Sentimentil Sebutan Pribumi

Penulis : Munir A.S (Pribumi)

Kalau kita buka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata sentimental itu berarti ; mengenai sentimen; dipengaruhi oleh rasa sentimen; bersifat menyentuh perasaan: ; 2 mudah terpengaruh oleh perasaan; sangat perasa. Jadi kata Pribumi, yang meledak dalam Pidato Gubernur DKI Anies Baswedan, itu menggahar perasaan para pendukung Ahok-Jarot yang sedang tipis-tipisnya. Tipis sekali. Atau sedang sakit-sakitnya. Sakit sekali !

Jadi; kata pribumi itu, selain menggahar, juga bak sembilu mengiris. Sakit dan perih; semuanya bertumpuk-tumpuk mengujam perasaan. Jadi wajar, kata itu disoal-soal, menjadi suatu diskursus yang rumit. Memori mereka tentang Pilkada, masih saja terkaram di dalam samudera nestapa yang dalam. Dalam sekali.

Ternyata, mereka-mereka yang menyoal kata pribumi di lini masa, orangnya itu-itu juga. Tempo waktu, ketika kata pribumi ini mengudara, mereka yang nyinyir, adalah orang yang sama dalam seteru Pilkada DKI 2017. Mereka adalah korek dan bensin. Memantik-mantik sentimentil publik. Menggiringnya dan membelahnya menjadi sangat dikotomik; bahkan rasial. Dengan diskursus sampah ini, mereka mengiba empati publik.

Mungkin bisa, untuk sebahagian publik yang bermental sinetron. Mudah tergiring oleh narasi. Permainan watak dan gimik. Bagi sebahagian publik, yang perasaan halus, mudah terenyuh oleh framing, dan permainan narasi melodramatik, tapi sebenarnya sampah informasi. Membuat jagat sosial media begitu gaduh dan kumuh.

Konon generasi milinneal yang otaknya terbuka; masih netral; tak punya dendam ideologis masa lalu, mudah dikompori; bahkan diledaki dengan diskursus-diskursus sampah. Seolah-olah ada yang dizalimi karena minoritas, karena etnis atau rasnya. Padahal bodong.

  • Ada 49,0% anak muda yang menguasai jagad sosmed di Indonesia. Lalu lintas diskursus-sampah, acapkali menggunakan mereka-mereka ini, sebagai tempat berseteru. Terjadi penumpukan dan pembengkakan dedam dalam diskurs-diskursus sampah ini. Media-media latah, pun ikut jadi bensin. Jadi kerusakan akut informasi publik, sebenarnya dimulai dari mereka-mereka yang perasaannya sangat tipis; sentimentil dan gagal bangun dari kekelahan yang menampar. Itulah soalnya.

Jadi kata pribumi ini, suatu istilah yang sudah lawas. Kata-kata yang datang dari para kompeni (Belanda). Usianya lebih tua dari mereka-mereka yang cerewet sekali menyoalkannya di lini masa. Memang kata pribumi itu suatu pembedaan bikinan kompeni Belanda, untuk mengidentifikasi, siapa yang ngotot melawan Belanda. Atau sipa-siapa yang tak koperatif dengan kompeni.

Kalau sekarang ada orang nyinyir sekali dengan kata pribumi, berarti dia gagal paham. Dia hanya mengeksploitasi sisi politiknya. Dengan cara membelah-belahnya menjadi sangat rasial. Bukan meng-insight isi kepalanya dengan sejarah perjuangan orang dulu melawan penjajahan; lalu disebut kaum pribumi. Mereka hanya sentimentil. Ceruk memorinya teramat hipokrit, seakan-akan tak memahi istilah pribumi. Kok malah jadi diskursus sampah. Selain gaduh di planet sosemed juga bikin kumuh. Ini pendapat pribadi saya. Jangan sensi deh !

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *