Risma : Jalur Independen, Zhong Wan Xie Bernafsu?

Risma : Jalur Independen, Zhong Wan Xie Bernafsu?

Kocohnya Zhong Wan Xie  alias Ahok maju di jalur independen sebagai Cagub DKI 2017 petahana, tak saja memantik orang partai uring-uringan, tapi juga mengorek walikota Surabaya angkat suara. Menanggapi Ahok dalam salah satu wawancaranya, Risma nyeletuk ketika ditanya wartawan. “Dalam agama itu, fatsunnya (etika) tidak boleh minta jabatan. Kenapa tidak independen? Kalau maju melalui independen, berarti saya punya nafsu, makanya saya lewat partai”. Demikian wawancara Risma di balaikota Surabaya pada Jumat, (Viva News Edisi 11/06/16).

Lantas kita bertanya, bernafsukah Ahok memburu jabatan gubernur DKI? Tentu kita tak punya jawaban yang pas, yang kita tahu, gubernur Jakarta bernama Zhong Wan Xie itu sebelumnya memburu kepastian Megawati untuk mencalonkannya lewat Jalur PDIP dalam pilkada DKI 2017.

Namun karena pendek akal dan pendek kesabaran; Zhong Wan Xie mengambil jurus pintas melalui jalur independen. Beratnya Ahok mendulang dukungan partai, hanya karena satu soal, komunikasi politiknya yang buruk dan cenderung menyakiti. Dalam komunikasi politik, Ahok lupa akan falsafah kuno Tionghoa, Shang ren zhi yu tong ru dao ge yang artinya ; Menyakiti orang dengan kata-kata, sakitnya seperti ditusuk oleh Pisau.

Kalau ditimbang-timbang, dalam politik dan pembangunan, sebagai walikota Surabaya, Risma acap kali menggunakan otak kanannya. Memilih jalan persuasif dalam pendekatan pembangunan lebih ditonjolkan. Pun dalam soal politik, otak kanannya benar-benar difungsikan. Tanpa tedeng aling-aling, dukungan partai terhadap Risma dalam pencalonannya sebagai walikota Surabaya petahana mulus-mulus saja. Selain prestasinya, juga komunikasi politiknya yang estetis. Risma tak serupa Ahok yang sering menabuh genderang perang.

Berbeda 180o dengan Risma, Zhong Wan Xie dalam pendekatan politiknya, acapkali grasak-grusuk. Sering mengambil jalan konfrontatif dan destruktif. Otak kirinya lebih banyak difungsikan. Demikian pun dalam kebijakan pembangunan; Ahok lebih suka frontal dan represif  ketimbang memilih jalan persuasif. Dalam politik, ia cenderung menyakiti daripada merawat konsensus. Memilih punya banyak lawan daripada kawan.

Kalau dipikir-pikir; langkah dan kecenderungan politik Ahok ini suatu kelaianan (kondisi abnormal). Ahok acap kali berada di luar trayek mainstream, bikin panggung sendiri, meski kadang itu membuatnya aneh sendiri dan menyakiti banyak pihak. Apakah Itu sebabnya, Zhong Wan Xie suka pindah-pindah partai?

Dalam politik, kalau bisa mengumpulkan satu orang baik-baik, kenapa harus mencari 1000 musuh? Falsafah ini yang kurang dimengerti Ahok. Ia cenderung memilih posisi diametral, kontroversial, karena dari situlah sumber insentif pencitraannya. Karena dari cara-cara kontroversial itulah Ahok memetik buah pencitraan politik. Lantas  Zhong Wan Xie pun oleh pendukungnya diposisikan sebagai tokoh sentral pemberangus mafia birokrasi yang klepto seumur-umur.

Tapi lagi-lagi, hingga hari ini, memori publik tak bisa terkelupas dari “dugaan” keterlibatan Ahok dalam skandal korupsi lahan Sumber Waras (Baca : KPK Terima Hasil Audit BPK Soal Lahan RS Sumber Waras). Hasil audit PBK 2015 menelurkan sejuta tanya pada Ahok itu, serta-merta melunturkan daya lekat kita terhadap sosok Ahok yang acapkali meraung-raung sendiri di ruang publik dalam soal klepto birokrasi. Namun apa lacur, “menepuk air di dulang kena muka sendiri, pun Gajah di pelupuk mata tidak terlihat, semut di seberang lautan nampak jelas.” Ahok tersandera oleh dugaan keterlibatannya dalam skandal Sumber Waras.

Ambisi, represif, komunikasi politik yang buruk serta dugaan keterlibatannya dalam skandal Sumber Waras, adalah sejumlah soal yang menganga depan warga Jakarta. Di Pilkada DKI 2017, Zhong Wan Xie  membutuhkan mesin buldoser yang bisa menyapu rata semua halang-rintang terhadapnya, Ahok membutuhkan diterjen politik yang cukup, untuk bersih-bersih segala stigma yang lekat padanya. Begitukah?

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *