Proyek Saudi Moderen Mangkrak?

Pertumbuhan ekonomi Saudi berporos ke produksi minyak. Naik turunnya ekonomi Saudi, bergantung pada mendidih tidaknya harga minyak. Kini, harga minyak, tak semendidih dulu.

Dalam keadaan normal, Saudi tampak gagah. Lihat saja tingkah keluarga istana. Glamour. Hidupnya kemilau. Kemana-mana bawa satu kampung. Seperti kala ke Indonesia. Raja minyak dunia.

Dengan struktur ekonomi demikian, maka fluktuasi tajam harga mintak saat ini, bikin Saudi jadi hilang kira. Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat di raih. Saudi sudah kadung mengadopsi sistem kapitalisme.

Kekayaan minyak itu diinvestasikan ke pasar modal. Uang bikin uang. Sekarang, pasar modal dunia oleng tak karuan. Disengat Virus bermahkota hingga tak jelas juntrungan.

Saya melongok ke data Trading Economics. Berkenaan dengan Economic Forecasts – 2020-2022 Outlook. GDP Growth Rate aktual Saudi -1%. Q2 nanti tergerus lebih dalam. Bahkan hingga akhir 2020 dan forecasts 2021, cuma tumbuh 1%.

Government Debt to GDP aktual 19,10%. Hingga 2021, diramal rasio utang negara terhadap GDP 27%. Memang rasio utang ini kecil. Tapi bila harga minyak belum juga mendidih, menteri keuangannya bakal pusing.  Rasio utang bisa tambah meningkat.

Dari struktur ekonomi secara keseluruhan (lihat disini : https://tradingeconomics.com/indonesia/forecast), Saudi hadapi masalah. Belum serius. Tapi bila harga minya terus anjlok, bisa jadi masalah.

Jauh sebelum Corona, Saudi sudah mawas. Orinetasi ekonomi mau balik badan. Visi ekonomi Saudi 2030. Banting setir ke sektor jasa.

Terlihat dari ambisi putra mahkota Saudi Muhammad Bin Salman membangun kota NEOM. Ini etape baru menuju Saudi moderen. Kota jasa. Negera pariwisata.

Sebuah kota robotik dengan investasi US$ 500 miliar, setara Rp.7.904 triliun (kurs saat ini). Kota dengan jargon “Internet of things.” Tanah Saudi, disulap menjadi sorga para pelancong. Tak lagi menjadi pemancar spiritual dunia. Tapi tempat US$ dollar diternak.

Sebuah kota jasa serba robot. Makan diantar robot. Demikian juga sauna dan tetek bengek urusan wisata. Bisa jadi di panti pijat juga pakai robot. Jangan harap ada gadis Badui. Bisa dicambuk hingga bonyok.

Untuk ambisi itu, MBS membungkam ulama wahabi dan civil society. Ada yang dipenggal gegara nyinyir. Keluarga kerajaan yang kepala batu dibui. Dituding makar. Kematian Kasogi, adalah rangkaian cerita bawah tanah, MBS menuju tahta.

Kini harga minyak dunia anjlok. Dilihat beberapa harga acuan terjun bebas. sudah tiga atau empat bulan terakhir.

Dikhawatirkan bisa sampai US$ 0/barrel. Faktornya permintaan global terjun bebas. Meski beberapa negara OPEC sudah mengurangi produksi. Harga masih anjlok. Jadi apa Saudi, kalau sampai begini terus?

Negara-negara dengan pendepatan terbesar dari minyak, meringis. Pendapatan negara tergerus. Ekonomi tiarap. APBN melintir. Seperti Arab Saudi. Ekonominya bergantung pada dua sektor. Minyak, haji dan umroh.

Sektor minyak bumi menyumbang sekitar 87% dari pendapatan anggaran Saudi, 90% dari pendapatan ekspor, dan 42% dari PDB. Hampir stengah dari PDB, Saudi, diontribusi oleh minyak.

Di luar minyak, Haji dan Umrah menambah $ 12 miliar ke PDB Arab Saudi per tahun. Sektor non minyak lainnya menyumbang 20 persen ke PDB. Sekarang, dua sektor dominan ini disengat Corona. 

Harga minyak anjlok, haji dan umroh di tunda. Struktur ekonomi Saudi, menemukan fase-fase terberat. Setelah dua sektor andalannya lintang pukang. Mega proyek NEOM bakal mangkrak.

Nafsu NEOM membuat APBN Saudi terkuras. Belanja negara melebihi pendapatan. Defisit US$9 miliar, setara Rp134 triliun, selama tiga bulan tahun ini saja.

Defisit karena pendapatan minyak turun hampir 25% dibanding tahun sebelumnya menjadi US$ 34 miliar. Secara keseluruhan pendapatan negara turun 22%. Lubang defisit di tutup dengan surat utang. Profil utang Saudi masih bagus. SUN-nya surplus permintaan.

Kini Saudai melakukan penghematan radikal. Tunjangan 1,5 juta PNS disana jadi korban. pajak pertambahan nilai dari 5% menjadi 15% mulai 1 Juli. NEOM terancam. Jalan Saudi menuju kota kapitalis tersendat.

Meski sedemikian ruwet, Saudi tak separah Indonesia. Saudi punya bantalan anggaran yang kuat. Dia punya Cadev US$ 473 miliar di Maret 2020. Cukup untuk impor tiga tahun. Ini menurut Ehsan Khoman, kepala riset dan strategi Timur Tengah dan Afrika Utara di MUFG.

@Bogor, 18 Mei 2020

by Munir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *