Berpakaian Adalah Identitas Kultural

Berpakaian Adalah Identitas Kultural

Berpaaian adalah identitas kultural; sebahagian orang juga menganggap berpakaian adalah perilaku; atau enitas agama. Sebagai identitas kultural, maka ada nilai yang terlucuti, ketika kita gagap dalam menyandingkan nilai-nilai kultural dan modernitas yang fashionable itu.

Tapi lagi-lagi, modernitas yang fashionable itu, tidak memaksa kita merasionalkan, bahwa orang setengah telanjang juga bagian dari kreasi penyatuan kultur dan modernitas yang fashionable. Ada argument yang berkembang saat ini, bahwa “orang berpakaian setengah telanjang itu tidak porno, dan yang prono adalah orang yang berpendapat demikian, karena mind-set nya telah digelayuti hal-hal cabul”.

Jadi tidak mengapa, ketika di ruang publik (terbuka), ada orang berpakaian, tapi seperti tidak berpakaian, dan meski sisi-sisi vital tubuhnya merampas imajinasi anda ke suatu titik gairah yang meyala-nyala. Kita tak perlu membungkus kemunafikan itu, dan setiap orang akan mengalami goncangan demikian. Saya pun sering !

Karenyanya, kenapa berpakaian, mendapat kedudukan atau diangkat derajatnya sebagai identitas peradaban? Bahkan menjadi entitas agama? Lihatlah pada masa lalu, betapa pakaian menjadi pesan simbol, yang memberikan isarat nilai begitu kuat dari sisi peradaban. Saya berfikir, modernitas itu membuat orang makin rasional. Dan berpakaian adalah tolak ukur rasional, baik setiap orang tidak ingin telanjang.

Mengapa batik mendapatkan kedudukan sebagai suatu dimensi nasionalitas? Itu karena batik, bukanlah fashion an sich, tapi ada nilai-nilai (kultural) yang menyertaianya. Makanya batin dianggap menjadi bagian identitas bangsa ini. Modernitas itu tidak berperan sebagai hal baru yang melucuti nilai-nilai sebelumnya (Modernitas tidak dalam posisi menggantikan nilai lama dengan nilai yang baru).

Modernitas adalah pergeseran pola pikir dan budaya, yang mendorong manusia (suatau masyarakat) agar cenderung pada perubahan ke arah lebih baik, berfikir objektif, inovatif, dan condong pada kemajuan ilmu pengetahuan dan sins. Modernitas meniscayakan perubahan. Tidak lebih dari itu. Dan selebihnya adalah hanya soal-soal kapitalisme dan pasar, dalam kaitannya dengan dunia fashion.

Hematnya, kapitalisme dan pasar tidak hanya mencaplok setiap ruang publik sebagai marketing (iklan dll), tapi juga mengkapling tubuh manusia sebagai lapak (market space) yang menguntungkan. Dunia fashion, bisa mencaplok setiap jengkal tubuh manusia sebagai tempat iklan dan show atas temuan-temuan baru dunia fashion.

Jadi hegemoni pasar itu, menganggap tubuh manusia adalah komoditas (commodity), yang bisa diekspose dan diperas sedemikian rupa untuk kepentingan industri fashion. Dalam logika pasar, keuntungan bisa mendudukkan manusia seperti benda mati, yang bisa dipajang dan dipertontonkan sedemikian rupa dan kapan saja di ruang publik (konsumen). Tubuh manusia bisa digunakan dan dicampakkan kapan saja bila menguntungkan.

Tentu, secara ekonomi, kita bisa menerima hukum-hukum supply and demand, bahwa dalam dunia fashion, tubuh manusia adalah bagian dari variable hukum supply and demand. Semakin kuat suatu brand dikemas dalam image ketubuhan manusia (seksi, bahenol, erotis dll), semakin tinggi tingkat permintaan (demand) produk atau brand tersebut.

Karena tubuh sebagai lapak iklan dan komoditas itulah, kenapa di Barat sana, kaum selebritis dan kawan-kawannya mengasuransikan seluruh bagian tubuhnya. Jadi dari hidung, bibir, kaki, tangan, payudara hingga bokong adalah komoditas yang diasuransikan.

Berbeda dengan hukum-hukum ekonomi itu, adat, budaya dan agama, menghela tubuh manusia, sebagai unsur etik dan spiritual. Meskipun dalam lakonnya, kerap kaum perempuan condong dirugikan, menjadi simbol-simbol pengorbanan ritual dan stigma. Tapi khususnya agama (apappun agamanya), meletakkan tubuh manusia, sebagai dimensi spiritual (kesucian), maka tubuh manusia dalam perintah agama, dianjurkan agar diasupi dengan “makanan yang halal lagi baik”, agar dapat bersenyawa dengan unsur ruhiyahnya dalam mengarahkan manusia ke arah yang lebih baik.

Kembali ke soal pakaian, bahwa pentingnya berpakaian serta menjaga nilai-nilai yang menyertainya, maka dalam adat, dan agama, cara dan tetek-bengek berpakaian itu diatur secara khusus, termasuk dimensi etiknya. Semuanya dalam rangka menjaga nilai-nilai yang menyertaianya. Sampai hari ini, mayoritas dunia fashion gagal modern itu, sulit kita meraba dimana basis nilainya. Apakah an sich bisnis, atau mewakili nilai yang mana?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *