Renungan Jumat; Ahok dan Syariat Inklusif

Islam dalam sejarah dialektika sosial, telah membentangkan syariat inklusif untuk saling hidup berdampingan dalam beragam keyakinan dan faksi sosial di masyarakat. Piagam Madinah, adalah salah satu kodifikasi, sekaligus klausul produk syariat kerasulan Muhammad SAW dengan membawa misi profetik kedamaian di tengah-tengah perbedaan keyakinan masyarakat Madinah yang terdiri dari Islam, Kristen dan Yahudi.

Piagam Madinah juga merupakan suatu prototype produk konstitusi beralaskan kepemimpinan Islam. Piagam Madinah juga merupakan suatu produk konstitusi Islam yang dilahirkan untuk meratakan sekat teologis dan mendudukkan heterogenitas penduduk Madinah dalam suatu perlakuan kewargaan yang sama, dan sebangun dalam perolehan hak sebagai masyarakat.

Syariat inklusif dalam kancah kehidupan masyarakat Madinah di era kerasulan Muhammad SAW, adalah suatu profile keadaban Islam yang bisa digunakan sebagai potret besar keegaliteran dan watak toleransi Islam yang dipancang oleh Muhammad SAW sebagai dasar merawat keragaman. Tapi kemudian, dalam porsi yang lebih spesifik, keharusan-keharusan Islam seperti dalam QS Al maidah ayat : 51 tentang kepemimpinan (atau beragam tafsir terkaitnya), tak perlu dinyinyiri kelompok agama lain sebagai klaim dan tuduhan hidupnya semangat diskriminasi dalam Islam.

QS Al maidah : 51, adalah produk wahyu yang lahir dari lokus, spasi waktu dan keadaan sosial politik tertentu yang dijadikan dasar pertimbangan empirik dan teologis untuk memilih pemimpin dalam Islam. Kelompok atau agama lain, tak perlu sewot dengan keharusan-keharusan wahyu yang sifatnya ultimate dalam Islam.

Masalahnya sederhana, kelompok agama tertentu tak perlu sewot dengan keharusan syariat agama lain. Cukuplah saling memahami dan menghargai identitas teologis berikut keharusan-keharusan syariat masing-masing, tanpa perlu menabrakkan dimensi-dimensi perbedaan dengan tujuan politik sempit.

Hal paling bodoh yang dilakukan Ahok, dan itu tidak pernah dilakukan siapapun tokoh di Indonesia ini adalah, dengan langgam politik temperamental dan membabi buta, Ahok memaksa menabrakkan dirinya dengan dimensi-dimensi wahyu yang sifatnya doktrinal dan ultimate dari agama lain (sementara Ahok bukan seorang muslim). Ini kebodohan sosial dan politik yang pernah ada di Indonesia. Dan itu hanya Ahok yang melakukannya.

Tidak ada satu pun tokoh agama di negeri ini, yang pernah melakukan hal senaif Ahok. Itu karena tokoh-tokoh agama di negeri ini, mereka tahu, seperti apa konsensus bangsa ini sejak berdiri. Mereka tahu persis seperti apa cara merawat kebinekaan bangsa ini, hingga ke hal sekecil apapun dari keragaman Indonesia. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *