Pesona Desa Baolang

Pesona Desa Baolang

Dari jauh, pasir putih menghampar. Bangunan masjid di bibir pantai, menyimbolkan desa dengan tradisi Islam yang kuat. Sekolah Madrasah Ibtidaiyah nampak kokoh di dataran tinggi kampung Taherang. Masjid berada di posisi lembah. Dua kampung di dataran Tinggi, mengapit Baolang seperti garpu tala; kampung Kabila Onong dan Taherang. Di ujung horizon, nampak pulau Lapang menghadap desa Baolang; pun gunung Nambila yang juga nampak berhadapan dari Kejauhan.

Sepanjang bibir pantai, dari desa Bagang hingga Baolang, terumbu karang seakan mengukir dasar laut yang teduh kebiruan. Mendekati Baolang, gemericik air terjun di Tanirang dan desiran ombak kecil menjalin harmoni suara-suara indah di hamparan pantai.

Pohon nyiur yang menghijau di desa Bagang dan Wai Leing, memanjakan pemandangan. Boca-boca kecil membuang kail, mengais aneka ikan batu. Jejeran batu pagar penjebak ikan, berbaris rapi di sebelah tanjung ke arah Muang.

Momen terbaik adalah menjelang sore, kala matahari tenggelam, bak bersembunyi di balik pulau Lapang. Cahaya senja menabur warna laut merah keemasan. Suara ikan-ikan kecil menyeruak, perahu-perahu nelayan menepi di pantai setelah seharian menangkap ikan.

Suara azan Magrib menggema bersahutan, pun suara buruk gagak bersahutan ikut merobek sepi jelang senja; saat-saat tibanya malam. Hanya riak-riak kecil gelombang memcah keheningan. Suara burung hantu dari ketinggian bukit menambah riuh di hening malam.

Di desa ini dihuni -/+ 500 KK. Mayoritas penduduk Baolang beragama Islam. Satu-satunya sekolah yang ada di sana adalah Madrasah Ibtidai’ayah (MI). Di sekolah ini, telah melahirkan banyak generasi berkualitas. Dari PNS, TNI/Polri, bidang, farmasi hingga dokter. Meski sebuah desa kecil di antara Kabir dan Baranusa, putra-putri daerah Baolang menyebar di senatero Indonesia.

Pendidikan Islam menjadi ciri khas masyarakat Baolang. Jarang sekali orang tua disana menyekolahkan anaknya ke sekolah umum, 1: 100. Setamat MI, biasanya mereka melanjutkan pendidikan di MTs, Aliyah dan ke perguruan Tinggi Islam dengan pilihan konsentrasi sarjana pendidikan Islam atau Sarjana hukum Islam.

Penduduk desa Baolang rata-rata bermata pencaharian petani Ladang. Kalau musim kemarau, ada beberapa yang turun ke laut menagkap ikan. Berladang musiman adalah mata usaha pokok yang telah menghidupi masyarakat Baolang sejak nenek moyang. Keramahtamahan, kultur Islam yang kuat, membuat desa ini berkarakter. Dus hampir setiap tahunnya, desa kecil ini menghasilkan sarjana.

Dari keindahan laut dan pesisir sekitar Baolang, kultur masyarakatnya, Baolang menjadi potensi wisata di Kabupaten Alor yang patut diperhitungkan. Bukan alamnya saja, tapi masyarakat dan budayanya, menjadi objek wisata yang menarik. Sebelah utara dan selatan Baolang, diapit oleh dua objek wisata yang mempesona. Ada Muang, Wai Leing dan Tanirang.

Pesisiri Muang menyimpan wisata alam. Pasir putih yang berhamparan di sepanjang pantai Muang menyimpan sumber air tawar. Cukup menggali pasir dengan kedalaman 30 cm, bermunculan mata air. Sementara Tanirang yang tak begitu jauh dari Baolang ada spot wisata air terjun. Air dari ketinggian bukit yang ditumpahkan langsung ke teluk kecil di bibir pantai.

Desa Baolang di huni dua suku besar, yaitu Karlautuba dan Bittang. Dua suku ini membagi masyarakat dalam pranata adat. Pranata masyarakat berdasarkan suku ini, membagi masyarakat dalam berbagai urusan. Baik urusan agama hingga urusan pemerintahan desa. Masyarakat Baolang, hidup dalam keteraturan adat. Seiring bertambahnya populasi penduduk, Desa Baolang kini dimekarkan. Kampung Bila Onong atau Bila Gammi ini menjadi desa sendiri.

Kelak kita berharap, dengan rencana pembentukan Kabupaten Pantar, desa Baolang bisa menjadi salah satu destinasi wisata. Tentu ini bukan harapan kosong. Dengan sumber daya alam dan manusianya, Baolang sangat siap dikembangkan menjadi kawasan wisata bila kelak Pantar menjadi kabupaten sendiri.[]

2 comments

  1. Albert Puas
    Reply

    Rindu kampung yang merupakan garis keturunan kami…cuman sekali saja saya menginjakan kaki d kampung ini itu pun di tahun 1982…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *