Resensi Buku ; Dari Teologi ke Aksi

Judul Buku : Dari Teologi Menuju Aksi
Penulis : Abad Badruzaman
Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, April 2009
Tebal : xv + 303 halaman
Persensi : Munir A.S

 

Dari Teologi Ke Aksi

Nilai kehidupan apapun, selalu memiliki prospek ketuhanan. Baik di ranah sosial, politik, ekonomi serta ranah kehidupan lainnya. Nilai-nilai ketuhanan (teologi) dimaksud, senantiasa menitikberatkan pada relasi Tuhan, manusia dan alam.

Namun, sebagai makhluk mikrokosmos, hubungan Tuhan, manusia dan alam, senantiasa bersiklus pada manusia sebagai pusat orbit kehidupan. Dengan pengertian, manusia adalah objek sirkulasi kebenaran meliputi semua aspek kehidupannya. Sebab itu, setiap nilai teologi, menjadikan kemakmuran hidup manusia sebagai standar kebenaran. Baik nilai yang bersumber dari Tuhan (kitab suci) maunpun manusia (norma, peraturan perundang-undangan lainnya).

Dalam bukunya yang berjudul Dari Teologi Menuju Aksi, Abad Badruzaman membedah tuntas teologi fungsional, dalam memberikan daya dorong keberpihakan dan pembela-an terhadap hak orang-orang lemah yang tertindas. Wujud praksis dari kesadaran ketuhan-an demikian, meniscayakan terciptanya keadilan ekonomi, sosial dan politik bagi ummat manusia.

Masih dalam landscape kesadaran teologi, menukil Asghar Ali Engineer dalam konsep teologi pembebsannya; dijelaskan, kesadaran bertuhan akan menjadi kering dan hilang makna, manakala dalam mendefinisikannya, tak berpihak pada kesejahteraan hidup manusia, terutama kepada mereka-mereka yang lemah”. Banyak ketidakadilan dan penindasan hak orang-orang lemah yang harus dibela dengan kesadaran teologi dimaksud.

Nukilan kajian Asghar Ali Engineer soal teologi di atas, sangat tepat kita jadikan pijakan, sebagaimana ajakan penulis buku ini. Keyakinan pada nilai-nalai teologi saja tak cukup, ketika nilai-nilai tersebut tak dibumisasikan dalam praktek kehidupan sosial. Dan kesadaran demikian, harus mengilhami setiap orang, lebih khusus para pemipin, untuk menjadikan teologi keberpihakan sebagai paradigma utama dalam ideologi kepemimpinannya.

Golongan orang-orang tertindas yang dimaksudkan Abad Badr dalam buku ini, adalah mereka-mereka yang lemah, tak berdaya dan tertindas akibat struktur sosial yang tak adil. Atau mereka-mereka yang terpinggirkan akibat suatu kebijakan penguasa yang tak populis pada masyarakat miskin, anak-anak jalanan, orang-orang lemah yang tergusur dan terintimidasi akibat stigma politik masa lalu.

Munculnya istilah kolompok lemah, karena antonim dari yang kuat. Dalam keadaan yang sebenarnya, dan sesuai prinsip hukum sebab-akibat, tak mungkin ada kaum lemah yang tertindas, jika tak ada kaum kuat yang menindas. Secara umum, pasti ada kaum lemah dan kuat. Akan tetapi, penindasan itu bukanlah sesuatu yang wajar. Manusia diciptakan untuk membumikan keadilan. Dan membebaskan manusia lainnya dari keterbelengguan dari berbagai kezaliman.

Dalam pendekatan apapun, penindasan adalah hal yang tak dibenarkan. Karena mengakibatkan hilangnya rasa kemanusiaan. Kaum lemah yang tertindas akan menjadi terpinggirkan dan menderita, sementara kaum kuat yang menindas akan semakin mapan dan menikmati kesejahteraan hidup secara tidak adil.

Banyak contoh yang telah kita saksikan, bahwa dari ketertindasan tersebut, banyak rakyat di negeri ini yang belum benar-benar menikmati keadilan dan kemakmuran. Mereka terisolir akibat tirani struktur sosial yang despotic. Saat ini, pemimpin dengan nalar teologi pembebasan, sangat diharapkan, agar aspirasi dan histeris orang-orang kecil itu, dapat disuarakan, untuk mendapatkan keadilan yang sepatutnya.

Dalam buku setebal  303 halaman ini, Badruzaman menjelaskan, bahwa yang termasuk golongan tertindas adalah masyarakat dengan status ekonomi rendah. Mereka adalah orang-orang miskin yang tidak diberdayakan. Mereka adalah petani yang tidak dipedulikan, buruh yang dihargai dengan upah yang rendah, pembantu rumah tangga yang dilecehkan atau dianiayah, serta anak-anak jalanan yang kesehariannya dihardik oleh orang-orang kaya, yang setiap harinya selalu berceloteh tentang nasib rakyat”. Tapi seolah buta dan tuli dengan kondisi sosial di sekitarnya.

Melalui buku berjudul Dari Teologi Menuju Aksi; Membela yang Lemah, Menggempur Kesenjangan, penulis hendak mengajak para pembacanya menjadi jiwa-jiwa pembebas penindasan. Dengan tulisannya yang renyah tapi sedikit menggugat, penulis ingin mengajani nurani pembaca, bahkan pemimpin negeri ini, untuk sensitif dan tanggap terhadap nasib orang-orang kecil yang kian hari kian teranggut hak-haknya sebagai manusia. ***

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *