Diaspora Emak-emak

by : Munir

Dikotomi peran domestik dan publik, mengerangkeng emak-emak berabad-abad lamanya. Gelombang peradaban modern yang serba digital, telah perlahan-lahan menggahar kesadaran emak-emak untuk mengakses isu-isu publik. Pun sebaliknya, mereka mendorong isu-isu dapur ke ruang publik. Sekarang ini, emak-emak zaman now, sudah tau caranya, agar mereka keluar dari mainstream emak-emak konservatif menuju emak-emak inklusif sekaligus progresif. Mereka tau cara memainkan peran publiknya.

Dalam tesis Jennifer M. Vigil, B.A. berjudul, THE “GOOD” MOTHER: IDEOLOGY, IDENTITY AND PERFORMANCE, dengan mengutip Rothman, Chodorow, dan Swidler, dikatakan, ideologi ibu yang baik tidak dipisahkan dari ideologi dan institusi lain. Hal ini dipengaruhi oleh iklim ekonomi dan pemahaman dan penerimaan terhadap peran gender.

Jadi, jika ditilik dari pandangan Jennifer, maka gerakan emak-emak, merupakan bagian dari keterikatan kaum ibu oleh iklim ekonomi. Jika mereka kemudian menjadi arus baru dalam gerakan sosial dan demokrasi di Indonesia, maka itu bagian dari apa yang disebut Jennifer M vigil sebagai “The good mother ideology.”

Sekarang ini, panci, periuk, kuali, ember, sendok, piring, baskom dan semua perabot dapur, sudah menjadi suatu semiotika. Terlebih-lebih dalam soal harga kebutuhan dapur. Semiotika perabut dapur, kini menjadi pesan kuat bagi pengambil kebijakan.

Tahun 2014, sekumpulan emak-emak berkonde dan jilbab, berdiri menunjang poster di halaman Komisi Pemberantasan Korupsi. Mereka memberi sokongan moral pada pimpinan KPK, Bambang Wijayanto yang dikriminalisasi.

Ketika berita itu muncul di tv, bini di rumah melongkok dari dapur, memelototi berita demo emak-emak. Gerakan itu melahirkan solidaritas dan patriotisme emak-emak untuk suatu supremasi hukum. Wal khusus soal pimpinan KPK, BW.

Emak-emak itu, telah keluar dari kungkungan dapur. Mereka merangsak masuk ke ruang civil society. Demokrasi yang patriark dalam langgamnya, menjadi melo dan feminis. Apa soal? Kita memang perlu memberi sentuhan lain pada corak demokrasi.

Emak-emak itu seperti ada di ruang depan demokrasi, merapikan tata letak demokrasi yang congkah-cangkih. Emak-emak itu memberikan pesan, bahwa demokrasi yang terlalu keras dan politicized, justru menyedak demokrasi itu sendiri.

Coba bayangkan, demokrasi itu seperti segelas air, lalu kita minum bersama biji salak. Sebab itulah kita perlu sentuhan lain. Sesuatu yang agak lunak terhadap demokrasi. Agar demokrasi kita itu lebih softness. Enak dipegang, dilepeh bahkan ditelan sekaligus.

Rabu, 18 Juli 2018, sekelompok emak-emak, tergabung dalam Barisan Emak-emak Militan Indonesia (Baremi), mereka datang istana membawa, panci, periuk, kuali, ember, sendok, piring, baskom dan semua perabot dapur ke istana. Mereka datang ke istana karena rasa dongkol yang sudah meluber di ubun-ubun. Pasalnya, harga kebutuhan dapur makin melambung.

Nyinyirnya emak-emak dari dapur merangksak ke ruang publik ini, melahirkan perbendaharaan istilah, “the power of emak-emak.” Kalau tak berlebihan, gerakan emak-emak ini, menjadi arus gerakan baru dalam langgam demokrasi indonesia. Suatu saat, mereka ini menjadi pilar ke empat dari arah gerak demokrasi Indonesia. Bila gerakan emak-emak ini, menjadi terstruktur dan massif.

Seturut itu, ketua MPR angkat suara. Menyambung lidah emak-emak di Sidang Umum MPR 16 Agustus 2018. Dalam SU, kepada Presiden RI Ketua MPR berkata, “Bapak Presiden ini titipan emak-emak titipan rakyat Indonesia agar harga harga terjangkau,”

Dalam diskursus politik dan ekonomi yang tinggi dan belibet, pak Zul menurunkan level omongan. Ditariknya ke level paling bawah; titipan emak-emak, soal dapur. Soal harga macam bentuk bahan masak di dapur.

Di Jakarta, harga daging sapi sudah mencapai Rp 95 ribu per kg. Menurut para pedagang, kenaikan harga daging terjadi hampir setiap hari. Sementara harga cabe rawit juga melonjak menjadi Rp 70 ribu per kg. Padahal, sebelumnya harga cabe rawit masih Rp 60 ribu per kg. Rata-rata kenaikan harga sembako berkisar 20-40%.

Emak-emak tak mau tau soal debt to GDP ratio terhadap utang Indonesia. Atau Total Debt  to Asset  Ratio yang masih aman terhadap utang Indonesia, sehingga mau jual semua BUMN agar bisa ngutang lagi pun emak-emak tak urus. Atau  Standard  and  Poor’s (S&P) yang bilang Indonesia masih di posisi investment grade, sehingga masi boleh ngutang kemana-mana untuk tutup utang. Bagi Emak-emak, yang penting, harga cabai kriting murah. Harga minyak goreng terjangkau. Terasi juga. Demikianpun harga daging sapi jelang Idul Adha.

The power of emak-emak, sudah menjadi arus baru social movement di Indonesia. Punya basis masa, punya basis nilai , THE “GOOD” MOTHER: IDEOLOGY. Hati-hati, kalau emak-emak sudah berdiri menunjang poster, “turunkan Jokowi, ups salah, maksudnya, turunkan harga sembako !”

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *