Untuknya Cinta Yang Tak Selesai

Untuknya Cinta yang Tak Selesai

Matanya sembab berkilau. badannya semampai–halus. Kulitnya cokelat. Waktu-waktu yang saya tunggui, adalah disaat ia menatap dalam-dalam. Cahaya matanya tajam; menembak tembus persis di hati.

Ia tak tahu; atau “memang tahu”. Bahwa semua tentangnya seperti garis lurus menuju hati. Hati yang selalu untuknya. Hati yang tak pernah ber-kelok sedikitpun darinya. Kami sama-sama menakar hati; dan sadar saling memiliki.

Ia menyayangiku seperti dirinya. Tangan mungilnya selalu di pundakku. Jarinya selalu memungut makanan yang sering tersisah di sebelah pipi. Sentuhannya selalu ku ukur dengan derajat kecintaan yang sangat. Mimpi tentangnya adalah cinta yang terlampau tinggi, hingga sulit diraih.

Waktu-waktu itu adalah yang paling mendebarkan. Enam bulan kami bersama, semuanya indah. Tapi berakhir tanpa ujung.

Kadang rasa sakit ikut membumbung; membakar amarah. Lalu cinta berubah menjadi kebencian—penat dan gerah. Kami putus cinta berkali-kali. Lalu bersama lagi. Kami berpisah dan pergi dengan alasan tak pasti.

Ia hadir dan hilang. Tapi membekas kuat. Bahkan berurat akar di hati. Ia begitu indah. Ia pernah datang di waktu lain.

Disaat rajutan masa lalu itu sudah terurai;kusut. Disaat kehidupan baru mulai direnda, meski dengan benang-benang asmara kusut usai bersamanya.

Hingga kini, kadang ku suka maraba-raba isi dada. Masih adakah seiris hati untuk siapa pun? Atau sudah tertuang di bejana hati dengannya. Ia bawa serta pergi seisi-isinya.

Di kampus berkuba itu, kami menghela keyakinan. Saya bahkan pernah meletakkan asa, di atap masa depan yang paling tinggi. Hingga begitu susah merabanya. Jari-jari terasa pendek untuk meraba, atau menyentuh. Apalagi menggenggam masa depan dengannya. Hingga kini semuanya belum selesai.

Mimpi hidup dengannya. Mimpi anak-anak kami lari dipinggir pantai kampung-ku. Mimpi kaki kecil anak-anak kami mengoyak debu merah di lapangan tempat kecilku. Mimpi ia tengah menyuap putera-puteri kami yang nakal dan lucu.

Bertahun-tahun kami berpisah. Lalu bertemu lagi dengan tanpa alasan. Pertemuan kami hanya karena hukum-hukum waktu yang sederhana. Bukan karena tarik-menarik hati yang lama berserak.

Kini ia jauh. Tak saja soal jarak. Tapi hatinya sulit dijamah. Bahkan susah ditebak, ditempayan yang mana ia letakkan hatinya yang pernah ku miliki? Andai ia tahu..betapa hidup ini masih sepi saja. Seperti senyap dalam kegaduhan. Semuanya berubah, sejak cinta kami terkaram di kampus berkuba itu. []

 

1 comment

  1. Asy'ari Hidayah Hanafi
    Reply

    Senang membaca tulisan-tulisan Abang, terutama kisah ini yang sama persis dengan kisah yang saya alami di Kampus Berkubah itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *