Si Romli Tua di Kongres HMI

Si Romli kader HMI. Meskipun namanya Romli, ke Kongres HMI ia tak mau dalam rombongan romli. Alasannya, karena istilah romli sendiri yang berarti rombongan liar. Meski Romli tak rela  dibilang romli, alias rombongan liar, ia berkeliaran di Kongres HMI tanpa tujuan. Utusan bukan, peninjau juga bukan. Lalu siapa Romli? Sebenarnya Romli bukan romli, ia kader HMI yang ingin mengecap kemeriahan kongres HMI. Mereka yang kadung di bilang romli ini ada tiga macam tipe : Pertama, romli muda.

Romli muda, adalah anak pasca LK satu, yang sungguh-sungguh ingin menyaksikan kemeriahan kongres HMI. Atau hanya ingin menjadi bagian keramaian. Kedua, romli tua. Romli tua ini berupa-rupa. Ada Romli yang belum puas ber-HMI. Romli yang ini, selalu merasa dirinya masih mahasiswa. Suatu waktu ia bisa menjadi pengurus HMI komisariat, cabang dan PB HMI sekaligus. Tipe Romli serakah.

Tergantung, dari jenjang kepengurusan di HMI itu, mana yang paling menguntungkan dirinya. Maka jangan heran, bila ada romli tua bersiliweran di Kongres HMI. Apa yang mereka cari? Hanya ingin mendapatkan sensasi sebagai romli. Atau masih ingin menjadi pengurus HMI?

Kisah romli, alias rombongan liar, mengingatkan saya pada beberapa Kongres HMI yang liar tanpa konsepsi. Sebaliknya saya membayangkan Kongres HMI 1986 di Padang dan 1999 di Jambi yang begitu berkonsespi.

Dua kongres ini begitu mencerdaskan. Di Kongres 1986, terjadi perubahan asas HMI, dari asas Islam ke Pancasila. Berikut perubahan NDP menjadi NIK. Saya membayangkan, dimasa dua kongres itu, isi kepala seluruh peserta kongres adalah konsepsi tentang arah baru asas organisasi. Perubahan asas ini, berpengaruh secara komprehensif terhadap basis nilai perjuangan HMI.

Dua kongres ini, melahirkan pemetaan ideologi kader, antara relasi HMI dan negara dalam kontes konstelasi negara orde baru dan pasca negara orde baru. Ketika kongres HMI di Jambi pada tahun 1999, terjadi erupsi ideologi HMI. Cabang-cabang yang datang ke Kongres HMI di Jambi, sudah memiliki rumusan asas HMI. Dari sosial religious, agamis nasionalism, asas amal saleh, hingga kembali ke asas Islam atau bertahan dengan asas Pancasila.

Tak luput perdebatan soal kembalinya NDP menggantikan NIK, begitu menguras energi intelektual kader. Romli-romli yang mojok di pinggir arena kongres Jambi, semuanya membolak-balik buku dan melakukan tafsir; kajian tentang asas. Ada bedah buku, seminar asas dan berbagai rupa nutrisi pikiran tentang asas HMI.

Berbeda misalkan dengan Kongres di Pekan Baru saat ini, mungkin Romli-romli tua itu datang dengan memanggul asa, sekedar reunian dengan mantan pacarnya di Kohati, atau sekedar uji coba pengaruhnya di HMI, meski sudah expired pengaruhnya.

Singkat cerita, romli tua datang ke Kongres HMI, hanya menghabiskan jata kupon makan peserta utusan dan peninjau di Kongres. Berbeda dengan kongres 1986 dan 1999, kala itu romli tua dan muda datang membawa otak dan isi otaknya, kini di Kongres HMI 2015, romli tua dan muda datang hanya membawa lambung dan usus kosong, tanpa ide tanpa konsepsi.

Tak heran, jika isu nasi bungkus dan HMI,  menjadi trending seputar Kongres HMI ke-29. Tadinya saya berfikir, trending seputar Kongres HMI ke-29 adalah perseteruan para romli karena berdebat kusir soal begah-nya NDP dengan aliran dan mazhab. Rusuh karena militansi terhadap ide. Bukan karena soal isi perut.

Di kongres HMI ke-29, tak ada common sanse yang menjadi isu kolektif kongres HMI. Semuanya masih berkaitan dengan tema-tema lama yang didaur ulang. Padahal HMI dan pemetaan dunia baru dalam konteks Islam dan keindonesiaan, begitu berjubel menjadi gunungan masalah ummat dan bangsa.

Vis a vis Islam dan tatanan dunia baru, serta konspirasi global tentang Islam, seakan membutuhkan gagasan jalan tengah HMI, untuk melerai ketegangan-tegangan itu. Kita merindukan kader HMI seperti cak Nur, yang bisa melerai ketegangan agama [Islam] dan negara dengan konsepsi-konsepsinya sebagai kader HMI pada masa itu.

Saat ini, negara dan konglomerasi serta kartelisasi sumber-sumber kesejahteraan, menghegemoni otoritas pemerintah. Sumber-sumber kekayaan negara, dikuasai oleh kelompok tertentu. Kondisi ini membutuhkan kritik dan gagasan besar HMI tentang pemerataan dan kesejahteraan. HMI untuk rakyat, adalah tema yang cukup berani, namun dalam praksisnya, seakan jauh dan tak bermanfaat bagi rakyat.

Alkisah hingga akhir Kongres, Romli tua begah dengan berbagai nutrisi dan gizi di Kongres HMI. Datang membawa lambung dan usus kosong, pulang mambawa lambung dan usus yang sudah terisi. Tak peduli apa yang dihasilkan Kongres HMI.

Tahun-tahun berikutnya HMI tak usah berkongres, kalau sekedar memilih ketua umum PB HMI. Kita ganti ketua umumPB HMI dengan Presiden HMI. Bikin saja pemilu langsung HMI. Presiden HMI dipilih melalui mekanisme pemilu langsung. Persyaratan pemilih tak ribet, cukup membawa sertifikat LK I bernomor induk kader terregistrasi di kantor pusat HMI. Presiden HMI di pilih melalui pemilu langsung, pasti tak ada romli. Apalagi romli tua. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *