Kisah Ray Crock dan Raksasa McDonald’s

Tebet, 13 Des 2018 ***By Munir

Tulisan kecil ini, sengaja saya dedikasikan untuk alumni KOHATI HMI Cabang Kupang, Rahmawati Arkiang, yang sebentar lagi menjadi Startup di bidang bisnis kuliner. Yakusa

Sebelum saya teruskan ke pokok soal; di youtube, saya pernah nonton ceramah ustat Haikal Hasan. Ia membahas disertasinya dengan judul “The law of repetition.” Sederhananya; hukum pengulangan. Apapun yang diulang-ulang, akan menjadi ahli.

Disertasi ini, diambil ustat Haikal untuk menyelesaikan studi doktoralnya di Universitas Teknologi Malaysia (UTM) dengan konsentrasi Filsafat Matematika. Dalam disertasinya, ustat Haikal katakan, legoknya sebuah batu; bukan karena berapa kuatnya tetesan air, tapi berapa seringnya tetesan air yang mengujam batu; tetes demi tetes.

Teori inipun pernah kita pelajari, ketika duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah (MI) tentang hikayat Ibnu Hajar Askalani; si anak yang tadinya dungu; kemudian jadi ulama besar. Atau yang lebih dikenal dengan Ibnu Hajar (Si anak batu).

Kisah Ray Crock dan Raksasa McDonald’s, adalah kegagalan yang terus diulang dan berbuah kesuksesan besar. Siapa yang tak kenal McDonald’s? Atau paling tidak pernah menyantapnya? Dari sebuah warung pure beef hamburger kecil di San Bernardino-Amerika; lalu kemudian menjadi raksasa binis.

Semalam saya serius sekali nonton film The Founder. Film berlatar lahirnya kerajaan bisnis fastfood McDonald’s. Pesannya soal kegigihan, tapi akhir ceritanya berisi kebodohan dan kelicikan. Cerita soal fastfood McDonald’s, yang tumbuh sebagai kerajaan bisnis resto berkelas global.

Bermula dari sebuah warung pure beef hamburger kecil di San Bernardino-Amerika milik dua bersaudara; Richard dan Maurice. Lalu Ray Crock yang diperankan Michael Keaton, yang baru saja berhenti dari pekerjaannya sebagai sales alat Mixer pembuat Milk Shake, datang membawa ide waralaba (franchise).

Seorang sales yang terhipnotis setiap malam oleh kata-kata motivasi dalam rekaman piring hitam yang selalu di putarnya. “Banyak orang pintar yang akhirnya bodoh karena tak gigih. Kamu adalah seperti apa yang kamu pikirkan. Hanya kegigihan yang bisa membuat anda menang dalam hidup ini.”

Hingga McDonald tumbuh sebagai restoran cepat saji (fast food) terkenal di San Barnardino, Richard dan kakaknya; Maurice saban hari terus melakukan inovasi. Hingga suatu waktu keduanya menemukan konsep kecepatan dalam menyajikan pesanan. Disebut keduanya sebagai “revolusi inovasi.” Waktu menyajikan pesanan yang tadinya 30 menit, dipangkas menjadi 30 detik.

Melalui beberapa kali simulasi, akhirnya kedua kakak beradik ini berhasil. Walhasil; McDonald booming sebagai fastfood ternama di SanBernardino pada tahun 1940-an.Sebuah resto fast food berlogo lengkungan kuning, yang menyimbolkan kekeluargaan orang Amerika.

Di tangan Ray Crock, McDonald’s tumbuh sebagai trans national corporation. Semulanya Ray Crock hanya datang membawa konsep franchise. Berbekal pinjaman ke bank dengan jaminan rumah miliknya, ia kemudian mengembangkan franchise McDonal’s di beberapa negara bagian Amerika dengan perolehan labah bersih 1,4 % tiap bulan, setelah royalti induk usaha; yaitu Ric and Mac McDonald.

Suatu ketika, di buku kas induk franchise milik Ray mengalami kesulitan. Beban pengeluaran yang besar, sementara laba bersih yang diperoleh terlalu kecil. Pinjamannya ke bank dengan anggunan rumah miliknya pun sudah jatuh tempo.

Beberapa kali Ray meminta dua kakak beradik itu menaikan jatahnya sebesar 4 hingga 3,5% untuk menyehatkan neraca agar bisa leverage, tapi permintaan Ray ditampik induk usaha McDonald.

Akibat kesulitan keuangan itulah membuat Ray berusaha membuat pengeluaran usaha lebih efisien dengan memangkas beberapa sumber pengeluaran yang membebani neraca keuangan. Ia kemudian menggantikan cream pembuat es cream dengan bubuk saset Milk Shake. Dengan catatan, bubuk Milk Shake saset ini mengurangi penggunaan lemari pendingin dan biaya listriknya di seluruh franchise McDonald’s yang dikelolanya.

Dengan cara ini seluruh franchise McDonald’s bisa menghemat ratusan dollar. Ide Ray ini kemudian kembali ditolak mentah-mentah oleh Ric and Mac McDonald’s sebagai induk usaha. Terlebih-lebih oleh Richard sang adik.

Hingga suatu waktu, seseorang yang belum lama dikenal Ray, memberikan adivis padanya soal kerajaan bisnis. Bermula dari membeli seluruh lahan sewa franchise McDonald’s, kemudian membuat Franchise Corporation. Perlahan-lahan Ray membangun kerajaan di dalam McDonald’s. Ruang gerak Ric and Mac pun semakin terbatas.

Suatu waktu, melalui telepon, Ray menyampaikan pada Ric and Mac, bahwa kewenangan keduanya kini hanya dari tempat masak hingga pintu keluar. Selebihnya, secara korporat, franchise McDoald’s di bawa kendali Ray.

Karena nama McDonald sendiri copy right-nya belum tercatat dan dipatenkan Richard dan Maurice, maka Ray pun membuat McDonald’s Corporation. Copyright McDonald’s akhirnya berpindah tangan ke Ray Crock secara mutlak. Richard dan Maurice tetap menjalankan bisnis burger, tapi tak lagi menggunakan nama McDonald’s.

Diakhir kisah tragis senjata makan tuan ini, Richard and Maurice, hanya mendapatkan jatah US$ 2 juta dari nama McDonald’s; sebagai penemu. Itu jatah mereka terakhir kalinya. Royalti 1 % dari laba bersih McDonald’s Corporation yang dijanjikan pun akhirnya tak diterima Richard dan kakaknya hingga akhir hayat karena janji royalti itu tidak tertulis.

Dari sinilah, McDonald’s Corporation tumbuh sebagai raksasa bisnis resto fastfood transnasional. Ray Crock; dari seorang sales mixer yang melarat akhirya tumbuh dan bangkit menjadi seorang kapitalis; predator bisnis yang akhirnya menelan bulat-bulat induk semang yang telah menumbuhkannya di McDonald.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *