Basa-basi Menjelang Kongres BM PAN (part 1)

Basa-basi Menjelang Kongres BM PAN (part 1)

Lorong-lorong ide dari sepenggal waktu menjelang kongres BM PAN masih gelap. Hanya ada riak dan gumam sekelompok kecil yang menyundul ke permukaan dan terdengar lirih dari kejauhan. Tapi kering ide, hambar gagasan, boro-boro visi membangun BM PAN. Setidaknya, riak dan sundulan itu, menyembur ide, atau memperbincangkan BM PAN sebagai kekuatan organik partai. Yang baru muncul hanyalah kasak-kusuk di lorong-lorong sempit dengan arena yang terbatas oleh secuil orang.

Kalau sebatas malu-malu mendeklarasikan diri, itu standar. Yang luar biasa adalah mendeklarasikan ide dan visi BM PAN lima tahun ke depan pasca saudaraku Yandri Susanto. Kita sudah membungkukkan kepala, sembari dua lubang hidung monyong ke depan mengendus partikular ide apa yang berserakan, tapi belum nampak. Jangan sampai, kongres BM PAN ini seperti apa yang dirisaukan Sekjen Ahmad Yohan, asal beda, asal ramai. Demikian pun kandidat-kandidat yang muncul, asal nongol, tapi tanpa sundulan gagasan. BM PAN ini harus menjadi lentera partai, yang tampil paling depan memberikan pencerahan politik dan ide-ide perubahan sosial.

Menurut saya, kalau sungguh-sungguh, mestinya BM PAN ini sebagai suplemen ide partai. Gerakan “social progresif partai” harus muncul dari rahim BM PAN. Kalau kita berkaca, DNA PAN ini berasal dari tradisi perlawanan. Bukan tradisi cari aman. Tradisi perlawanan terhadap struktur social dan politik yang menindas itulah asbabun nuzul PAN lahir pasca robohnya tirani orba. Prasyaratnya adalah harus ada ide sosial kritis. Agar kelak kader BM PAN tak cuma bisa manut-manut pada keadaan.

Setidaknya bang Yandri, sudah meletakkan BM PAN sebagai organisasi modern, berjejaring dan linkage dengan organisasi kepemudaan lainnya. Menjadi pilar penyangga partai, menjembatani semangat kepemudaan partai dengan khalayak partisan. Sebagai ketua umum DPP BM PAN, manuver bang Yandri dalam menjembatani dan merespon isu-isu publik, menjadi dialektika yang cukup diperhitungkan.

Demikian pun Sekjen Ahmad Yohan, beberapa isu-isu publik diresponnya dengan baik. Terbaru, sikap tegasnya dalam menyoal kematian Suyono; terduga teroris yang mati saat di tangani Densus 88. Soal Ahok, Yohan cukup tegas menyoal prilaku fasisme Ahok yang dituduhnya mencederai demokrasi.

Setidaknya dua elit BM PAN cukup melek, peka dengan kondisi sosial obyektif di sekitarnya. Kita butuh kepemimpinan politik kaum muda yang responsif terhadap dinamika sosial di sekitarnya. Menjembatani partai dengan isu publik. Sebagai organisasi orang muda, BM PAN tak membutuhkan pekerja teknis, yang luntang-lantung dari suatu soal teknis ke urusan teknis lainnya. BM PAN membutuhkan suatu sinergi, ide-ide besar yang linier dengan kerja-kerja nyata politik.

Saya menganggap  kongres BM PAN adalah suatu gerak evolusi kesadaran kolektif kader BM PAN, dalam mendorong BM PAN tumbuh besar, sebagai bagian penting sejarah pembaharuan sosial dan politik. Masa depan BM PAN dengan kepemimpinan visioner, adalah menjadi mesin partai, yang mampu melakukan rekayasa sosial untuk suatu pembaharuan demokrasi ke arah yang lebih genuine. Pikiran besar dengan konstruksi ideologi politik yang kuat, kelak BM PAN akan di tempatkan sebagai suatu kelompok gerakan politik yang tidak saja progresif, tapi jenius dalam ide-ide perubahan sosial.

Cara terbaik mengenal tokoh-tokoh pembaharu demokrasi yang lahir dari momentum Kongres BM PAN 2016 adalah, memperdebatkan terus menerus ide-ide pembaharuan para kandidat Ketum BM PAN. Bahkan bila perlu, mendudukkan mereka dalam forum-forum debat dan sejenis, agar kita tak sebatas nyinyir pada isi kantung mereka menjelang kongres, tapi juga isi kepala para kandidat-kandidat itu.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *