Teror Asap, Tuan Presiden Hebat !

Teror Asap, Tuan Presiden Hebat !

Selasa 27 Okt 2015, Belasan bayi di Pekanbaru dan Jambi dilarikan ke RSUD setempat karena radang paru-paru, infeksi saluran pernapasan atau sesak nafas akibat kabut asap yang masih menyelimuti dua provinsi itu. Di tv, hidung dan tangan bayi-bayi tak berdaya itu dipasang selang O2 dan infus. Orang tua mereka duduk selonjor di bangsal anak, dengan raut kehilangan harapan bercampur kecewa sekaligus duka. Mereka tak kuasa, melihat anak seusia itu memanggul derita asap, berbaring tak berdaya, dengan mata menatap lurus ke langit-langit atap bangsal. Sudah hampir dua bulan, mereka menantang asap; bahkan kematian sekaligus.

Di tengah keprihatinan yang menguras emosi itu, pemerintah masih menghitung-hitung data, berapa sudah jumlah kematian akibat asap. Mereka sibuk membuat rumus kematian rakyatnya, agar malapetaka asap itu bisa naik kelas sebagai bencana nasional. Setali tiga uang dengan DPR yang tak lagi nyinyir dengan pemerintah yang lelet memitigasi asap.

Ini tentang nyawa manusia. Ini tentang nyawa bayi-bayi kecil tak berdosa itu. Mereka terkapar menanggung derita akibat ketamakan cukong sawit yang dibiarkan negara bebas liar memperluas lahan sawitnya demi investasi. Dimanakah negara, ketika asap ini menjadi musibah musiman disetiap musim kemarau?

Tentu kita tak bisa berharap lebih pada pemerintahan Jokowi-JK. Kita hanya menunggu jadwal Tuhan meneteskan hujan di dua Provinsi itu. Dan Ahlhamdulillah, dua hari terakhir minggu ini (oktober 2015), hujan deras menjadi rahmat bagi dua provinsi itu. Jadi mitigasi asap adalah program Tuhan.

Andai Jokowi bisa mencurahkan hujan dengan volume yang sama, tentu ini proyek pencitraan yang luar biasa. Metro TV pasti habis-habisan memberitakannya dengan biaya peliputan miliaran rupiah.

Begitupun DPR yang kini riuh bikin pansus asap, dan tentu isunya hanya dua; apakah masalah asap menjadi bencana nasional, atau dianggap cuma sebuah kesengajaan dan kejahatan bisnis sawit oleh cukong-cukong negeri jiran. Kalau menjadi bencana nasional, maka ada konsekuensi anggaran, melalui mekanisme pagu APBN, dalam hal ini menjadi domain Badan Nasional Penanggulangan Bencana [BNPB].

Kalau jadi tanggungan APBN, maka Alhamdulillah, akhirnya para tokek asing itu mencuci tangan dan komuru-kumur. Mereka membakar hutan, merusak ekologi, menyebabkan korbannya nyawa rakyat tak berdosa karena asap, lalu APBN yang menanggungnya. Indonesia hebat ! Dimanakah kekuatan negara untuk memaksa cukong-cukong sawit itu? Apakah negara hanya bisa represif pada rakyatnya? Sementara cukong-cukong sawit itu dibiarkan bernafas enteng.

Disaat yang sama, yang mulia tuan Presiden RI melawat ke negeri Paman Sam. Jauh-jauh kesana katanya untuk bertemu CEO Freeport? Jauh-jauh kesana, katanya untuk bergabung dengan Trans Pasific Partnership (TPT)?

Wow..sejauh itukah tuan presiden melangkah, bergabung dengan TPT? Apa yang sudah tuan persiapkan untuk industri dalam negeri? Satu-satunya penopang industri padat karya kita adalah manufacturing.Itu pun kini terseok-seok. Industri kita 70% masih impor bahan baku dan ponolong, dipaksa bersaing dengan negara-negara maju yang industrinya sudah perkasa 100-200 tahun silam.

Ekonomi nasional kita 60% berbasis agraris, dipaksakan bersaing dengan negara-negara maju yang industrinya berbasis high tech. Dengan semua jarak perbedaan itu, TPT hanya menjadikan Indonesia sepakai pasar dan lapak investasi. TPT hanyalah salah satu dari sekian jembatan hegemoni melalui trans national corporation (TNC) yang akan memeras habis-habisan sumberdaya ekonomi nasional. Pemerintahan Jokowi-JK sedang membuka satu demi satu lembaran kitab ekonomi neolib, atas nama investasi dan ekonomi pertumbuhan yang sesat dan menyengsarakan.

Kita bukannya anti investasi, tapi Indonesia butuh persiapan, memperkuat daya saing industri dalam negeri. Dari Global Competitiveness Index report, daya saing industri kita selalu tertinggal dari negara-negara tetangga; baik dari segi teknologi industri dan SDM. Kita kita perlu meng- consolidate industry dalam negeri baru bicara soal tatanan lebiralisasi ekonomi.

Apakah tuan presiden hanya ingin menjadikan indonesia sebagai pasar untuk cukong-cukong bule itu? Sudah pasti tuan Presiden menjadi kolaborator bagi negara predator AS, karena upah buruh kita murah dan bonus demografi pertumbuhan usia produktif Indonesia yang menjanjikan keuntungan berlipat bagi investor. Belum lagi deregulasi dan relaksasi bablas yang tuan Presiden berikan. Dan untuk ini, tuan Obama rela merayumu, agar bisa berkolaborasi dengan negara-negara super neolib dalam TPT itu. Dan kepada mu kami bertanya tuan presiden, kepada siapa anda berpihak?

Saya teringat penggalan pidato Bung Karno “kita harus merawat jiwa bangsa ini, yaitu ideologi (pancasila & UUD 1945). Ekonomi, politik, sosial dan budaya harus hidup dalam jiwa bangsa kita yang kuat”. Ekonomi konstitusi dan politik konstitusi; itulah jati diri bangsa ini.

Dengan berbagai macam rupa kebijakan ekonominya, pemerintahan Jokowi-JK sedang meranggut jiwa bangsa ini, dari kehidupan ekonomi, politik, sosial dan budaya. Dan jadilah pemerintahan Jokowi-JK ini sebagai “neolib yang kaffah”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *