Di Tangan Ahok, Hanura, PKB dan Nasdem Dibonsai?

Di Tangan Ahok, Hanura, PKB dan Nasdem Dibonsai?

Hanura, PKB dan Nasdem tengah berupaya menyedot popularitas Ahok di pilkada DKI Jakarta 2017. Bagi partai-partai yang kurang percaya diri (PD), gelembung kosong pencitraan adalah sesuatu yang perlu. Dan ketiga partai ini, tengah menikmati sensasi itu, mereguk simpati sekelompok orang pada Ahok yang sedang heroik di tengah-tengah publik berakun anonim.

Mereka; virtual army berakun palsu bin anonim loyalis Ahok itu, acap kali mem-bully siapapun yang diametral dengan Ahok. Tanpa memandang, bahwa kritik adalah suatu kondisi antara menuju pencarian kebenaran. Tanpa peduli, nalar kritis adalah metodologi yang halal dalam mencari kebenaran . Merekalah generasi oportunis, penjilat, inlander dan acap kali memilih jalur mainstream, ketimbang di luar mainstream.

Mereka seakan menjadi muda-mudi yang miskin identitas, dan mencari pengukuhan sosial dengan cara-cara yang latah. Mereka lahir untuk memenuhi ciri masyaraat post kolonialisme, memilih menjadi bagian subordinat, dari suatu kepongahan pemilik modal (capitalis) dan kelas sosial mapan yang kini ramai-ramai mengorbitkan diri di politik. Mereka gerombolan anonim itu, acapkali membusung dan memukul-mukul dada anti rasis, tapi bersamaan dengan itu, menjadi pasukan bayaran pemodal, yang luntang-lantung di mall-mall mewah menjadi sales politik untuk politik kelas sosial tertentu.

Mereka sumringah, dengan “sumbangan setengah gratifikasi” bernilai miliaran untuk Ahok, sementara di pelosok Jawa ada orang tiap harinya tragis mengunya nasi aking, dan juga kawasan Timur Indonesia NTT dan NTB, ada sekelompok rakyat yang kerap didera busung lapar.

Mari bertanya pada nuranimu Ahok dan bala tentaramu, siapa yang lebih berhak mendapatkan sumbangan miliaran itu? Apakah engkau Ahok, yang duduk di kursi kebesaran, dengan tulunjukmu yang acap kali kau sasarkan ke layar kamera penuh kediktatoran sebagai simbol keangkuhan? Tanyakan pada hati nurani (Hanura) mu, bahwa siapakah yang secara sosial berhak menerima sumbangan itu? Siapa? Engkau atau rakyat miskin itu?

Membayangkan partai yang memasrahkan eksistensi politiknya di tengah-tengah gerombolan anonim, adalah sesuatu yang anomali. Tiga partai besar, yang lahir dari sejarahnya masing-masing, dibikin kikuk oleh hegemoni virtual sekelompok Ahok fans club berakun palsu. Paling tidak, sikap politik tiga partai itu, sebagai reaksi kekinian, menanggapi fenomena politik Ahok dengan seluruh corak dan tabiat sebagai suatu yang dianggap mainstream dan digandrungi. Demikian pun mulut kotor Ahok yang oleh sekelompok orang sudah begitu permisif. Di luar dari itu dianggap musuh.

Salah melangkah di bully, dicitrakan rasis, diskriminatif dan pembelahan-pembelahan primordial lainnya yang menyudutkan. Ketakukan itu membuncah, seiring produksi opini oleh media-media mainstream bermodal tambun yang menempatkan Ahok begitu ma’sum alias bersih tanpa dosa. Seakan ada zona hitam-putih di Pilkada DKI 2017. Pendukung Ahok adalah kelompok orang-orang bersih, dan selainnya adalah busuk dan kotor.

Padahal sangat mudah meletakan gerombolan anonim ini dengan suatu identifikasi yang detail tentang corak dan cara mengomunikasikan Ahok ke publik. Mayoritasnya adalah sekelompok orang yang teralienasi dari kehidupan dan pergaulan politik, lalu mengompensasikan keteralienasiannya dengan menempatkan Ahok sebagai segala-gala untuk dirinya. Atau mereka-mereka pendatang baru, yang gagap politik dan memperlihatkan fundamentalisme dukungan politik kepada figur yang taklidkan. Mereka tak bedanya seperti kaum Nabi Nuh, yang menyusun boneka sapi dari potongan roti lalu dianggapnya tuhan (t). Begitulah gambaran Ahok bagi hamba sahayanya.

Saya menganggapnya wajar. Di tengah kondisi masyarakat yang tengah mengalami kekosongan harapan akibat presidennya yang tak mampu memberikan jiwa bagi bangsa ini, masing-masing orang mencari sikap dan membentuk watak berpolitik. Bagi mereka yang getas, sering melahirkan paroki politik, menganggap dirinya adalah kelompok minoritas yang terzalimi, lalu bangkit mengusung perlawanan-perlawanan fundamental terhadap musuh impersonal yang dibikinya sendiri. Disitulah cara mereka menikmati kekosongan jiwa, dan kehilangan harapan politik.

Lihatlah akun-akun anonim Ahok fans club itu, siapa musuhnya? Dan siapa lawan-lawannya yang rasis dan diskriminatif?  Mereka menciptakan musuh imajiner, lalu dengannya mencoba memantik riak dan simpatik. Kasihan para fans club anonim itu, masih pakai ilmu lama.

Maka saya tak begitu heran, kenapa mereka sampai engap-engap memberhalakan Ahok. Rela kaki di atas, kepala di bawah, asalkan Ahok bebas dari kritik. Apakah kepada mereka-mereka inilah, tiga partai besar  PKB, Hanura dan Nasdem memasrahakan diri?

PKB yang sempat menggoreng Ahmad Dani, ternyata akhirnyanya keok dibuli habis-habisan gerombolan akun anonim, karena musisi itu lebih banyak kontroversinya daripada diterima publik. Nasdem yang miskin figur; tokoh, pagi buta menyodorkan dukungan maski belakangan di lini masa, digadang-gadang ada “sesuatu?” Pun Hanura yang serupa, menyerahkan badan pada Teman Ahok, sampai katanya rela kehilangan kadernya di DKI. Pertanyaan paling bodoh, dari orang paling bodoh, buta dan tuli terhadap politik adalah, sebegitu naifkah parpol mendukung calon independen?

PDIP yang mahir bermain langkah, lihai mengelola logika politik. Belum apa-apa, seakan-akan sudah memagari diri dengan tembok “deparpolisasi.” Derajat politiknya terangkat, Ahok dipecundangi, meski harap-harap cemas didukung PDIP, akhirnya memble dan kembali ke lapak Teman Ahok.

Siapa nyana, kelak PDIP kembali mendukung Ahok di ujung waktu. Memegang kaki dan tangan Ahok, dan tampil sebagai pendukung Ahok paling heroik. Dan Akhirnya Nasdem, Hanura dan PKB menjadi bonsai di taman politik bikinan Teman Ahok. Saat PDIP mendukung Ahok, dan saat itulah Teman Ahok, bagai buih di laut. Menguap pergi dibawa arus ke ujung horizon.

Tadinya PAN ancang-ancang mendukung Ahok, tapi segera sadar, setelah diingatkan para kader, bahwa mulut Ahok, adalah cerminan hatinya. Mulut Ahok yang acapkali kotor di muka publik, tak mungkin lepas dari gerak hatinya. Reaksi mulut, otak dan hati, adalah suatu gerak simultan akhlak seseorang, yang acap kali menunjukkan pada kita sifat dan watak dasar seseorang pemimpin.

PAN mengatur ulang ritme politik, mencoba peruntungan mencari “kandidat gubernur tengahan.” PAN bersungguh-sungguh keluar dari “blockade politik agama” yang membelah orang per orang dengan politik identitas yang menyesatkan. Dan entah siapa pelakunya? Coba tanyakan pada teman Ahok. PAN ingin keluar dari pelabelan politik yang sesat. Seakan Ahok datang dari kelompok minoritas (Cina-Kristen) sementara Yusril dan Adiyaksa adalah “kelompok ultra islamis.” PAN ingin keluar dari anggapan diamteral kristen fundamental politik vs Islam fundamental politik, karena sesungguhnya ini racun demokrasi. Meskipun dalam demokrasi setiap kelompok bebas merawat identitas primordialnya.

Setali tiga uang dengan PDIP, meskipun sebagai parti tengah berhaluan nasionalis, PAN tak mau kerdil, apalagi dibonsai oleh segerembolan Teman Ahok, atau oleh pendukung anonim, yang grasak-grusuk tak ada tujuan di lini masa. Katanya mendukung Ahok, tapi nyatanya tak mampu menjembatani kritik terhadap Ahok pada trayek yang obyektif dan positif. Begitulah pasukan bayaran? selalu klise. Yang penting untung. Tak ada identi-tas, tak perlu kuali-tas yang penting isi tas?. Merdeka !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *