NDP HMI Dan Teatrikal Perdebatan

NDP HMI Dan Teatrikal Perdebatan

Sejak tiga Kongres HMI sebelumnya, wacana rekonstruksi Nilai Dasar Perjuangan [NDP] tak kunjung selesai. Ini seakan menjadi beban ideologi HMI. Bermacam-macam perdebatan sudah terjadi. Dari kritik soal world view NDP, hingga kritik terhadap NDP yang terlalu kenyang dan bega dengan mazhab-mazhab pendatang baru yang disumpal ke bab per bab NDP [terutama BAB I]. Menurut saya, mazhab-mazhab itu tak perlu menjadi core NDP. Beragam mazhab itu cukup menjadi suplemen, sebagai energi teoritis untuk menyemangati aspek akademis nilai-nilai dasar yang ada pada bab-bab NDP.

Sejak saya ikuti rekonstruksi NDP di Mataram-NTB [Era Ketum PB HMI Hasanudin], konsep NDP, terlalu menderita oleh berbagai rupa mazhab dan aliran pemikiran yang dipaksakan. Seakan-akan NDP harus tunduk pada dialektika teori-teori itu. Padahal, NDP adalah the value of life, dalam skema agama [Islam] dan negara-bangsa [Indonesia].

NDP adalah suatu wadah konsepsi ideologi perjuangan, yang digali dari wahyu-wahyu [Al qur’an] yang relevan dengan kondisi sosial kultural Indonesia. NDP harus menjadi teks ideologi yang merdeka. Tidak bisa melulu rasionalisme positivistik an sich, juga tidak bisa spiritualisme metafisis melulu. NDP harus bisa merangkul semuanya, sebagai suplemen, energi nilai bagi bab per bab dalam NDP.

Tarulah konsep NDP ini lahir dari skema negara orde baru, maka unsur-unsur teologi yang dibangun, tidak an sich teosentris, tapi pasti power sentris; terkait nalar kekuasaan yang menjadikan Pancasila sebagai asas tunggal organisasi. Perubahan NDP ke NIK [pada kongres HMI ke-16 di Padang 1986], adalah pengaruh erupsi ideologi kekuasaan, yang berhamburan ke tubuh dan ideologi perjuangan HMI.

Pecahnya HMI [HMI Dipo dan MPO], adalah konsekuensi tarikan ideologi kekuasaan. Maka untuk merekonstruksinya, unsur-unsur teologisme dalam BAB NDP, cukup dibedah dan di-re-konsepsi dengan kesadaran keindonesiaan tingkat tinggi, agar nilai teologis tak terjamah oleh unsur politik kekuasaan dan dominasi ideologi kekuasaan, sehingga NDP secara ideologi memiliki nilai-nilai yang konsisten dan imanen. Narasi ideologi yang merdeka dan bersenyawa dengan kebutuhan ummat dan bangsa.

Teori dan mazhab, cukup ada dalam bagian filosofi iftitah/muqadimah NDP. Landasan filosofis-teoritik pada iftitah/muqadimah ini, menjadi sandaran bagi seluruh bab-bab yang ada dalam NDP. Bukan sebaliknya, teori dan mazhab-mazhab pemikiran itu serta-merta diselundupkan paksa ke BAB I NDP. Kerangka berfikir itu cuma tools, alat berfikir. Maka lagi-lagi penimbunan teori dan mazhab berfikir pada BAB I NDP itu tak relevan. Hanya melahirkan teatrikal perdebatan, yang akan menjadikan NDP semakin jauh dari konsepsi keislaman dan keindonesian.

Keislaman dan Indonesia, adalah dua dimensi nilai yang unity. Unifikasi dua entitas nilai ini menjadi perlu, agar NDP itu lebih sosiologis, tidak di awang-awang, apalagi sebatas ejakulasi dini terhadap teori-teori perubahan sosial. Lebih parah lagi, bila NDP yang berpihak pada nilai-nilai yang softly ketuhanan dan kemanusiaan, diperjuangkan dengan cara-cara yang brutal dan anarkis oleh kader-kader HMI. Sungguh disayangkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *