Memoar Kota Palu

OlehMunir Sara

Dalam penggalan pidato Walikota Palu; Sigit Purnomo Said alias Pasha-Ungu, beberapa kali menyebut Palu Sebagai Kota Jasa. Tak heran, karena pertumbuhan sektor jasa di Palu cukup tinggi. Sesuai data BPS, pertumbuhan sektor ini mencapai 26,89%.

Lebih tinggi dari sektor-sektor lainnya. Bahkan lebih tinggi dari pertumbuhan sektor jasa nasional sebesar 20,95%. Dengan kontribusi sektor jasa yang tumbuh pesat ini, maka kota Palu menjadi salah satu di antara 10 kota dengan pertumbuhan ekonomi cukup tinggi, yakni 8,10% pada tahun 2017. Pertumbuhan demikian, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional, yaitu 5,07%

Sebagai Walwali, Pasha-Ungu memahami betul sumber daya lokal kota Palu. Ia paham, bahwa sektor jasalah yang paling unggul mengakselerasi pertumbuhan ekonomi kota Palu. Sektor ini juga paling besar menyerap tenaga kerja. Saya terdecak, ia menguraikannya secara sistematis dengan komunikasi verbal yang apik. Dan juga public speaking yang encer. Saya tak nyangka; Pasha-Ungu bisa begitu. Sepaham itu.

Tumpuan sektor jasa ini berada pada teluk Palu yang menjadi sumber mata pencaharian masyarakat dengan konsep community based ecotourism. Terlebih-lebih jalan lingkar teluk Palu yang menjadi konvergensi dari berbagai potensi ecotourism di sekitar kawasan itu. Jembatan Kuning Panulele, juga memperlihatkan akselerasi jalur distribusi ekonomi di Kota Palu.

Sebuah jembatan lengkung kuning yang menghubungkan Kecamatan Palu Timur dan Palu Barat. Kalaulah jembatan Ampera menjadi iconisme wisata Palembang, maka jembatan lengkung Panulele, pun menjadi branding yang lekat pada Palu sebagai kota wisata. Walkhusus hiruk-pikuk ekonomi di sekitar teluk Palu.

Ketika dari bandara menuju tempat penginapan di kawasan Pantai Talise Kota Palu, kami menyaksikan keindahan kota Palu. Bangunan-bangunan yang berbaris di seberang bibir pantai yang berjejer apik. Jalan lingkar teluk Palu, pun menyatukan laut, masyarakat dan sentra-sentra pertokoan yang mengumbarkan kegairahan ekonomi di Kota Palu.

Kekaguman saya adalah pada masjid terapung. Atau masjid Arqam Bab Al Rahman. Masjid ini terletak di Jalan Rono, Kelurahan Lere, Kecamatan Palu Barat. Ke arah pantai Talise, masjid ini terletak di sebelah kiri Jalan. Di beberapa referensi, Masjid ini memiliki akar sejarah yang kuat pada abad ke-17 dengan seorang ulama kharismatik; Datuk Karama yang merupakan ulama asal Minangkabau, Sumatera Barat.

Masjid ini menjadi simbol religiusitas kota Palu, dan seakan menjadi penghalau kehidupan malam di sepanjang pantai Talise yang nampak agak glamour. Terletak di bibir pantai, menyuguhkan sisi lain dari keindahan teluk Palu.

Tak kalah menarik, Palu dimalam hari. Di setiap lekuk kota Palu, berbaris kafe-kafe yang menyajikan aneka panganan khas Palu dan diiringi musik kekinian. Tak salah, wakil walikota Palu; Sigit Purnomo Said menyembut Palu Kota 1000 Kafe. Terlebih-lebih sepanjang pantai Talise. Semarak wisata malam di sepanjang bibir pantai begitu menggeliat. Sepanjang pantai berjejal sajian kuliner khas. Dari pisang goreng, sarabba, pisang epe, jagung bakar dan aneka panganan lokal lainnya.

Kamipun melipir ke Kemang Kafe. Kata salah seorang pelayan, “mas di sini juga ada Kopi Jahe Palu Bintang Surayyah. Ini kopi khas Palu.” Ditimpali pisang goreng, kenikmatannya saling berburu. Kopinya dapat, kearifan lokalnyapun membekas. Palu memang menggoda.

Besoknya, sebelum hengkang dari kota Palu, seorang teman saya bilang, “kak, jangan bilang ke Palu kalau belum makan Kaledo. Itu kuliner khas Palu. Katanya, yang paling heboh dari Kaledo adalah menyeruput sum-sum tulang dengan sedotan. Sekitar pukul 11.30 Wita, hawa sekitar Pantai Talise agak menyengat, tak mengurung niat kami menyeruput sum-sum Kaledo. Kamipun beriringan ke sana. Di tempat Kaledo dijajakan. Sebuah warung kecil di pinggir jalan ke arah Donggala.

Setelah tiba, tak begitu lama, semua pesanan Kaledo sudah berbaris di atas meja. Boleh dimakan dengan nasi atau singkong. Tentu saya memilih singkong. Agar sentuhan cita rasa lokalnya dapat. Di sebuah mangkuk kecil, juga disiapkan aneka peralatan. Dari pisau kecil, hingga sedotan sum-sum Kaledo.

Meski matahari serasa di ubun-ubun, tapi aroma rempah kuah Kaledo yang menyembul tajam menohok indera pencium. Seakan mengurung terik panas siang itu. Semua orang tunduk lahap menyeruput sum-sum kaledo. Maknysus. Terima kasih saudara-saudaraku DPW BM PAN Sulteng. Palu tetap menggoda.

Palu tetap menjadi mimpi besar bagi setiap wargaanya.Yang saya suka, setiap orang Palu, begitu membanggakan kotanya. Wisatanya dan kulinernya. Dengan mimpi itu, dengan kebanggaan itu, akan selalu memantik mereka bangkit. Bangun dari duka. Palu tetap menjadi mimpi dan keindahan yang tak pernah selesai. Bangkit !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *