Mulut Politikus

*** Oleh : Munir

Ada berbagai macam mulut. Ada mulut lemes, mulut renyah, mulut lentur. Pokoknya, mulut dengan kategori ini gampang nyorocos. Sedikit saja ada sesuatu di pikiran, langsung meluncur ke ujung bibir dan tumpah jua ke halayak, dia bikin jadi bahan omongan.

Mulut lemes adalah mulut yang gampang cincong. Semua hal bisa bikin mulut tipe ini celengak. Semua hal mau diomongin. Mulut renyah, semua hal dia bisa bikin getas. Enteng. Hal-hal yang tabuh, pun dia bikin garing di ujung bibir.

Tak ambil pusing, entah itu urusan dia atau tidak. Pun mulut lentur, sedikit saja ada aib didengar, langsung mulutnya bikin pantul kemana-mana. Seakan di ujung mulutnya ada magnet besar. Semua hal tersedot ke mulutnya. Soalnya, tiga tipe mulut di atas, adalah “manusia segala tau.” Apa-apa mau dia omong semua. Mau dia nyinyiri semua.

Belakangan, negara juga cari mulut lemes untuk kebutuhan public relation. Untuk fungsi kehumasan juga. Mulut lemes, punya peran penting jadi corong negara. Contoh, dulu jaman presiden SBY, dipasanglah Ruhut Sitompul jadi corong.

Jadi, apa-apa dari Cikeas, Ruhut hadapi dengan senjata verbalnya. Pokoknya jika ada diskursus publik yang menyenggol Cikeas, disitu mulut Ruhut siap celengak. Sampai-sampai publik pusing tuju keliling; membedakan mulut Ruhut. Apakah mewakili negara atau partai politik.

Tempo-tempo di TV, kita lihat, ada juga politisi mulut lemes. Pokoknya asal omong. Pun semua hal mau diomongin. Jadi, semangat meritokrasi, tak diwakili mulut yang demikian. Dalam konteks negara misalnya, Seyogyanya, perlu ada klasifikasi mereka-mereka yang bermulut lemes. Mulut lemes pun tidak apa, yang penting sesuai tupoksi dan keahlian. Tidak asal gaduh, atau memecahkan biar ramai.

Di era presiden Jokowi, kebutuhan akan mulut lemes ini mendesak. Maka direkrutlah Ali Mochtar Ngabalin sebagai juru omong negara. Segala rupa diskursus publik yang menyenggol presiden Jokowi, apalagi menghantam telak negara, disitu mulut Ngabalin terdesak celengak.

Tak ambil pusing, mau urusan apa saja. Entah itu soal agama, infrastruktur, soal inflasi, kemiskinan, sampai-sampai urusan aksi korporasi (divestasi) Freeport-McMoRan pun mulut Ngabalin ambil urusan.

Padahal, kalau Jokowi mau saja, banyak orang-orang pintar yang bisa disorong ke TV. Cuma masalahnya disini, “mulut mereka yang pintar-pintar dan ahli di bidangnya, kurang lemes. Dujung mulut mereka kurang sambal.”

Kebutuhan mendesak akan mulut lemes jualah, yang bikin Farhat Abas direkrut menjadi tim sukses Jokowi-Ma’ruf pada Pilpres 2019. Jangan ditanya kenapa ! Siapa yang tak kenal mulut Farhat? Kelemesan mulutnya sudah endemik di jagat infotainment.

Dia punya daftar kenyinyiran yang panjang dengan urusan banyak artis. Dan gegara itulah, dia mencuat. Kalau dibikin survei, maka faktor kelemesan mulutlah yang menggenjot popularitas Farhat. Masalah Maia dengan Ahmad Dhani dia ambil urusan, Masalah Ahsanti dengan lagu Syantik; Siti Badria dia juga ambil urusan. Dan masih banyak masalah orang yang dia ambil urusan.

Nah, belakang, jelang Pilpres 2019, mulut Farhat dibutuhkan. Bisa jadi, mulut Farhat, dibutuhkan untuk menyinyiri lawan politik. Bayangkan, kalau tim Prabowo-Sandi, juga pasang jubir yang serupa lemesnya. Apa jadi? Betapa gaduhnya diskurus publik.

Syukur-syukur orang seperti Ruhut atau Ngabalin atau Farhat ini seperti semboyan Pegadaian; “mengatasi masalah tanpa masalah.”  Yang jadi soal adalah mereka bikin bias duduk perkara. Farhat bilang “pilih Jokowi masuk Surga.” Sementara Ngabalin bilang “Jokowi bikin jalan tol menuju sidratulmuntaha.” Apa urusannya coba? Malah publik dibikin tamba dongok dengan diskurus model begini. Bukan mencerahkan malah jadi polusi. Bikin limbah wacana (discourse waste) dimana-mana. Nyampah !

Bukan apa-apa, mulut lemes jualah yang bikin onar demokrasi kita. Kasus Ahok yang lemes terhadap Al quran misalnya, itu bikin tegang satu Indonesia. Padahal, mulutnya tak mesti lemes disitu. Ada soal lain lebih penting yang mesti dia omong. Soal macet dan polusi Jakarta misalnya, mau dia omong sampai jungkir balik pun tidak apa.  Bukan malah nyinyiri dogma agama orang. Apa urusan? Ini cuma contoh kasus.

Lantas bagaimana ini? Begini, jangan sampai, diskurus politik kita, isinya perang mulut. Mulut lemes, mulut renyah, mulut lentur, mulut nyaring. Jangan sampai. Jangan !

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *