penuh racun !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *