Kenapa Berita Kompas Mencla-mencle?

Kenapa Berita Kompas Mencla-mencle?

Suatu ketika di Indonesia, kita hanya percaya pada halaman 10 berita surat kabar. Di sana; halaman 10, ada berita duka cita. Selain dari itu, atau halaman-halaman lainya sulit dipercaya kebenarannya. Hari ini, yang kita saksikan, berita media semakin jauh dari fakta dan kebenaran; boro-boro menyampaikan kebenaran atas data dan fakta, kita bahkan hampir sulit mengiris dan memilah mana opini dan berita; plus berita pesanan dan berita menjilat. Hipotesisnya, mungkin kebanyakan wartawan saat ini, adalah para job shaker.

Lama-lama; kemudian halaman 10 surat kabar pun tak bisa lagi dipercaya; saking begitunya media; online dan cetak. Michel Foucault dalam The Archeology of Knowledge, mendiagnosa bahwa kebenaran itu acap kali diproduksi oleh kekuasaan. Maka bisa jadi kini, fakta-fakta yang dikabarkan media mainstream tertentu itu, diproduksi, melalui oligarki untuk sebuah industri opini; untuk mengakali publik demi kepentingan kekuasaan.

Dulu di era rezim orde baru, opini dan propaganda menjadi proyek Kementerian Penerangan (sudah dibubarkan). Selama 30-an tahun memori rakyat Indonesia diperdayai. Media kritis saat itu; diamputasi dan sulit mendapat tempat. Baru bisa lega pasca robohnya rezim orba.

Di rezim orba, pers tak diberi rongga nafas. Dan pasca orba, naga-naganya pers tertentu tengah mencari rahim tempat merengkuh nikmat kekuasaan. Fakta tak lagi dikritisi secara objektif. Bahkan ada media juga yang terang-terangan berperan bak corong kekuasaan. Mengelus-elus, memuja-muja dengan suatu ulasan; yang jika diselami faktanya, sungguh anomali.

Tentu bagi mereka yang masih kritis, tak menutup mata dan terus mencebik   media-media rombeng seperti ini. Bahkan acap kali, media-media kakap pun berprilaku rombeng. Tentu di sudut-sudut pikiran tertentu, media diberi tempat pemakluman sebagai suatu entitas post-totalitarianisme. Tapi kemudian pasca orde baru itu, media menjadi makin dewasa dan tak melulu menikmati hubungan mesra dengan kekuasaan. Pers jangan sampai bermetamorfosa menjadi neo orba dalam bentuk lain, yang menjadi bagian oligarki dan mengeksploitasi memori publik dengan opini-opini dan berita yang tidak jujur dan power-sentris.

Suatu ketika, di sosial media, para pengobrol virtual itu ribut-ribut soal lead berita Koran Kompas dan Sindo Edisi November 2015. Ada perbedaan kontras keduanya dalam memberikan lead  berita soal pertumbuhan ekonomi era Jokowi-JK. Dari judulnya, Kompas seakan setuju dan telan bulat-bulat persepsi pemerintah bahwa ekonomi membaik. Berbanding terbalik lead  berita Sindo soal berita dan sumber yang sama. Tapi pertanyaannya, diri sisi mana Kompas menghitung konversi pertumbuhan ekonomi di era Joowi-JK?

Lah oleh BPS sendiri menyebut kemiskinan meningkat, penyerapan tenaga kerja rendah. Hingga September 2015 kemiskinan meningkat menjadi 28,51 juta atau 11,13% dari total penduduk Indonesia. Namun, jika dibanding periode September 2014 angka terus meningkat. Pada periode September 2014 jumlah penduduk miskin masih sekitar 27,73 juta jiwa‎ atau 10,96% dari penduduk Indonesia. Dibanding September 2015, jumlah penduduk miskin meningkat sekitar 780 ribu jiwa.

BPS juga melaporkan jumlah pengangguran di Indonesia pada Agustus 2015 sebanyak 7,56 juta orang, bertambah 320 ribu orang dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu 7,24 juta jiwa.Pada Agustus 2015, tingkat pengangguran terbuka menurut pendidikan didominasi oleh Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 12,65 persen, disusul Sekolah Menengah Atas sebesar 10,32 persen, Diploma 7,54 persen, Sarjana 6,40 persen, Sekolah Menengah Pertama 6,22 persen, dan Sekolah Dasar ke bawah 2,74 persen.

Jadi kenapa Kompas begitu agresifnya bikin lead berita tendensius? Seakan-akan menjilat pemerintah? Bagaimana mungkin Koran sekelas Kompas bisa begitu? Dengan apa suatu pertumbuhan ekonomi di konversi? Sebagai rakyat biasa (yang awam), secara sederhana saya ingin mengajak Kompas membuat konversi sederhana; bahwa pertumbuhan ekonomi itu idealnya mengonversi perluasan lapangan kerja dan penurunan angka kemiskinan. Jadi tidak benar bila ada pertumbuhan tapi pengangguran menganga dan kemiskinan terkerek.

Pertumbuhan macam apa yang dimaksudkan Kompas dalam lead beritanya?  Apakah Litbang Kompas sudah ter-erosi independensinya? Saya tak perlu menceramahi Kompas dengan pertumbuhan. Jelasnya, dalam logika-logika kritis sederhana saja, Kompas sudah mulai kehilangan arah. Lalu apa bisa Kompas diharapkan sebagai media krtisi yang jujur mengulas fakta dan berpihak pada rakyat?

Jadi, media sekelas Kompas saja sudah mulai mencla-mencle, lalu bagaimana dengan media yang lainnya?Rumusan pertanyaan yang paling mungkin adalah, apakah dalam kategori tertentu, media-media tertentu telah menjadi bagian paroki politik, yang mencoba bermain dalam corak dan langgam berita yang nyleneh;  keluar dari kaida-kaida dan idealisme pers?

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *