Parpol Pasca Ideologi

Dalam bukunya Daniel Bell The End of Ideology, menceritakan kematian ideologi-ideologi di tangan kapitalisme yang rakus dan begal. Dalam konteks kekinian politik Indonesia, pikiran Daniel Bell itu perlu direduksi lebih jauh, bahwa ideologi dalam konteks politik Indonesia, telah mengalami kematian panjang, pasca tahun 60-an hingga 70-an, setelah politik di Indonesia, tak seragam dalam perspektif cammon anemy pasca kolonialisme.

Musuh bersama partai politik saat ini adalah, mempertahankan lapak-lapak keserakahan secara merata, yang menyebabkan fragmen-fragmen politik terbentuk atas dasar pilitik kembali modal dan menumpuk-numpuk kekayaan. Paham ini berlaku secara masal dalam iklim politik tanah air.

Era 60-an hingga 70-an, adalah musim subur tumbuhnya partai politik dengan berbagai jubah ideologi politiknya. Baik dari faksi Islam, nasionalis dan sosialis. Tumbuhnya kesadaran ideologi politik saat itu, adalah sebagai bagian konvergen arah perjuangan partai, dan menyebabkan persinggungan politik antar faksi politik, berlangsung secara terbuka vis a vis secara ideologis dan produktif. Berbagai buku dan riset lahir untuk membedah secara menarik peta ideologi politik Indonesia kala itu; berikut pikiran-pikiran brilian yang lahir atasnya.

Maka ketegangan politik yang acap kali terjadi, adalah pertentangan-pertentangan aliran, mazhab serta ideologi yang menguras pengetahuan serta kedalaman wawasan yang meng-unifikasi arah perjuangan partai. Mereka-mereka yang lahir pada masa itu, memiliki pikiran yang kuat, dan ideologis; lalu sekarang sekarang?

Kentalnya ideologisasi partai, serta arah perjuangan partai yang kuat kala itu untuk rakyat dan negara, telah mengeliminasi aspek-aspek pragmatis kekuasaan.Dan berbeda dengan saat ini, dimana fragmen-fragmen politik lebih disebabkan oleh pengorganisasian kelompok politisi rakus, tamak, serakah dan loba dalam kelompok-kelompok instan dan pragmatis, yang memanfaatkan politik kekuasaan sebagai tempat mewariskan kerakusan pada anak cucu dan keturunan selanjutnya dalam kekangan trah yang sarat primordialisme.

Melingkar-lingkarnya kelompok Mega-sentris atau trah Megawati di PDIP, atau SBY dan trahnya di Partai Demokrat, adalah fenomena nyata, serta objektifikasi hegemoni garis darah dalam mengkonsolidasi keserekahan di parpol. Tak pelak, fenomena ini diamini oleh kelompok oportunis dan mereka-mereka yang rupa-rupanya cuma cari aman di partai. Praktek demokrasi yang demikian, adalah tabiat-tabiat monarki yang diasapi, dalam rangka mengawetkan feodalisme dalam sistem demokrasi modern.

Pada era 60 sampai 70 an, nama-nama yang muncul di pentas politik seperti Natsir, Hatta, Syahrir Soekarno dll, adalah suatu proses evolusi perjuangan politik yang tumbuh dengan kesadaran nilai dan sejarah. Mereka tidak lahir dari alat reproduksi politik yang nepotism dan kolusif. Maka mereka tumbuh sebagai politisi pejuang seiring terbentungknya negara-bangsa dalam suatu konstruksi ideology of nation yang kuat dan disegani dunia.

Carut-marut politik Indonesia saat ini, tak lebih dari semakin defisitnya ideolog di tubuh partai politik. Akibatnya, kontraksi yang terjadi dalam dinamika politik, sebatas akibat dari gesekan kepentingan pragmatis dan kebutuhan simbiosis-mutalism para politisi. Politik yang miskin nilai dan ideologi, telah menggeser karakter dan tabiat dalam kubangan keserakahan. Negara dan determinasi konsepsi politik, ikut terseret dalam keserakahan yang massif, Parpol pasca ideologi, adalah kehidupan politik yang sungguh mencemaskan. Sungguh !

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *