Petahana PAN, Lanjutkan Lima Kegagalan?

Dulu, saat masih kuliah dan aktif di kelompok studi dan group diskusi terbatas, kami selalu mengatakan, kata-kata lanjutkan, adalah tanda kemiskinan ide. Kata-kata lanjutkan, adalah bahasa kekuasaan. Karena hanya dengan kekuasaan, kata-kata itu digunakan untuk terus berkuasa. Karena kekuasaan–dan ingin terus berkuasa, selalu nyaman menggunakan diksi ini.

Dalam tradisi kelompok diskusi, dan minoritas kreatif, kami lebih suka istilah kebaruan. Atau membarukan. Kebaruan berpatok pada sifat, sementara membarukan, adalah usaha–untuk membarukan yang lama atau pembaruan. Organisasi moderen, selalu berpatok pada upaya membarukan. Bukan konservatif, dan upaya mempertahankan yang lama. Tentu PAN adalah organisasi politik moderen, yang cenderung pada kebaruan.

Jelang kongres PAN 2020, kata-kata lanjutkan ini didaur ulang, digunakan untuk memoles status quo. Bahkan untuk memoles kegagalan satu periode kepengurusan PAN. Kenapa kami katakan gagal? Mari kita lihat.

***PAN Gagal di Pemilu 2019

Sudah kami jelaskan pada artikel sebelumnya, bahwa prestasi adalah apa yang diproyeksikan. Dan pada Kongres 2015 dan Rakernas PAN I 2015, proyeksi PAN adalah meraih suara double digit. Dan memperoleh kursi maksimal, di atas 50. Apa hasilnya pada Pileg 2019? Kursi PAN jeblok dari 48 menjadi 44. PAN melorot dalam perolehan suara nasional. dari lima besar ke urutan delapan.

Padahal, dengan pembelahan politik Pilpres, pada segmennya, di daerah Jawa dan Sumatera, PAN mestinya meraih suara maksimal seperti PKS dan Gerindra. Kita tahu, bahwa PAN dan PKS memiliki segmen pemilih yang sama. Dengan pembelahan politik Pilpres, mestinya PAN ikut mengeruk keuntungan elektoral seperti PKS. Bukan malah buntung.

Persoalannya, ada pada ketidakmampuan leadership dan manajerial pimpinan partai untuk mengatifkan kinerja partai. Dampaknya, berakibat pada lemahnya infrastruktur partai yang bekerja untuk menyokong para caleg PAN. Dimana-mana para caleg menjerit soal dan saksi dll.

***Gagal Menyediakan kantor PAN yang layak

Apakah anda tahu, kenapa secara tiba-tiba PAN seakan terusir dari Jln Senopati? Yang jelas, saat PAN angkat kaki dari Senopati, persaan kita seperti terkoyak. Padahal, saat menyampaikan visi-misi sebagai caketum PAN di tahun 2015, bang Zul berapi-api janji, “kita mesti punya kantor yang layak dan moderen.” Lantas mana kantor itu?

Bahkan, saat keluar dari Jln Senopati, DPP PAN bak anak kos yang terusir oleh ibu kos. Luntang-lantung tak jelas beberapa saat. Lalu pindah ke jalan Daksa. Itupun numpang di base camp saat pilpres 2019.  Wong sampai kini tak ada papan nama kantor DPP PAN di Daksa. Malah lebih keren kantor BM PAN ketimbang DPP PAN.

Bayangkan, 21 tahun partai ini mengelola berbagai sumber daya kekuasan, tapi secara organisasi, belum memiliki kantor yang layak seperti partai-partai lain. Di era bang Zul, kita berharap, ia mampu melakukan modernisasi di tubuh PAN, nyatanya? Setali tiga uang. Ia hanya mengulang kegagalan sebelumnya. Bakan lebih buruk.

***Gagal mewujudkan Janji Otonomisasi DPW dan DPD dalam urusan Pilkada

Lima tahun lalu, dihadapan pengurus DPW dan DPD PAN se Indonesia, saat menyampaikan visi dan misinya, bang Zul berjanji, memberikan otonomisasi pada DPW dan DPD PAN untuk mengurus dan menyeleksi calon kepala daerah masing-masing. Begini isi janjinya ;

“Saudara-saudaraku, selama ini urusan Pilkada diserahkan ke DPP untuk memutuskan. Ke depan, kita buat berbeda. Kita serahkan urusan Pilkada ke DPW dan DPD PAN se Indonesia. DPP PAN hanya bertugas memberikan SK.”

Dan nyatanya? Dari Senopati hingga ke Daksa, ketua-ketua DPW dan DPD PAN se Indonesia, masih sibuk antre mambawa para kandidat kepala daerah bertemu elit PAN di DPP. Janji otonomisasi DPW dan DPD PAN itu bodong belaka. Faktanya, urusan Pilkada masih terpusat di DPP PAN.

***Gagal mewujudkan Janji jadi Ketua MPR cuma sekali

Di momen yang sama, lima tahun lalu (2015), bang Zul juga berjanji, cukup sekali jadi ketua MPR. Waktu itu satu paket dengan janji lainnya. Tentu masih saya rekam kuat-kuat di kepala. Ini tentang adagium lama, orang baik dipegang dari omongan. Waktu itu ia janji begini ;

saudara-saudaraku, saya akan jani menjadi menteri sekali, ketua MPR sekali dan Ketua umum PAN sekali seperti pak Amien. Bayangkan saja bila janji bang Zul itu ditulis oleh para malaikat dan ketua-ketua DPW dan DPD PAN. Lalu sekarang faktanya?

Lantas saya begitu kaget, ketika nama bang Zul ada di bursa calon wakil ketua MPR periode 2019-2024. Loh, bukannya di PAN ini banyak kader yang pintar-pintar dan hebat? Lagi pula, kalau jadi Wakil Ketua MPR, grade point bang Zul itu nyungsep. Secara politik bang Zul turun pamor. Apalagi ia seorang ketua umum partai. Mestinya maruah partai terangkat. Tapi mau bagaimana, mungkin bang Zul kepengen bangat jadi Wakil ketua MPR.

tapi dipikir-pikir, cukup masuk akal. Yang dijanjikan bang Zul itu cukup sekali jadi ketua MPR, sementara jabatannya saat ini cuma wakil ketua. Saya juga baru sadar, memang beda antara Ketua dan wakil ketua

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *