Jokowi dan Parodi Pedro Castillo di Bolivia

By : Munir

Pernah nonton film “Our Brand is Crisis? Film recycle dari judul yang sama, pernah diproduksi tahun 2005 oleh Rachel Boynton.  Film ini bercerita tentang strategi kampanye politik  Pedro Castillo  menjadi calon presiden petahana Bolivia tahun 2002. Ini kisah nyata yang difilmkan kembali Rachel Boynton.

Apa jadi, tinggal 90 hari jelang Pilpres di Bolivia, elektabilitas Pedro Castillo  mangkrak di 3%. konsultan politik paling kaliber, Calamity Jane Bodine yang diperankan Sandra Bullock putar otak siang malam hingga dekil karena; jarang mandi.  Dicarilah skenario paling jitu; dikaranglah cerita, seolah-olah Bolivia ditempa krisis. Temanya Our Brand is Crisis. Dan cuma Pedro Castillo  satu-satunya capres yang bisa menyelesaikan krisis itu.

Dalam suatu acara talk show, Pedro Castillo  sebagai capres petahana, dipaksa mewek depan kamera. Mau tak mau ia harus meneteskan air mata. Pasalnya, dalam skenario, Pedro Castillo  harus menangis. Satu atau dua tetes air mata juga tidak apa.

Setidak-tidaknya mewek satu atau dua detik saja juga cukup. Dan pada adegan yang ditunggu-tunggu, tiba-tiba Pedro Castillo meledak mewek pada bagian sin tentang krisis dan kemiskinan rakyat Bolivia di salah satu kota, dengan latar seorang anak perempuan ceding dan dekil.

Tak dinyana, di belakang layar, Calamity Jane, bertepuk tangan sambil jingkrak-jingkrak dengan dua kepal tangan ditinju ke atas, seperti mendongkrak langit. Calamity senang bukan kepalang. Pasalnya, satu hingga dua butir air mata Pedro Castillo berhasil menetes saat shooting. Ini benar-benar sesuai skenario. Pedro  mampu memantik simpati rakyat Bolivia.

Gegara adegan ini, elektabilitas Pedro Castillo terkatrol dalam waktu 10 hari menjadi 10%. Hanya gegara mewek sebentar, elektabilitasnya bergerak kencang mencatuk angka tinggi dari sebelumnya. Tak puas disitu, Calamity Jane memaksa Pedro Castillo mengekploitasi kehidupan keluarganya di layar kaca. Adegannya masih sama, mewek lagi. Untuk mewek yang kedua ini, elektabilitas Pedro naik 19% pada H -24 Pilpres dengan selisih 2% dari lawan-lawannya.

Dengan elektabilitas hasil tipu-tipu begini, petahana Pedro mendabik rivalnya; Gonzalo Sánchez de Lozada saat Pilpres Bolivia berakhir. Ia menang tipis dengan meraih 23,5% suara. Keadaan politikpun makin kecuh-kecah. Padahal, dalam film Our Brand is Crisis ini, lawan Pedro, Gonzalo Sanchez de Lozada, juga menyewa Stan Greenberg. Konsultan politik level dewa yang pernah dikontrak Jokowi saat Pilpres 2014.

Kalau ditilik, semua framing tentang Pedro Castillo, isinya tipu semua. Namanya juga pencitraan, yang dibesar-besarin itu persepsi; image building. Bukan fakta. Dalam adegan itu, Pedro Castillo memainkan drama secara apik. Apa jadi? Setelah Pemilu Bolivia 2002, Pedro Castillo kembali berhutang pada IMF. Padahal saat kampanye, sesumbar janji berbusa-busa pada rakyat Bolivia, tak akan berhutang pada asing bila ia jadi presiden. Pedro Castillo tipu !

 

*** Lempar Sembako

Hari-hari ini, kita disuguhi framing bertubi-tubi. Ada yang hendak dipaksakan–diterima publik. Sekarang ini, industri opini sedang bekerja; membelah publik dalam dua blok ekstrem dan berhadap-hadapan secara diametral. Oligarki media, sedang bekerja atas dasar pasar dan modal. Fakta dikanalisasi; diumpetin sebisa mungkin. Persepsi dibangun sekuat-kuatnya untuk mengadali imajinasi publik.

Yang ada hanyalah personalisasi  yang makin menguat. Sisanya tipu semua. Hasilnya? Tudingan persekusi di car free day (CFD) dan meninggalnya dua bocil di pesta rakyat (29/4), hanya gegara antre nasi kotak-kotak. Ups ! Maksudnya nasi kotak.

Yang terjadi di CFD itu road race politik ! itu peristiwa tabrak menabrak politik yang lumrah ! Dua-duanya pakai kaos politik dengan semiotika yang impresif. Ini juga politik saling gebuk 2019. Persoalannya tidak lagi pada benar-salah, tapi siapa yang tangannya paling cepat gebuk. Di CFD itu memang dua kubu sudah siap baku hantam.

Lalu ada yang tanya begini, jahat mana, tudingan persekusi di CFD atau dua bocil yang merenggang nyawa gegara antre nasi kotak di pesta rakyat? Apakah bagi-bagi nasi ini, kelatahan, mengikuti gaya presiden Jokowi yang suka lempar-lempar Sembako di jalan?

Dalam beberapa bulan terakhir diawal 2018. Presiden kita, Joko Widodo suka bagi-bagi sembako. Padahal, presiden sendiri tak suka bantuan langsung begitu. Makanya, subsidi BBM untuk rakyat miskin dicabut, dan bantuan tunai langsung dipakai bangun infrastruktur.  Selain itu, dengan lempar-lempar sembako, rakyat dilatih mentalnya menjadi pemamah. Lama-lama jadi tabiat. Pemamah. Apa-apa tinggal tunggu lepeh.

Lagi pula, lempar-lempar sembako itu mengingatkan saya tentang tingkah pengunjung Ragunan. Melempar kacang dan makhluk-makhluk di kandang siap mencekau. Entah dengan mulut atau kaki dan tangan. Oleh puteri proklamator Soekarno; Rachmawati, tingkah presiden ini dibilangnya membodohi rakyat.

Jadi tempo bila ada iring-iringan mobil RI-01 lewat, yang ada di memori rakyat adalah sembako. Misalnya begini, saat iringan mobil presiden lewat di salah satu kampung, ada yang keceplosan, “eh, ada sembako lewat !”

Padahal dalam kantung sembako itu isinya paling-paling beras, indomie, susu, terigu dan gula pasir. Kacang ijo juga ada. Dan lagi pula rakyat jangan sering dikasi indomie. Entah rebus, ataupun goreng.

Keseringan makan indomi juga kurang sehat. Usus bisa keriting dan rusak; karena sering kali mengkonsumsi. Sesekali, dalam sembako itu ada buah angur, apel, jeruk, nanas, mangga, melon, naga dan tak luput buah pisang dan juga racun kala jengking. Rakyat miskin juga butuh serat buah dan uang. Agar bisa memperbaiki organ metabolisme dan isi dompet.

Padahal sebenarnya semua ini tipu-tipu saja. Saat sembako dilempar, peristiwa itu palsu semua. Karena diikuti oleh sorotan kamera dan latar music yang dramatik. Di belakang kamera itu ada skenario. Ada orang seperti Calamity Jane Bodine disana. Siap jingkrak-jingkrang dan bilang perfectly ! Seperti di film Our Brand Is Crisis.

Cuma sayangnya, yang begini, dianggap benar. Ada semacam mental disorder. Nipu tapi tak sadar bahwa itu nipu. Oleh Psikolog Ferdinand Dupre (1905), kelainan begini disebut, “Mythomania.” Kebohongan yang dilakukan seseorang bukan dengan tujuan menipu orang lain. Pengidap Mythomania, selalu merasa bahwa kebohongan yang dibuat adalah kebenaran yang nyata. Bukan tipu.

 

*** Stuntman Impor

 Kalau Pedro Castillo gegara mewek elektabilitasnya naik berlipat-lipat di Pilpres Bolivia. Kalau nenek tua; Ratu Elizabeth yang terjun payung; bukan karena bikin citra. Atau cari elektabilitas. Karena memang sampe lebaran monyet; pun dia tetap ratu Inggris; selama oksigen masih nyetok dikerongkongannya.

Tapi presiden Indonesia, ugal-ugalan di jalan dengan motor tanpa nomor pelat polisi itu apa? Meskipun cuma iklan, tapi tak mendidik rakyat. Apalagi pada geng motor ! Apalagi dilakukan seorang kepala negara. Sampai-sampai, Stuntman dalam aksi freestyle di open ceremony Asian Games 2018  itu pun diimpor dari Thailand. Tempo lalu juga ugal-ugalan dengan motor Choppers berjaket mirip Dilan. Entah apa maksud?

Sudah pasti iklan freestyle  pakai moge itu menelan biaya ratusan juta bahkan bisa miliaran rupiah. Iklan mahal dengan stuntman impor itu, dibikin di atas air mata derita rakyat Lombok yang belum kering pasca musibah gempa. Bahkan tadi malam (19/8), sekitar pukul 22.30 Wita, masih terjadi gempa di Lombok.

Kenapa tidak nangis saja sekalian seperti Pedro Castillo dalam Our Brand Is Crisis? Dengan mewek satu atau dua kali seperti arahan Calamity Jane pada Pedro Castillo, “elektabilitas langsung meroket.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *