Surga Gunung Sirung dan Pasir Tiga Warna

Surga Gunung Sirung dan Pasir Tiga Warna

Pasir tiga warna; merah, kuning dan biru melukis sepanjang bibir pantai. Dari dalam pasir, terdapat sumber air panas (geyser) sebagai tempat mandi warga setempat. Hijau daun pandan sepanjang pesisir, menambah keelokan pantai Puntaru desa Tude. Desiran ombak memecah di bibir pantai, menyembur campuran pasir berwarna menambah enigma pantai di ujung Pantar Barat itu.

Berhadapan dengan pantai Puntaru, dari kejauhan nampak kampung Sojang; letaknya di sebelah tanjung sebelum pantai Puntaru. Di kampung Sojang terdapat batu masjid. Entah dari mana sejarah muasal batu masjid itu, namun yang jelas menyimpan kisah-kisah keramat dan jejak sejarah kedatangan Islam di pulau Alor. Pantai Puntaru berhadapan langsung dengan horizon; laut lepas. Lautnya yang agak ganas, membuat perahu motor jarang datang ke tempat ini.

Konon katanya para nelayan sering mendengar suara azan dari balik batu masjid Sojang. Puntaru yang letaknya di desa Tude, ada di bawah kaki gunung Sirung. Lahar-lahar bekas semburan gunung Sirung, telah membentuk bebatuan sepanjang aliran air belerang dari atas gunung.

Belerang-belerang berserakan dan tak dimanfaatkan warga. Padahal belerang bermanfaat sebagai bahan aneka industri. Dulu semasa SD, saya, almarhum ayah dan kedua kakak perempuan ke Puntaru untuk mengobati penyakit gatal-gatal dan koreng yang tak kunjung sembuh. Menurut orang di kampung, air belerang bisa menyembuhkan penyakit gatal-gatal dan korengan.

Kami berendam di air panas tepi pantai, sembari membersihkan luka-luka koreng di badan. Setelah itu kami celupkan badan dalam air belerang yang mengalir dari atas gunung Sirung hingga bibir pantai. Perihnya seperti diiris sembilu. Sepanjang perjalanan pulang dari Puntaru, luka-luka menghitam, seperti hangus terbakar belerang.

Waktu itu kami ke Puntaru dengan jalan kaki. Berangkat pukul empat pagi, dan sampai di sana sekitar pukul 11siang. Kedua kalinya ke sana dalam rangka rekreasi bersama pemuda pelajar Baranusa yang merantau ke kota Kupang. Perpaduan gunung Sirung, hutan-hutan di kaki gunung yang hijau dan eksotisme pantai dengan pasir tiga warna di pantai Puntaru, mengombinasikan kesempurnaan alam di bawah kaki gunung Sirung.

Saya belum tahu persis berapa jarak tempuh ke Puntaru, namun jika dengan kenderaan, ± dua jam perjalanan. Sepanjang jalan ke Puntaru, kita melewati beberapa kampung. Kini Puntaru menjadi salah satu objek wisata masyarakat Pantar Barat; khususnya yang menetap di sekitar gunung Sirung.

Tak banyak orang yang tahu soal keindahan pantai Puntaru. Tempat ini menambah koleksi obyek wisata non mainstream yang terhampar sepanjang kabupaten Alor. Watak dan budaya penduduk yang orisinil; masih kuat memegang adat-istiadat serta geografisnya yang masih perawan, tak henti-hentinya membuat para pelancong  yang datang mengagumi keindahan pulau Alor. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *