Ikan Manyung dan Tahu Gimbal Semarang

Ikan Manyung dan Tahu Gimbal Semarang

Ikan Manyung, sentannya kental. Pedasnya seperti meledak sesaat, ketika kuliner khas Semarang itu masuk ke mulut. Bermodal google map, bersama supir taxi Expres, saya menelusuri ikan Manyung bu Fat, yang konon menurut orang-orang Semarang, santan plus pedasnya gila.

Saya memperkenalkan diri pada sopir taxi sebagai orang Timur yang rantau di Jakarta. Ke Semarang karena urusan keluarga. Sekejap si sopir nyeletuk, orang Timur suka kuliner pedas berkuah santan. Sontak saya mengiayakan. “Lalu dimana mas, kuliner Semarang, yang toleran dengan lida orang Timur?” Saya menimpali si supir.

Kami pun berkeliling sekitar 15-20 menit keliling kota Semarang; dan akhirnya tiba di depot Bu Fat, yang spesial menyajikan ikan Manyung racikan Semarang asli.Siang itu tak begitu macet,karena tanggal 5-6 Mei 2016 itu tanggal merah; hari libur.Jalan-jalan utama di kota Semarang tak begitu padat; macet.

Sejenak sebelum memesan, saya baca di google tentang ikan Manyung. Agaknya sedikit alot, bahwa ikan Manyung itu dari Kudus, tapi orang Semarang menyebutnya khas Semarang. Tak penting bagi saya muasal primordial ikan Manyung, Dari pada pulang dan penasaran di Jakarta, lebih baik berburu dan nikmati ikan Manyung. Saya tak mau repot dengan KTP serta alamat asli dan palsu ikan Manyung.

Bangunan depot bu Fat sederhana. Ruangannya di bagi dua, yang satu tempat makan biasa, dan sebelahnya ruang makan VIP. Full AC. Meja dan kursi dari jati berukiran khas Jawa. Sebelum duduk, saya melongo ke dalam lemari kaca, tempat menyimpan aneka lauk. Indera penciuman saya langsung disergap bau ikan asap yang menusuk. Kening saya sempat berkerut dan terdecak.

Kata si Mba “ini ikan Manyung mas.” Pucuk dicinta ulam pun tiba. Segera saja saya memesan ikan Manyung. Bagian kepala ikan seharga Rp.50 ribu, sementara bagian tegah daging, per potong Rp.15 ribu. Tentu, bagian kepala ikan yang besar itu, tak bisa ditampung lambung saya. Lantas saya cuma memesan bagian daging tengah. Tak lupa tempe mendoan, sambal tomat dan juga sayur bayam sebagai lauk pengantar. Ada juga tahu bacam, cuma saya meminta cukup satu potong.

Daging ikan Manyung beraroma asap. Rasanya asam di ujung lida. Kuah kental, diiringi rasa pedas meledak, seperti letupan dinamik di tengah-tengah lida. Karena gurihnya, saya perlambat mengunya, biar serapan cita rasanya endap dimulut. Ingin memperlama gurihnya ikan Manyung dimulut.

Mestinya, cita rasa gurih dan pedas ikan Manyung yang saling berburu itu, memacu kerja organ metabolisme dan berkeringat. Namun karena di tempat ber AC, sesaat saja saya menyeka keringat yang netes di jidat. Selanjutnya saya terus berpacu mengimbangi selera dan pedas ikan Manyung yang menantang. Dua kali saya nambah, dan rasa gurih ikan manyung terus menggoda siang itu. Sepertinya saya mencapai orgasme cita rasa siang itu berkali-kali.

Malamnya, di Simpang Lima Kota Semarang, kami menikmati suasana malam di tengah Kota Semarang. Hampir satu jam kami melintir di seputar bundaran Simpang Lima. Tak terasa, perut keroncongan. Malam itu saya memesan tahu gimbal. Komposisi bahan tahu gimbal sangat ramai. Karena cahaya lampu kurang terang, juga warna kecap manis berbalur dipermukaan tahu gimbal, saya tak mengenali satu persatu bahan tahu gimbal. Yang jelas, ada tahu, toge, mie, irisan daging, sambal pecal dan kerupuk kulit. Beberapa bahan ini yang familier dengan lida saya. “Tapi rasanya top.”

Dua hari di kota Semarang, cukup mengobati selera kuliner saya. Sudah lama saya tak melakukan perjalanan seperti ini. Di Semarang, seakan mengobati separuh dahaga itu. Meski tak begitu lama dan tak menyisir keunikan-keunikan kuliner Semarang lainnya. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *