Tubuh Wanita dan Kesucian (Part 2)

Penulis : Munir A.S

Pada bagian pertama artikel saya, telah mengulas ritual-ritual di beberapa tempat menguji kesucian pasangannya di malam pertama. Konstruksi sosial tentang keperawanan begitu sacral dalam suatu pernikahan. Dengan demikian, pernikahan dan keperawanan adalah dua hal saling melekat, menjadi elan dari suatu pernikahan. Tak sedikit rumah tangga yang bubar diawal pasca pernikahan, akibat mendapatkan istri yang tak lagi perawan di malam pertama.

Memang soal keperawanan ini suatu hal yang debatable. Konstruksi sosial tentang keperawanan wanita sebagai simbolisasi kesucian pernikahan diletakkan sepihak dan perempuan acap kali menjadi subjek tunggal yang dijustifikasi terus-menerus. Di lain sisi, ketidakkeperjakaan laki-laki menjadi begitu permisif dalam konstruksi sosial sejak nenek moyang kita.

Begitu banyak laki-laki yang mempersoalkan keperawanan perempuan, namun jarang terjadi perempuan menyoal keperjakaan laki-laki. Bahkan bila 85% laki-laki di Indonesia ingin memperistri wanita yang masih perawan, sebaliknya, jarangnya wanita yang mempersoalkan suami yang masih perjaka.

Dengan pendekatan di atas, maka bila ada persentasi data yang menyebutkan bahwa wanita di Indonesia banyak yang sudah tak perawan, maka begitu rentannya peristiwa perceraian di Indonesia akibat konstruksi sosial yang begitu kuat tentang keperawanan sebagi simbol kesucian wanita dalam institusi pernikahan.

Sebagai contoh, (Lembaga Studi Cinta dan Kemanusiaan serta Pusat Pelatihan Bisnis dan Humaniora) pada tahun 2002 silam menemukan fakta, bahwa dari 1.660 orang responden yang tersebar di 16 perguruan tinggi di kota Yogyakarta, 97,05% dari responden itu mengaku kehilangan keperawanannya dalam periodisasi waktu kuliahnya. Bayangkan bila, persentasi data yang sama juga terjadi di seluruh kampus di Indonesia.

Pada survei ini, populasi data yang diambil adalah dari kalangan mahasiswa. Artinya secara pendidikan dan ekonomi terkategori baik. Bayangkan bila survei yang sama dilakukan di lingkungan masyarakat dengan tingkat kemiskinan yang tinggi dan dililit masalah sosial lainnya. Bisa jadi ditemukan data soal keperawanan yang mencengangkan.

Universitas Iowa, Amerika Serikat, merilis sebuah penelitian menarik tentang hubungan keperawanan dengan keawetan rumah tangga. Hasilnya, wanita yang kehilangan keperawanannya sejak remaja berisiko lebih tinggi untuk bercerai. Penelitian itu menunjukan 31 persen wanita yang tidak perawan berisiko mengalami perceraian pada usia pernikahan yang ke-5, sedangkan 47 persen lainnya bercerai pada usia pernikahan yang ke-10 (Sumber TEMPO 16/6/2011)

Dus konstruksi sosial di malam pertama sebagai titik vital masa depan pernikahan, mau tak mau diterima sebagai suatu kemestian dan kodrat sosial. Meskipun kita acap bertaya, apakah ukuran cinta dan kasih sayang seorang laki-laki pada pasangannya, dibatasi oleh selaput tipis keperawanan; pun jarangnya konstruksi sosial mempersoal keperjakaan laki-laki. Tapi selagi konstruksi sosial ini masih menjadi suatu nilai yang dipegang secara komunal oleh publik, keperawanan tetaplah menjadi ukuran kesucian dalam relasi dan masa depan pernikahan. ***

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *