Bukit Panorama Payo

Bukit Panorama Payo

Sumatera Barat menyimpan banyak mutiara. Terutama panorama alamnya. Saya sempat bilang ke Revi teman saya yang asli Minang, di sini (Jorong Gantiang), kita tak perlu kemana-mana, datang ke Sumatera Barat saja mata sudah dimanjakan keindahan alamnya. Tak perlulah ke pusat-pusat destinasi wisata. Setiap sudut Minangkabau adalah keindahan yang tak memiliki batas horizon.

Kendati demikian, tak semua sisi alam bumi Minangkabau tersingkap. Siapa nyana, orang Minang sekalipun tak banyak tahu tempat-tempat tertentu yang menyimpan mutiara keindahan. Salah satunya; di bukit panorama Payo.

Seorang teman dari Minang sempat tanya ketika melihat foto profile BBM saya di puncak bukit Payo. “bang itu foto di mana?” saya membalasnya, “itu foto di puncak Panorama bukit Payo”. Ia pun baru tahu kalau ada tempat seindah bukit Payo. Sesekali anda perlu merasakan sensasi serupa di bukit Payo. Orang Kupang bilang “indahnya tar ada dua.”

Dari ketinggian bukit Payo, kita menyaksikan hamparan sawah, dan bentangan danau Singkarak. Di ketinggian bukit Payo, sesekali kita diselimuti kabut awan. Warga dari bawah lereng bukit acapkali menjadikan puncak bukit Payo sebagai tempat bermain layang-layang. Atau sekedar berselfi ria di puncak bukit dengan latar panorama alam di bawah bukit.

Sore itu sekitar pukul 16 WIB, kami berboncengan empat orang mendaki bukit Payo. Di jalan ke arah bukit, udara dingin terasa menusuk. Tak jauh di bawah lereng bukit, ada waduk air yang masih berfungsi. Penghuni di lereng bukit tak begitu padat.

Hilir-mudik muda-mudi berboncengan meramaikan jalan ke arah puncak bukit Payo. Tak jauh dari ujung lereng bukit ada dua buah rumah di tubir bukit. Pintu kedua rumah itu menghadap danau Singkarak.

Saya membayangkan mata pemilik rumah itu yang tiap pagi dan sorenya dimanjakan panorama alam di bahwa bukit. Tanah yang subur, memuat masyarakat bercocok tanam di sepanjang lereng. Cuma sayangkan bukit panorama Payo tak terurus serius.

Memasuki puncak bukit Payo, nampak sebuah bangunan Musollah kusam tak terurus. Tak ada tanda apa-apa bila tempat itu disentuh tangan pemerintah setempat. Membayangkan puncak Bogor yang setiap hari libur padat-merayap disambangi pengunjung, tak kalah menarik bukit Payo yang menyimpan potensi alam serupa. Alami, indah dan masih menyisahkan keperawanan alam.

Andaikan bukit Payo dikelola dengan baik, kehidupan ekonomi masyarakat di bawah lereng bukit ikut bergairah. Sepanjang jalan berjejal kebun durian, cokelat dan buah sawo.

Dalam perjalaan ke bukit saya hanya berfikir, di lereng bukit ini tak akan ada orang miskin dan kelaparan. Seperti lagu Koesplus; Tongkat dan kayu bisa jadi tanaman. Tanah yang subur adalah rahmat yang dilempar Tuhan ke bumi bernama Sumatera Barat.

Dari pukul 16 hingga menjelang magrib, kami masih di puncak bukit. Minginjak malam, udara makin dingin. Kami pun bergegas pulang, meski masih digoda keindahan panorama di bukit Payo. Sekali berada di puncak bukit Payo, mambuat anda tak akan puas dan terus ingin mencoba sensasi keindahan panorama dari atas bukit Payo. Itu yang saya rasakan.

Andaikan ada tangan kreatif yang menjamah bukit Payo, pasti tempat ini tak sekedar untuk main layang. Tiap minggu banyak pengunjung, bahkan ada yang menginap. Tersedia fila, home stay bahkan hotel. Penduduk di bawa lereng bukit Payo bisa menjual panganan khas Payo dan hasil pertanian. Ekonomi penduduk pun bergairah. Bukit Payo, anugerah yang belum benar-benar disyukuri. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *