Apakah Kita Cuma Kerumunan Politik?

Pertama kali saya mendengar dan menyimak terminologi “Kerumunan politik” ini dari Ketua Umum BM PAN Saudaraku Ahmad Yohan. Terminologi ini cukup nyaman di telinga saya; “kerumunan politik.” Dalam beberapa momen diskusi santai, petuah-petuah politik itu acap keluar dari pembicaraan bang Yohan. Setelah itu, berulang-ulang saya menakar terminologi ini dengan genuine, dengan suatu kerja pikiran yang cukup dalam. Dengan harapan, saya bukanlah bagian dari taksonomi kerumunan politik. Semoga.

Tentu, berpolitik, bukan melulu menjadi tempat orang-orang secara bergerombolan ada disuatu tempat; dalam suatu institusi politik, tanpa tahu ihwal apa susungguhnya yang membuat dirinya berada dalam suatu wadah politik. Politik tanpa nilai dan cita-cita.

Lagi-lagi, meminjam istilah bang Yohan, “berpolitik itu tidak asal ada atau tidak asal ramai.” Tentu ada nilai yang diperjuangkan dan ada cita-cita sosial bersama. Semua orang punya cara menggarap dan mengejawantahkan cita-cita sosialnya dalam berpolitik. Terkecuali mereka-mereka yang miskin harapan, boro-boro memiliki cita-cita sosial untuk negeri dan kampung halamannya.

Sebagai anak muda yang masih segar berfikir dan bertindak, disuatu sisi kita menjadi organ mekanis penggerak partai, tapi menjadi perlu adalah, kitapun harus menjadi elemen penting ketika para elit itu membicarakan tentang perjuangan nilai-nilai sosial-politik dalam ranah demokrasi substansial. Jangan sampai dalam ranah politik gagasan, kita tereliminasi atau dianggap remeh-temeh dan melulu ditempatkan sebagai elemen mekanis; sebagai pekerja politik an sich. Jangan sampai.

Mari kita lihat ke belakang, orang-orang muda seperti Soekarno, Hatta, Syahrir dan masih banyak lainnya, mereka selain menjadi elemen mekanis dalam gerakan-gerakan sosial, tapi pikiran-pikiran mereka tajam dan melampaui sejarahnya. Jadi mereka tak melulu sebagai pekerja politik, tapi juga sebagai elit muda pemikir yang mampu memberikan dan memperkaya khazanah politik di zamannya.

Sesekali, kita perlu melakukan suatu gerakan penyadaran; Gerakan Mencemburui Sejarah Pemuda-pemuda Masa lalu. Mereka mampu menjadi elan vital dalam memperjuangan nilai dan cita-cita sosial di zamannya. Kalau mereka bisa, kenapa kita tidak? Mereka memiliki nilai-nilai perjuangan politik yang dipegang secara komunal. Mereka punya musuh bersama dan cita-cita kolektif dalam kancah gerakan kepemudaan.

Sejenak terminologi kerumunan politik itu terdengar sederhana, tapi disimak dan urai, terminologi Kerumunan politik itu seperti telapak tangan yang begitu kuat menampar kesadaran kolektif kita. Bahwa jangan-jangan saat ini, kita sedang menjadi bagian gerombolan, atau kerumunan politik; ada pun tak menggenapi, tak adapun tak mengurangi suatu apapun. Jangan sampai !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *