Senior HMI

Jakarta, Senin 24/9/2019 *** by Munir

Kemarin siang, seorang senior saya di HMI yang baru disertasi doktoral menggebah kalau semua orang pasantren dukung Jokowi. Dia bilang, Jokowi sudah memberi sesuatu pada pasantren, Prabowo memberi apa?

Hawa siang begitu panas, tapi senior ini mengungkit soal. Soal yang kira-kira menceku saya. Bukan apa-apa, tak sudi kiranya pasantren dibikin begitu pragmatis. Kalau saya kiyai yang agak keras, rasa-rasanya saya ingin menendang lutut senior HMI ini, biar dia tahu adat. Sejarah pasantren, tak sekotor itu.

Tapi saya bilang begini pada senior itu, “bang, pasantren itu tempat dimana DNA idealisme diproduksi. Entah idealisme keagamaan, idealisme sosial dan idealisme politik. Pasal ini yang membuat pasantren menjadi episentrum perlawanan dikala kolonialisme menceku ibu pertiwi. Jadi pasantren jangan dibikin sebagai alat tukar tambah politik.”

“Ah Nir, saya ini orang pasantren, saya netral, tergantung siapa capres yang bisa memberi sesuatu pada pasantren.” Ini yang bikin saya bingung, netral tapi tergantung siapa capres memberi apa. How be can, pesantren is used as a political exchange tools?

Kata-kata senior ini langsung saya timpali, “Ah abang ini, bukan siapa memberi apa pada pasantren, itu terbalik, mestinya pasantrenlah yang memberikan sesuatu pada bangsa ini. Abang harus lihat ke belakang, bahwa di masa-masa dimana bangsa ini sudah di tubir kehancuran, para kiyai dan santrilah yang berdiri dengan kepala mendongak, memukul dada menghantam para Londo itu hinga lintang pukang. Mereka memberi sesuatu pada bangsa ini.”

“Sekarang memang tak ada Londo bang, tapi Londo yang impersonal, ada di depan biji mata saya dan abang. Coba abang pelototi baik-baik, mereka ada di dekat situ. Dekat dengan investasi modal asing, ada di dekat perjanjian utang yang orang pinter bilang B to B; sampai-sampai negara tak boleh ikut campur dan Londo juga ada dalam tenaga kerja asing. Entah itu Londo mata biru atau Londo mata sipit. Mereka ada. Kucak mata abang baik-baik, biar abang ngeh adanya para Londo itu!”

“Ibarat masakan, doktornya abang ini baru diangkat dari tungku, lagi panas-panasnya. Bagaiman menurut abang, ulama seperti kiyai Ma’ruf, yang mestinya semakin zuhud tapi masih mau berburu kekuasaan? Seusia dia yang sudah 72 tahun, mestinya memiliki kader. Abang tengoklah adagium lama yang bunyinya begini, “pemimpin yang baik adalah yang paling cepat mencari penggantinya.” Ini soal regenerasi kepemimpinan nasional, bagaimana bang?”

Begitu saya usai bertanya, senior ini sudah pasang kuda-kuda dengan teorinya. “Begini Nir, di Aceh sana sekitar tahun 1873-1913, di jaman kolonial, ada teori paling terkenal dari Snouck Hurgronje dengan dikotomi Islam ritual dan Islam ibadah. Dikotomi Hurgronjeian ini, kemudian menjauhkan politik dari urusan agama.”

Tanpa tedeng aling-aling, saya langsung sambar senior ini, “bang, dikotomi Snouck Hurgronje itu memiliki lokus dan tempusnya sendiri. Dia lahir pada era perang fisik. Masjid-masjid kala itu adalah pusat komando revolusi fisik melawan Belanda. Wajar Snouck Hurgronje berteori begitu.”

“Sekarang ini, kita berhadapan dengan Londo yang impersonal, melalui investasi modal asing, perjanjian utang dan ekspansi modal global. Jadi kita butuh kader (pemimpin bangsa) yang ngeh dengan pasar, paham soal capital market, paham soal capital gain. Dia mengerti soal bagaimana modal portofolio itu benar-benar diarahkan pada investasi publik; ke sektor riil. Dia paham, bahwa likuiditas itu tidak ditumpuk-tumpuk hanya untuk keuntungan negara saja”

“Jadi dalam sistem global sekarang itu, musuh juga lebih banyak ada pada global bond, perang dagang dan serupanya. Orang yang kelak jadi pemimpin bangsa ini, adalah mereka yang paham konstelasi dunia dalam konteks perang mutakhir dari sisi investasi dan modal global.

“Jadi bang, teori Snouck Hurgronje yang abang kobar-kobarkan itu tidak lagi pada tempatnya. Dia punya sejarahnya sendiri. Sekarang agama publik adalah pasar (market) dan aliran modal (capital flows). Mau tidak mau, itu yang ada di depan biji mata. Jadi kita butuh seorang candiakwan muda yang berfikir futuristik dan paham soal pasar global.

“Lalu bagaimana pendapat abang soal Islam Nusantara? Begitu senior ini hendak jawab, tiba-tiba ia dipanggil mendadak pimpinannya. “Ya sudah, abang jalankan dulu tugas abang, tempo ada kesempatan, abang lanjutkan lagi itu Snouck Hurgronje, saya penasaran.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *