Kelok Sembilan Payakumbuh

Kelok Sembilan Payakumbuh

Pukul 09.15 WIB semuanya sudah siap-siap. Air Jorong Gantiang yang dingin membuat saya agak berat hati mandi. Melihat wajah agak kusut dan dekil di cermin, saya hanya basuh muka dan bagian badan tertentu saja.

Sekilas mandi kuda itu usai, saya pun menyebuk keluarga yang sudah siap di mobil. Kami pun meluncur menjemput adik ipar di Bukit Tinggi.

Kira-kira ± satu jam perjalanan kami tiba di Bukit Tinggi, tepatnya parkir di depan Jam Gadang. Jam hadiah Ratu Belanda kepada Rook Maker, sekretaris atau controleur Fort de Kock (sekarang Kota Bukittinggi) pada masa pemerintahan Hindia-Belanda pada tahun 1522 masehi.

Jam Gadang adalah landmark kota Bukit Tinggi. Namun sayangnya, diseputaran lokasi wisata Kota itu dipenuhi pertokoan dan mall. Posisi pertokoan yang ramai, membuat dominasi pemandangan Jam Gadang agak pudar. Layaknya sebagai icon, Jam Gadang harus nampak kokoh dan dominan dari setiap sudutnya, menyimbolkan kedigdayaan sejarah kota Bukit Tinggi.

Lagi-lagi udara di Bukit Tinggi tak kalah dingin dengan Jorong Gantiang. Awan di atas jam gadang terlihat menggumpal. Angin bertiup sedikit kencang, membuat hujan yang nyaris turun agak tertahan dan buyar.

Lambung yang pagi tadi cuma dialas gorengan, pun segerah disengat rasa lapar. Di taman Jam Gadang para pengunjung tumplak di pelataran. Ada yang selfi ria, naik benhur, atau mencicipi kuliner yang dijajakan di sekitar lokasi Jam Gadang.

Udara cukup dingin membuat saya harus hunting kaos kaki dan tangan untuk Amora puteri kecil saya. Rasa lapar yang tak bisa lagi ditampik, segera terisi oleh bakso bakar yang dijajakan sekitar arena Jam Gadang. Sekali beli 20 tusuk bakso bakar lulur bumbu kacang. Tak berapa lama, tusukan bakso bakar itu habis menyelinap ke dalam lambung.

Tak sampai sejam di Jam Gadang, kami pun meluncur ke ruma adik ipar. Tiba di rumah mi Ijun, kami bersih-bersih dan makan siang. Ami Ijun membeli bebek sambal ijo khas Bukit Tinggi. Daging bebek dibaluti sambal cabe hijau. Pedasnya terasa sampai ke gendang telinga. Porsi nasinya jumbo. Ini mitos nasi Padang. Kalau makan di warung nasinya sedikit, tapi kalau dibungkus, porsinya sebakul; jumbo. Sampai sekarang misteri ini belum terpecahkan.

Setelah mandi dan makan siang, kami melanjutkan perjalana ke air terjun yang ada di Kabupaten 50 Kota, tepatnya di Kecamatan Harau. Jaraknya ± 30 km dari Bukit Tinggi. Sempat tertilang polisi dan bebas karena menyogoknya Rp.50 ribu, akhirnya kami tiba juga di lokasi air terjun Harau. Memasuki lokasi air terjun, rasa takjub bercampur heran meliputi pandangan saya. Hampir seluru bukit terjal itu mengalirkan air dari ketinggian.

Panorama bukit yang hijau dengan sumburan air dari ketingian bukit menambah rasa takjub saya pada keindahan lokasi air terjun Harau. Tumplakan pengunjung membuat jalan masuk arena air terjun padat dan macet.

Agak sulit mencari parkiran, namun akhirnya mobil yang kami tumpangi parkir juga di halaman rumah penduduk setempat. Setelah mendapat tempat parkir, kami pun mencari tempat duduk untuk menikmati keindahan air terjun.

Di bagian kiri parkiran, ada air terjun dengan kubik air cukup besar. Saya sempat berfikir, bila di bebeapa titik air terjun itu menjadi sumber listrik hindrolik, tentu bisa menerangi beberapa desa di sekitar air terjun.

Air tumpah dari bukit curam dengan ketinggian kira-kira sekitar 30 meter. Airnya cukup dingin. Saya, Alif dan ponaan Qisti pun mandi dan berenang di kolam tumpahan air terjun. Air yang cukup dingin membuat kami tak lama-lama berada dalam kolam air terjun itu. Qisti dan Alif kedinginan dan menggigil tak karuan.

Cuaca yang mendung pun membuat kami segerah angkat kaki dari lokasi air terjun dan melanjutkan perjalanan ke Kelok Sembilan Payakumbu. Sekitar 13 km dari lokasi air terjun, kami pun tiba di Kelok sembilan.

Disebut kelok sembilan karena kelokan jalannya berjumlah sembilan. Setiap kelok ditopang pancangan beton yang kokoh. Di kelokan paling atas, nampak perbukitan yang saling merangkul mengitari kelokan.

Dari posisi kelokan paling atas, kita bisa melihat mobil yang melintas dari kelokan bagian bawah. Di bibir jalan penduduk menjajakan aneka kuliner. Dari jagung bakar, bakso dan macam-macam makanan. Saya hanya menyeruput kopi kesukaan Luak White Kofie dengan tolakan jagung bakar.

Tak beda dengan lokasi wisata Tanjung Mutiara di Kabupaten Tanah Datar, Air Terjun di Lemba Harau dan Kelok Sembilan sama nasibnya, kurang sentuhan pemerintah daerah. Di lokasi air terjun Harau misalnya, hanya dikelola warga setempat. Di pintu masuk air terjun pun menjadi tempat kerumunan para preman menagih karcis. Padahal pekerjaan itu hanya bisa dikerjakan dua orang.

Sampah plastik pun berserahkan di lokasi air terjun. Penjajah makanan instan yang tak beraturan, membuat lokasi sekitar air terjun kumuh. Fasilitas yang tersedia cuma MCK berlantai kasar tanpa lsitrik di dalamnya.

Beberapa tempat yang pernah saya datangi selama libur tahun baru 2016 di Sumbar, memiliki potensi wisata alam yang luar biasa indahnya. Jika dikelola dengan baik, bisa menjadi varian destinasi yang mendudukan Sumatera Barat sebagai salah satu alternatif destinasi wisata di Indonesia selain Bali. Namun sayangnya, limpahan potensi wisata alam belum disentuh dengan desain ekonomi kreatif yang mumpuni. Menikmati keindahan Kelok Sembilan membuat kami lupa kalau telah dihampiri malam. Sekitar pukul 18 kami keluar dari Kelok Sembilan menuju Bukit Tinggi dan lanjut ke Jorong Gantiang.

Perjalanan yang cukup melelahkan, tapi sesekali keindahan wisata alam air terjun, Kelok Sembilan, terus terlintas mengulang sensasi ketakjuban. Tak ada kata-kata yang terukur dan pantas untuk mengulas satu demi satu keindahan alam Sumatera Barat. Cukup dua jempol sebagai tanda; Ranah Minang tar ada yang lawan indahnya.***

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *