Tubuh dan Kesucian (part 3)

Penulis : Munir A.S

Tubuh dalam lakon masyarakat post-industrialisme, dilihat secara benefit sebagai bagian-bagian ekonomis. Pada elemen-elemen ragawi manusia, melulu dilihat fungsinya secara ekonomis. Tubuh, tak lagi dilihat sebagai wadah yang menampung elemen-elemen spiritual dalam jiwa manusia.

Tubuh yang serta-merta mengalami fungsi ekonomis secara determinan, menjadi barang dan modal, yang terus berputar dan bersiklus mengikuti hukum permintaan dan penawaran (supply dan demand). Sebagai suatu hukum pasar paling tua usianya sebagaimana pernah diperdebatkan Jhon Maynard Keynes dan Arthur Laffer tentang supplay side dan demand side.

Jadi, tubuh yang mengalami fungsi-fungsi ekonomis, dalam dunia fashion, industri hiburan malam dan sex, adalah tubuh yang tergeletak begitu saja sebagai benda atau asset ekonomi, yang berputar atau bersiklus mengikuti hukum-hukum pasar.

Tubuh tanpa jiwa dan atau tubuh tanpa spiritualitas. Faktor alamiah seperti bertambahnya usia dan penuaan sajalah yang bisa menggerus nilai ekonomis dari tubuh yang terkapitalisasikan ini. Semakin tua, semakin terdepak dari hiruk-pikuk pasar hiburan malam dan industri seks

Dalam masyarakat post-indusrialisme, sebagaimana yang ditulis Scot Lash (Hal : 14) dalam Buku Sosiologi Post-modernisme, disebutkan, post-industrialisme merupakan sifat penting dari ekonomi kapitalis kontemporer. Post-modernisme adalah suatu sifat yang sepenuhnya ekonomis; bukan kultural.

Tubuh yang ada dalam era post-industrialisme, sebagaimana pengertian post-industrialisme yang perjelas oleh Scot Lash, adalah suatu tipikal masyarakat dimana seluruh isi otak dan pikirannya, telah dijejali logika pasar, yang meniscayakan, semua yang ada padanya bisa menjadi modal (capital); bisa diperdagangkan. Termasuk bagian tubuh yang bisa dimodalisasikan.

Jadi yang terjadi bukanlah keinginan orang per orang, tapi suatu konstruksi social; suatu cara berfikir yang didominasi oleh cara pandang pasar (market) di era masyarakat post-industrialisme tentang tubuh. Bukan tentang kesucian tubuh ! Jadi tak heran, bila masalah-masalah seperti sex dan hal lain sejenis yang makin permisif, tak lagi terkait persoalan moralitas, bukan persoalan norma agama dan sosial, tapi lebih pada suatu cara pandang (point of view) masyarakat pasca era industrial.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *