Masih Percaya Jokowi?

*** BY Munir Sara

Adik Ipar Wapres JK; Erwin Aksa, dalam deklarasi aliansi pengusaha nasional (22/3) menyebut, dalam 4,5 tahun belakangan, banyak toko dan mall yang tutup. Mau usaha susah. Apa yang dibilang Erwin ini bluffing? Coba lihat data. Optimisme pelaku usaha pada kuartal I 2019 prognosanya turun ke level terendahnya dalam nyaris dua tahun terakhir. Ini terlihat dari data BPS.

Indeks tendensi bisnis diperkirakan hanya akan mencapai level 103,5. Indeks sebesar 103,54 merupakan yang terendah dalam 7 kuartal atau sejak kuartal II 2017 lalu. Level indeks ini lebih rendah dibandingkan periode sama 2018 sebesar 106,28. Sebelumnya, srvei BPS juga menyebutkan, optimisme pelaku bisnis dari sisi Indeks Tendensi Bisnis (ITB) pada kuartal IV-2018 sebesar 104,71. Angka ini turun dari posisi kuartal III-2018 108,5.

Apa yang dibilang Erwin itu bukan political attacking, memang begitu keadaannya. Lalu apa benar mall-mall pada tutup? Memang begitu adanya. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menyebut, untuk 2018 saja, sudah ada 50 ritel yang tertutup. Memang ada perubahan pola konsumsi. Terkait dengan konsumen behavior, sehingga industri ritel perlu mixed use dan membuat pola baru usaha. Namun tidak sedikit juga yang tergulung karena iklim usaha.

Dalam skala besar misal, terjadi yang namanya deindustrialisasi. Apa ini bluffing juga? Mari kita lihat datanya. Bahwa memang manufacturing index Indonesia juga menurun. Mengawali tahun 2019, aktivitas manufaktur Indonesia mengalami stagnansi. Nikkei dan IHS Markit menunjukkan, Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia hanya sebesar 49,9 di Januari 2019. Angka indeks tersebut turun dari capaian sebelumnya yakni 51,2 pada Desember 2018 lalu.

Semuanya bisa dilihat dari kontribusi manufaktur terhadap PDB. Berdasarkan data BPS, industri manufaktur pernah mencatat titik tertinggi sepanjang sejarah yakni pada 2002. Saat itu kontribusi manufaktur terhadap PDB mencapai 31,95%. Namun, sejak 2014, porsi kontribusi manufaktur terhadap PDB terus menurun. Terakhir, kontribusi manufaktur terhadap PDB hanya mencapai 19,82% pada 2018.

Agar tahu saja, bahwa sektor industri manufaktur ini memegang peran penting dalam struktur industr nasional. Jadi kalau sektor ini melempem kontribusinya pada PDB, maka deindustrialisasi sebagaimana yang kita khawatirkan sedang terjadi. Memang ada faktor eksternal (pertumbuhan global manufacturing) juga mempengaruhi, tapi kenapa Malaysia dan Thailand, kontribusi industri manufaktur terhadap PDB-nya bisa di atas rata-rata negara Asia Tenggara?

Lagi-lagi semua kembali pada kompetensi leadership untuk mengelola negara, berikut pengelolaan ekonominya. Leadership Jokowi sebagai kepala negara sekaligus pemerintahan; belum menjadi driven factor terhadap pelbagai aspek kehidupan pemerintahan termasuk tata kelola ekonomi.

Govermen culture rezim tidak memberikan pengaruh—hawa yang baik terhadap economic culture. Sederhana saja, pembangunan infrastruktur dengan pembiayaan hutang BUMN gila-gilaan, tapi apakah itu punya effect of growing terhadap pertumbuhan ekonomi? Kan Jokowi sendiri bilang, kalau penyerapan anggaran (belanja APBN) sampai 93 persen pertumbuhan ekonomi meroket. Tapi nyatanya? Kalian masih percaya Jokowi?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *