Perjalanan Kami ke Jejak Peradaban Islam di Pulau Alor

Perjalanan Kami ke Jejak Peradaban Islam di Pulau Alor

Setelah merekam perjalanan bang Yohan dengan beberapa tulisan, ada yang celetuk lewat blackberry messenger (BBM), bahwa ini cuma wisata politik bang Yohan. Kami ingin sampaikan, secara eksplisit rekam perjalanan ini adalah dorongan sebuah visi besar tentang “komunikasi politik yang merakyat”. Bang Yohan turun langsung ke masyarakat mendengar langsung isi hati mereka. Dan ketika di tengah-tengah masyarakat, yang disampaikan adalah gagasan, dan pendidikan politik.

Suatu lakon politik yang hemat kami tak semua politisi/caleg bisa melakukannya. Selama ini, banyak caleg cuma mengirim atribut pemilu dan tak pernah mendatangi konstituennya. Dalam posisi demikian, bang Yohan berbeda dengan kelaziman politik para caleg yang saat ini tengah membiak di musim pemilu. Di titik inilah kita menempatkan bang Yohan dan seluruh rekam perjalanannya menemui rakyat. Jadi ini bukan agenda wisata politik.

Sejujurnya, beberapa waktu ini bang Yohan menumpahkan isi hatinya, bahwa dulunya perjalanan ini adalah sebuah agenda politik pemilu, tapi semakin kesini, perjalanan dari satu desa ke desa lainnya malah menelorkan kesadaran lebih jauh dan dalam tentang keberpihakan pada rakyat kecil, bahkan keluar dari zona politik praktis itu sendiri. Ini pernyataan langsung bang Yohan. Termasuk perjalanan bang Yohan kali ini ke desa Lerabaing.

Ketika di Buraga, para orang tua di sana mengatakan, sebaiknya bang Yohan dan rombongan juga menyempatkan diri ke desa Lerabaing. Konon di sana tempat asal orang Kui. Komposisi orang Buraga adalah rata-rata orang Kui. Di Lerabaing dulunya adalah pusat syi’ar Islam. Dari sisi spiritual, masyarakat Alor dan orang Kui khususnya, mempercayai bahwa desa Lerabaing beserta seluruh artefak peninggalan masa lalu, memiliki karomah yang kuat. Katanya sudah banyak orang yang datang ke sana hanya untuk mengecap berkah dari desa keramat tersebut.

Setelah mendengar cerita masyarakat Buraga, bang Yohan pun memutuskan pergi ke Lerabaing pada Kamis 21 Desember atau besoknya setelah kembali dari Buraga. Ke Lerabaing, bisa di tempuh dengan dua aletrnatif. Bisa langsung dengan motor atau mobil panser melalui jalur darat, atau bisa juga menggunakan perahu motor dari Buraga.

Tapi konsekuensinya, bila lewat jalan darat, membutuhkan perjuangan ekstra, karena jalan ke arah Lerabaing rusaknya jauh lebih para bila dibandingkan dengan jalan dari Moru ke Buraga. Menurut informasi masyarakat Buraga, jalannya rusak parah sepanjang 9 Km.

Esoknya Kamis 21 Desember, bang Yohan memutuskan mengunakan perhau motor dari Buraga ke Lerabaing. Kami pun memulai perjalanan dari Moru dengan menggunakan sepeda motor. Setelah melewati beberapa tempat dari Moru, rasanya ke Buraga dengan sepeda motor jauh lebih nyaman. Cuma risikonya bila jalan yang kami lewati tergerus banjir, karena harus melewati beberapa titik sungai yang aliran airnya cukup deras bila musi hujan. Dan kali ini kami berangkat dengan menerjang hujan yang cukup besar.

Beberapa titik sungai yang kami lewati airnya cukup dalam dan deras alirannya. Kalau tak hati-hati dan lincah, bisa-bisa terhempas oleh derasnya aliran sungai. Namun Alhamdulillah, kami melewati beberapa titik sungai itu dengan selamat. Kira-kira sekitar pukul 17.30 Wita, kami pun sampai di Buraga.

Kami di Buraga tak begitu lama, karena perahu motor tumpangan ke Lerabaing sudah disiapkan Bang Irwan. Bang Irwan ini orang Kui asli. Kami kenal dan dekat dengannya, karena Bang Ir biasa dipanggil adalah senior kami di HMI yang bertugas sebagai PNS di pemda Alor. Kira-kira menjelang magrib, kami pun bertolak dari Buraga ke Lerabaing.

Sore itu saya benar-benar diserang rasa kantuk yang teramat. Baru beberapa menit bertolak dari pantai Buraga, saya sudah tertidur pulas berbantalkan tas pakaian yang empuk. Suasana laut yang teduh dan elusan angin laut yang adem membuat saya terlarut dalam tidur.

Namun tak beberapa lama terbawa dalam tidur pulas, saya dibangunkan Hamid, ia junior saya di HMI yang ikut serta dalam rombongan bang Yohan. Ketika membuka mata, ternyata perahu motor yang kami tumpangi sudah terjebak badai. Pandangan kami tak bisa menjangkau apapun yang ada di sekitar. Langit terlihat hitam pekat dipayungi kabut gelap.

Hembusan angin dan gelombang bertubi-tubi menghantam perahu motor yang kami tumpangi. Satu-satunya yang kami khawatirkan adalah bila perahu motor terkaram di ujung tanjung. Menurut juragan perahu ini, di ujung tanjung itu memiliki dangkal yang jauh menjorok ke laut. Jadi bila tak hati-hati, perahu motor bisa terkaram dan diterjang pecahan gelombang dari laut lepas.

Malam itu posisi kami persis diantara laut Timor dan Alor. Bila salah mengarahkan perahu motor, kami bisa terbawa arus hingga ke Atapupu (Atambua). Kerlipan kilat saja yang bisa membantu kami malam itu. Setiap kerlipan kilat, posisi daratan sedikit terpantau. Perlahan-lahan kami pun berusaha menepi ke pantai Lerabaing.

Tadinya kami sempat salah arah dan kembali ke Buraga. Itu gara-gara ulah bang Irwan. Takut perahu motor terkaram, ia ulang-ulang meneriaki agar perahu diarahkan ke kanan, karena posisi dangkal ada di bagian kiri perahu motor. Namun apa lacur, akibatnya, dengan kondisi gelap gulita di tengah laut, tak disadar posisi perahu motor sudah berbalik kembali ke Buraga.

Lampu penduduk di pesisir yang tadi terlihat dari posisi kiri, malah kini ada di posisi kanan kami. Itu artinya kami kembali lagi ke Buraga. Tapi Alhamdulillah, setelah dua jam dilumat badai di tengah laut, akhirnya kami sampai juga di Lerabaing. Kira-kira tepat pukul 23 Wita lebih sedikit, kami menepi di pantai Lerabaing. Setiba di Lerabaing, perahu motor tak bisa merapat ke pantai. Satu per satu kami pun dimuat ke darat oleh sampan kecil berukuran dua meter itu.

Alhamdulillah, kami bersyukur bisa menginjakkan kaki di Lerabaing. Kampung keramat yang selama ini hanya ditonton di layar TV, dan cuma membacanya di situs-situs berita tentang masjid peninggalan masa lalu yang masih terjaga hingga saat ini.

Malam itu ada rasa gembira bercampur miris. Gembira karena dengan perjalanan jauh dan penuh tantangan bisa menginjakkan kaki di Lerabaing, miris karena merasa Kampung bersejarah ini terlantar oleh hiruk-pikuk pembangunan di Kabupaten Alor. Padahal Masjid Lerabaing acap kali dieksploitasi Pemda Alor sebagai salah satu situs sejarah terdahsyat di Kabupaten Alor.

Masjid Tua peninggalan tahun 1523 di Lerabaing dan Al quran dari kulit kayu di Alor Besar, merupakan icon wisata yang selama ini mengangkat wajah Alor jauh lebih di kenal masyarakat luar NTT, selain keindahan alam bawah lautnya.

Kampung yang menyumbang image kepariwisataan di Alor ini, terlihat lusuh, gelap dan tak tersentuh. Kami tak melihat upaya Pemda Alor menjamah Lerabaing sebagai icon sekaligus wajah peradaban Alor. Tak ada jejak-jejak pembangunan yang terlihat di sana. Di Lerabaing penduduknya hidup dan bersinergis dengan alam.

Makan dari laut, minum dari air pegunungan yang dialirkan ke kampung. Untuk penerangan tiap rumah menggunakan lampu sumbu minyak tanah. Di satu sisi, kondisi ini mempertontonkan orisinalitas sebuah kampung tua, namun di sisi lain ini menggambarkan diskriminasi pembangunan yang mengharukan.

Setelah membersihkan badan dan makan malam, rombongan bang Yohan bersilaturahin dengan imam masjid Lerabaing. Maksud kami bertemu imam masjid adalah untuk minta izin itikaf di masjid. Selain silaturahim dengan warga Lerabaing, kami juga ingin mengecap enigma spiritualitas yang konon menurut warga Lerabaing acapkali menghamburkan aurah magis bagi yang ingin mencelupkan diri lebih jauh.

Meski gelap, malam itu kami melihat posisi masjid Lerabaing agak miring. Setelah mendalami kisah kenapa masjid itu miring baru kami tahu, bahwa dulu masjid tua ini pernah ditembak satu regu angkatan laut Portugis, namun untuk menghindari tembakan itu, posisi masjid menjadi miring.

Meriam asli yang digunakan untuk menghancurkan masjid Lerabaing pun masih tersimpan dalam masjid. Meski akal sehat kita sulit menjangkau kisah ini, tapi bagi saya tak ada yang aneh, bila kuasa Tuhan bekerja seiring amalan-amalan orang-orang suci di zaman itu.

Malam itu sebelum itikaf, kami mengamati detal-detail masjid Lerabaing. Mulai dari interior dan ornamen-ornamen yang menghiasi tiang dan dinding masjid. Dari sisi arsitektur masjid ini sedikit mengikuti gaya arsitektur Jawa, ornamen-ornamennya pun mirip ukiran keraton Jogja. Bang Yohan sempat celetuk, jangan-jangan di Lerabaing ini masih ada hubungan dengan Kerajaan Islam Mataram.

Saya sempat bilang, siapa tau tukang atau arsiteknya dibawa dari Mataram. Namun hingga saat ini tak ada satu pun riset sejarah yang menceritakan keterkaitan kerajaan Islam Mataram di pulau Alor. Yang kita tahu, Islam di Alor ini dibawa oleh para mubaligh dari Maluku-Ternate.

Masjid ini memiliki empat tiang utama. Sama seperti masjid agung Demak, dimana bangunan induk memiliki empat tiang utama yang disebut saka guru. Kempat tiang ini cuma dihubungkan begitu saja dengan kerangka masjid lainnya. Tak mengunakan pasak atau paku. Dinding dan masjid dibuat dari pelepah tuak.

Sementara lantainya menggunakan potongan bambu yang dibentang begitu saja. Semua sisi masjid masih orisinal. Hanya atapnya saja yang direnovasi karena lapuk termakan usia beratus tahun. Masjid ini berdiri tahun 1523, sejak sultan Kima Gogo mendarat di Lerabaing dalam misi membawa Syiar Islam.

Menurut beberapa catatan sejarah, Pada tahun 1523 tibalah lima orang bersaudara dari Ternate bernama Iang Gogo, Kima Gogo, Karim Gogo, Sulaiman Gogo dan Yunus Gogo disertai seorang mubaligh lainnya bernama Abdullah. Mereka memiliki misi yang sama yaitu menyebarkan ajaran Islam di kepulauan Alor. Untuk mencapai tujuan ini, mereka berpisah dan menyebar ke berbagai desa di Alor. Iang Gogo menetap di Bungabali (Alor Besar), Kima Gogo di Malua/Kui/Lerabaing, Karim Gogo di Malaga (nama Portugis untuk Nuha Beng atau Ternate Alor), Sulaiman Gogo di Panje (Pandai) – sebuh desa pantai di ujung paling utara Pulau Pantar, sedangkan Yunus Gogo dan Abdullah menetap di Gelubala, Baranusa.

Malam itu, setelah solat tahyatul masjid dan Isa, kami pun tidur. Sepanjang malam rasanya begitu susah memejamkan mata. Aurah magis yang konon dikisahkan acap kali muncul di di dalam masjid itu mambuat sedikit takut. Bahkan ada warga Lerabaing yang mengingatkan, jangan tidur di pintu masuk masjid atau di mihrab, bisa-bisa tengah malam dipindahkan ke pantai. Tapi Alhamdulillah, dengan kondisi badan yang bersih (fisik) setelah tharah (bersuci) berulang kali. Malam itu saya tak menemukan apapun. Kami tidur pulas hingga subuh. Malam itu hujan turun lebat bak peluru. Setelah solat subuh, kami jalan-jalan mengitari Lerabaing sembari mendengar kisah-kisah setiap tempat dari bang Ir yang merupakan keturunan asli Lerabaing.

Karena bertepatan dengan hari jumat, kami menunda kepulangan. Setelah solat Jumat kami menyempatkan silaturahim dengan penduduk setempat. Tepat pukul 14. 45, kami pun bertolak dari Lerabaing dengan perahu motor. Kami tiba di Buraga pukul 17.10, dan meneruskan perjalanan dengan sepeda motor ke Moru dan lanjut ke Kalabahi.Sepanjang jalan pulang ke Kalabahi, saya berboncengan dengan bang Irwan, kami terjatuh dari motor hingga tiga kali. Ini benar-benar perjuangan.

Perjalanan ini akhirnya tak murni sebatas agenda politik atau berburu hati dan suara rakyat. Tapi sebuah pendakian makna sekaligus memahami lebih jauh sisi-sisi terdalam peliknya kehidupan rakyat kecil yang terpinggirkan. Meski di sisi lain mereka bergelimang nilai dan kearifan. Itu hikmah yang kami dan rombongan bang Yohan temukan di Lerabaing. Lerabaing sebuah kampung kecil di ujung Alor Barat Daya. Posisinya persis di bawah matahari terbit, kampung ini menyimpan energi, menyimpan sejarah, peradaban, syiar sekaligus terselip kisah-kisah magis yang menempatkannya sebagai kampung spiritual. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *