Koalisi Sambal Tomat Pecah Kongsi

Koalisi Sambal Tomat Pecah Kongsi

Suatu waktu di jam makan siang, buah tomat secara mengejutkan ingin pecah kongsi dari sambal. Betapa kagetnya rekanan sambal, bahwa kepergian tomat, telah mengaburkan definisi sambal, yang dari dulu dinamakan sambal tomat.

Meskipun di dalam sambal tomat ada cabe (bukan cabe-cabean), bawang, daun bawang, terasi, jeruk nipis dan garam, tapi nama mereka tak pernah disebut oleh penikmat sambal, nama tomatlah yang acap kali mewakili sambal. Dan hingga hari ini, hanya ada satu jenis komponen bahan yang menyaingi sambal tomat, namanya sambal terasi. Ada sambal terasi, tapi tetap, bahan inti sambal terasi adalah tomat juga.

Dalam soal terasi, tomat terkadang mengalah, bahwa terasi punya branding-nya sendiri sebagai sebuah sambal, meski di situ ada tomat. Satu hal yang paling dimurkai tomat, hingga memilih pecah kongsi, yaitu bau terasi yang tajam dan mendominasi, walaupun jenis sambalnya adalah sambal tomat. Tomat pun benci pada cabe rawit, meski kecil tapi rasanya kerap menyengat lidah.

Orang kerap mengeluh pedasnya cabe daripada memuji cita rasa tomat. Tomat seakan hilang dari dominasi terasi dan cabe rawit. Meski namanya sambal tomat, cabe tetap memegang peran penting, karena namanya sambal, sudah pasti pedas. Entah itu pedas sedang dan tingkat tinggi. Harga cabe bisa memicu inflasi nasional, itulah hebatnya cabe. Nama cabe pun menjadi metafora bagi ABG centil yang keluyuran malam-malam di atas motor; namanya cabe-cabean. Cabe yang ini (cabe-cabean), beda rasanya.

Syahdan, ketika tomat mendeklarasi pecah kongsi, definisi sambal kini ingar-bingar tak karuan. Sambal, tak lagi punya kedudukan di lidah para petualang cita rasa, setelah kepergian tomat. Tomat memanglah tomat, semakin busuk aroma, cita rasa dan lezatnya semakin mengolah lidah. Namun kepergian dan pernyataan pecah kongsi di jam makan siang itu, dramatis, membuat panik cabe, bawang dan kawan-kawannya. Mereka tak mungkin jadi sambal sendiri-sendiri, terkecuali terasi.

Beberapa teman tomat ini tak mungkin menjadi sambal sendiri; misalnya sambal cabe, sambal garam, sambal bawang. Sangat tidak mungkin, atau abangnya mustahil ! Hanya terasi yang bisa jadi sambal, itu pun aromanya acapkali jadi underestimate, “uhmmm bauh terasi”, begitulah orang mendengus, sedikit mengumpatnya bila ada bau terasi. Untuk menjadi sambal, itupun terasi tak sendirian, selalu ada tomat di sana. Terasi kadang jadi bahan olok-olokan, “uhmm…badan kamu bau terasi”; berbeda dengan tomat yang selalu mendapatkan tempat positif di mata para konsumennya.

Orang jarang berdengus, uhmm…badanmu bau seperti tomat. Jarang. Hanya satu hal yang bikin tomat turun pamor, ketika harga tomat murah, para petani membuang tomat jualan di comberan dan tempat sampah.

Setelah pecah kongsi, kini tomat jadi jus tomat, dan saos tomat. Ketika menjadi jus tomat, ia dikasi es batu dan sedikit susu cokelat. Di dalam botol saos, ia di kemas dan disegel dengan harga dan nilai [value] ekonomi yang berbeda dari sebelumnya, ketika masih menjadi sambal. Kini tomat lagi senang-senangnya, setelah nilai ekonominya terkerek, menjadi jus dan saos. Tak ada lagi dominasi aroma terasi, dan juga pedasnya cabe rawit.

Inilah politik sambal ! Sambal tak pernah menyembunyikan pedasnya. Dari sejarah sejak adanya sambal, tak pernah ada sambal, yang dimakan hari ini, lalu 10 hari kemudian baru terasa pedasnya dan berkeringat. Sambal tetaplah sambal yang identik dengan rasa pedasnya.

Tak semua orang bisa menikmati sambal. Bagi yang punya masalah dengan lambung, atau punya maag, sebaiknya jangan makan sambal, karena bisa memelintir ususnya, atau membuat ususnya keriting. Tapi bagi yang sudah biasa dengan sambal, makan tanpa sambal seperti ada yang kurang dari menu makanannya.

Saban hari, politik kita seperti sambal, tak menunda kecemasan, apalagi mengumpul kecurigagaan dan tafsir. PAN menciptakan suatu dinamika tanpa basa-basi, seperti cara sambal mentransfer rasa pedas ke lidah para penikmatnya. Langgam politik basa-basi, acap kali mengumpulkan kemunafikan. Sebaiknya jujur seperti sambal, bahwa ia pedas adanya.

Pecah kongsi PAN dari KMP, juga bermanfaat. Mempekerjakan para analis politik yang beberapa bulan ini menganggur, atau puasa komoentar politik, karena tak ada peristiwa luar biasa dalam politik tanah air. Keluarnya PAN dari KMP dan bergabung dengan pemerintahan Oowi Maksudnya Jokowi, seakan menggairahkan lagi selera politik, dari yang memaki, sampai yang mencermati saja.

Saya yang selama ini kurang bahan untuk menulis artikel politik, pun kembali punya nafsu menulis. Terima kasih PAN. Jadilah politik sambal yang benar-benar pedas, jangan sekali-kali menyembunyikan kepedasan itu dijam makan siang atau makan malam. Itu tidak sedap. Selamat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *