Politisi dan Ketimpangan Sosial Dalam Dirinya

*** Catatan subuh. By MS

Suatu hari, di sebuah tempat pertemuan, seorang politisi, turun dari Alfa Romeo Giulia dengan sedikit mencongak. Ia baru saja turun, dari mobil Eropa terbaik, selevel BMW 3-Series, Mercedes-Benz C-Class, atau Audi A4. Rambut klimis dengan wajah kinclong, ia melangkah gontai penuh wibawa.

Saat ketika kaki kirinya hendak berojol dari atas mobil, sudah tampak merek Stefano Bemer Shoes di alas kakinya. Dari harga mobil, hingga alas kaki, nilainya selangit. Sudah “M” harganya. Kata teman saya, si bapak itu suka berakrobat tentang data kemiskinan dengan eksekutif saat sidang tentang suatu soal ketimpangan sosial.

Sebelum masuk ke pintu gedung, si bapak menghela lengan jas bermerek Hugo Boss; dengan bahu sedikit mengepak; sembari melihat arloji mengkilat bermerek Rolex Daytona yang melilit pergelangan tangannya. Ia melangkah parlente; dengan semua kemewahan yang ada padanya. Dikawal dua asisten. Yang satu mini sket dengan blazer sedikit terbuka mengumbar belahan dada. Yang satunya lagi; nampak pria metroseksual. Pokoknya good looking kedua sespri itu.

Lantas saya bilang pada teman di samping, “dalam tubuh si bapak politisi itu, terdapat statistik ketimpangan; gini ratio. Dalam dirinya ada gambar ketimpangan sosial yang menganga. Si bapak itu, adalah segregasi yang nyata antara kemewahan politisi dan kemelaratan rakyat. Bahkan sejak berdandan saja, “ia sudah timpang secara sosial.”

Apa kurangnya Bung Hatta? Hingga diakhir hayatnya, ia tak mampu membeli sepatu Bally. Kliping iklan sepatu Bally, hanya jadi tanda baca, pada buku miliknya hingga ia wafat. Ali Sadikin pernah kaget-kaget bukan kepalang, mendengar kabar, mantan Wakil Presiden Mohammad Hatta tak mampu membayar iuran air PAM. Saking kerenya, Hatta juga kesulitan membayar listrik dan uang pajak dan bangunan. Apa kurang hebatnya Hatta sih?

Tapi siapa nyana, Hatta pergi meninggalkan pikiran-pikiran besarnya dan keteladanan yang kuat. Ia lekat pada kesederhanaan dalam taksonomi para politisi kaliber. Ia juga jenius yang saleh. Dalam rekam jejaknyanya, nyaris tak ada cibiran padanya.

Ada benarnya, kesalehan yang genuine, acap kali menampilkan profil keagamaan yang sederhana, sebagai mana corak profetik Rasulullah SAW.
Dalam riwayat dikisahkan, suatu hari Umar bin Khaththab menyaksikan Rasulullah Saw sedang berada di tempat minumnya. Tampaklah guratan-guratan tikar membekas di punggung Rasulullah dan hanya gantangan gandum yang tergantung di rumahnya.

Tak terasa, air mata menetes di pelupuk mata Umar bin Khaththab. Ia tak kuat menahan haru. Di hadapannya seorang manusia besar yang amat berpengaruh, tetapi tak ada yang ia miliki di rumah. Umar bin Khaththab kemudian berkata, “Wahai Rasul Allah, engkau telah mengetahui gaya hidup Kisra dan Kaisar.” Rasulullah Saw menjawab, “Wahai putra Al-khaththab, relakah engkau jika akhirat menjadi milik kita dan dunia menjadi milik mereka?”

Lantas kurang hebat apa Rasulullah SAW?

Mantan Presiden Urugay José Alberto Mujica Cordano, adalah presiden terkere di dunia. Ia adalah veteran pemberontak Tupamaros, kelompok bersenjata berhaluan kiri yang terpantik oleh revolusi Kuba. Dari balik jeruji besi selama 14 tahun, menggahar cara pandang José Alberto Mujica tentang keadilan dan kesetaraan sosial.

Semasa berkuasa, ia mendonasikan 90 persen gajinya tiap bulan, yaitu US$ 12.000 dollar AS atau setara Rp 120 juta (waktu itu), untuk berbagai kegiatan sosial. Dengan mendonasikan 90 persen gajinya sebagai presiden untuk rakyat miskin dan pengusaha kecil, maka setiap bulan Mujica hanya menyaku gaji kurang dari Rp 800.000.

Mujica memilih tinggal di tanah pertanian di luar ibu kota. Sampai-sampai jalan menuju tempat tinggalnya tak beraspal. Ia tak punya paspampres, sebagaimana layaknya  penjagaan ketat pasukan elite kepresidenan. Hanya dua polisi dan anjing pincang miliknya yang cuma tiga kaki. Anjing Manuela, yang nongkrong di depan pintu gerbang pertaniannya saban hari. Untuk menyambung perputaran ekonomi keluarga, Mujica dan bininya menanam sendiri bunga-bunga untuk dijual.

Di tahun 2010, saat laporan harta kekayaan pribadinya diumumkan—yang merupakan kewajiban pejabat publik Uruguay, kalau di Indonesia seperti LHKPN, saat itu total kekayaan/asset Mujica cuma 1.000 dollar AS atau kurang dari Rp 10 juta. Jumlah uang milik Mujica ini, hanya cukup untuk membeli sebuah mobil VW Beetle keluaran 1987.

Yang jelas, Muhammad SAW, adalah manusia puncak dengan derajat kerasulannya. Demikianpun mantan Wapres RI Muhammad Hatta atau mantan Presiden Urugay José Alberto Mujica Cordano. Mereka adalah manusia luar biasa dengan derajat kesalehannya masing-masing.

Hidup di puncak singgasana kekuasaan, tapi menghela ambisi duniawi (kemewahan), hingga nampak merata seperti rakyat biasa. Mereka tidak palsu. Keteladanan mereka, meratakan sekat sosial. Merobohkan tembok kemewahan yang memagari penguasa dan rakyatnya secara berseberangan; antara kemewahan dan kemelaratan. Wallahu’alam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *