Syahadatkan Komunis?

Dalam Islam, harta adalah titipan. Dalam doktrin Komunis, tak ada kepemilikan pribadi, negaralah yang berperan dalam menguasai dan mendistribusikan kekayaan.

Di zaman Rasulullah, Baitul mal adalah badan berbendaharaan yang diberikan kewenangan oleh otoritas Madina, untuk mengumpulkan dan mengelola harta kekayaan masyarakat Madina. Lalu dibagikan kepada mereka yang kurang mampu.

Demi pemerataan kesejahteraan. Bahkan dalam Islam, orang-orang yang tak menunaikan zakat, sementara mereka dikategorikan golongan orang mapan, maka mereka wajib di perangi.

Islam adalah suatu sistem nilai yang bersumber dari wahyu Tuhan. Sistem nilai wahyu kemudian diturunkan berdasarkan kondisi sosiologis secara kontinyu (asbabunnuzul).

Sementara, Komunis adalah suatu pandangan alam, suatu world view. Tersusun atas dialektika akal pada objek materi di luarnya. Pandangan alam materi inilah, secara epistemology, menyusun suatu postulat. Menyatakan bahwa produktivitas materilah yang membelah kelas manusia.

Dari satu sejarah ke sejarah yang lainnya. Antara kaum buruh atau proletariat dan kaum feodal dan pemilik modal sebagai golongan borjuis. Pikiran-pikiran Komunis, baik dari Karl Marx, Lenin dan kroni-kroninya, selalu berotasi pada konsepsi demikian.

Komunis sebagai suatu pandangan alam dan world view, lahir dari sejarah penindasan dan hegemoni kelas sosial. Lahir untuk mengkonsepsikan kesetaraan, kesamaan hak dan kewajiban. Dari adanya penindasan kelas.

Oleh ajaran Komunis, mengkatagorikannya dengan kelas buruh (proletariat), dan pemilik modal, atau yang menguasai alat produksi sebagai (kaum borjuis) terhadap pekerja; buruh (kaum proletariat).

Konsepsi tetantang kesamaan kelas sosial (baik hak dan kewajiban) inilah, dikonstruksi oleh sejarah dan ilmu pengetahuan sebagai suatu ideologi. Sebagai suatu tatanan nilai yang di-isme kan untuk melawan feodalisme dan diktator kaum kapitalis yang hidup pada abad ke-19 di Eropa.

Ajaran Komunis, menghendaki diktator kaum buruh, untuk merampas alat-alat produksi ke tangan proletariat. Agar tak terjadi akumulasi modal oleh individu-individu tertentu.

Tak ada kepemilikan individu dalam doktrin Komunis. Semuanya milik bersama, dan negaralah yang berdaulat dalam kepemilikan modal, untuk mendistribusikannya kepada rakyat secara merata; untuk kemakmuran rakyat.

Otoritas Baitul mal dimasa nabi Muhammad saat pemerintahan Madina, memegang peran penting dalam sektor modal ekonomi. Setiap penduduk Madina yang digolongkan mampu (memenuhi syarat wajib zakat).

Wajib menyerahkan hartanya sesuai ketentuan kepada Baitul mal. Otoritas Baitul mal lah yang mendistribusikan kepada seluruh masyarakat Madina [yang digolongkan dalam kelompok penerima zakat].

***

Di dalam Al qur’an, kata shalat dan zakat acap kali berdampingan. Oleh Profesor Dr. Quraish Shihab, MA, dalam bukunya [Membumikan Al qur’an] menemukan, ada 32 kali persandingan kata shalat dan zakat dalam Al qur’an.

Kitab suci Al qur’an begitu progresif meletakkan konsep-konsep distribusi kekayaan kepada golongan orang-orang yang tidak mampu [kamum fakir miskin]. Dijelaskan secara lugas.

Setelah Muhammad diangkat ke kursi kenabiannya, fase dakwah-nya yang pertama, adalah melakukan dekonstruksi sosial terhadap sistem borjuasi Arab Mekkah. Sistem yang menempatkan klan kesukuan Arab Mekkah di tangan kepala-kepala suku yang kejam dan bengis. Ajaran tauhid yang dibawah Muhammad, adalah basis nilai untuk merevolusi kelas-kelas sosial di Mekkah yang despotik itu.

Ajaran tauhid yang dibawa Muhammad, meratakan segala bentuk otoritas kepala suku Arab Mekah sebagai personifikasi berhala-berhala yang disembah. Penyembahan terhadap berhala, juga tak lain sebagai perwujudan arwah nenek moyang dan leluhur yang dihidupkan kembali dengan tujuan mengukuhkan superioritas kesukuan untuk berkuasa dan menindas.

Jadi larangan menyembah berhala sesuai ajaran Tauhid, adalah memutuskan mata rantai sistem kapitalisme, yang dipancarkan melalui berhala-brhala sembahan yang dikendalikan oleh kepala klan; suku Arab Mekkah.

Sistem simbol keyakinan ini, acap kali digunakan sebagai sumber otoritas untuk menindas suku-suku kecil yang lemah di Mekkah. Dengan tujuan akumulasi modal dan sumber daya ekonomi.

Maka pertentangan demi pertentangan terhadap kehadiran Muhammad dan ajaran Islam, adalah perlawanan sekelompok borjuis dan otoritas spiritual berhala di Mekkah yang selama ini menguasai 99,9% sumber daya sosial dan sumber daya ekonomi di Mekah. Mereka terusik dengan kehadiran Muhammad dalam melawan penindasan yang sudah berlangsung secara turun temurun di Arab Mekkah.

Objektifikasi ajaran tauhid pada masa fase dakwa Muhammad di Mekah, adalah perlawanan dan revolusi kesadaran. Bahwa tak ada satupun manusia di bumi (Mekah) yang memiliki otoritas ketuhanan untuk menindas.

Pada masa-masa dakwa di Mekah, adalah fase dakwah yang keras. Hal tersebut bisa kita tangkap dari sinyalemen-sinyalemen ayat Al qur’an periode Mekkah, yang penuh ancaman (surga-neraka) terhadap mereka-mereka yang zalim secara sosial.

Jadi dimasa-masa awal kehadiran Islam yang dibawa nabi Muhammad, Islam telah memberikan ruang revolusi sosial yang besar dalam menyikapi kondisi masyarakat Arab Mekkah saat itu yang sudah terlampau rusak dan bobrok secara sosial.

Islam juga menetapkan konsepsi manusia tanpa kelas, dengan meletakkan ketakwaan (individu dan sosial) sebagai sikap keagamaan yang mengangkat manusia pada derajat kemuliaan. Konsekuensinya, semakin saleh seseorang muslim, secara individu, maka semakin saleh juga ia secara sosial.

Lagi-lagi, dalam posisi ini, Komunis bukanlah agama. Komunis hanyalah pandangan alam dan world view. Tak ada konsep teologi dalam Komunis.

Pandangan-pandangan Komunis terhadap agama, hanyalah reaksi terhadap keintiman agama [pemuka agama] dan kaum feodal. Bahkan di abad ke-19, agama, memberikan kontribusi dalam menyokong suburnya kapitalisme di Eropa.

Dalam bukunya Bryan S Turner dengan mengutip Weber, ditulisnya: “asketisme Protestan, memberi kontribusi bagi etos duniawi masyarakat kapitalis [baca ; Agama dan Teory Sosial; Bryan S Turner, hal ; 53]”. Tentu tujuan dari pendapat ini untuk membedah reaksi-reaksi para sosiolog Eropa pada Abad ke-19, terhadap sikap elit agama; yang cenderung sekongso dengan kaum feodal dan pemilik modal (kapitalis).

Tentu, Kritik Karl Marx terhadap agama [pada abad ke-19], konteksnya adalah antipati seorang Marx terhadap sikap elit agama yang tak jelas keberpihakannya terhadap penderitaan kaum buruh [proletariat]. Disini poinnya.

Berkaitan dengan Komunis di Indonesia, hingga puncak kehancurannya pada tahun 1965, harus dilihat secara melingkar. Di tahaun-tahun itu di Indonesia, adalah masa-masa romantik perbincangan ideologi politik dan tumbuh suburnya politik aliran. Demikian pun peta konflik global yang membelah politik dunia dalam dua blok; yaitu blok Amerika dan sekutunya VS Blok Uni Soviet.

Indonesia, tak bisa menghindari politik dunia yang terpilahpisah dalam blok-blok itu. Soekarno waktu itu, memprakarsai gerakan non blok dan politik bebas aktif. Namun lagi-lagi, politik bebas aktif itu tak mampu memutuskan mata rantai pengaruh politik global ke Indonesia.

Kehancuran Komunis di Indonesia yang puncaknya pada 30 September 1965, tak lepas dari bagian konspirasi global tadi. Masa dimana begitu mesranya Indonesia di bawah Presiden Soekrno dalam jalinan hubungan bilateral dengan Uni Soviet dan RRT. Tentu pada titik ini, teori konspirasi menjadi alat pelacak, Indonesia-Amerika di satu sisi, dan Indonesia Unisoviet & RRT di sisi lain.

Vis a vis nya elit Islam Indonesia dan TNI AD dengan Komunis kala itu, tak lepas dari political engineering kekuatan eksternal; di tengah tumbuh-suburnya politik aliran di Indonesia. Sebagai negara dengan jumlah penduduk hampir 100% Islam, maka kehancuran Komunis, cukup dilakukan dengan menumbuh- suburkan provokasi-provokasi teologis.

Bahwa Komunis anti agama dan Tuhan. Jelaslah, bahwa provokasi teologis yang dilakukan disaat suburnya politik aliran [terutama partai berbasis Islam], akan membakar kemarahan masyarakat secara masal terhadap Komunis di Indonesia [PKI]. Ditambah lagi anarkisme komunis Indonesia sebelumnya dalam peristiwa Madiun dll.

Tumbuhnya organisasi-organisasi anti PKI kala itu, adalah tak lepas dari pembusukan Komunis di Indonesia yang harus dibedah secara adil berdasarkan teori konspirasi global. Pun isu kudeta dewan Jenderal, adalah catatan sejarah kelam yang sampai hari ini tak bisa dibongkar kesumirannya.

Begitu juga misteri Surat perintah 11 Maret (SUPERSMAR), yang menjadi titik balik penggulingan kedigdayaan Komunis di Indonesia. Termasuk penggulingan pemerintahan Soekarno secara halus.

Memperhadapkan TNI AD dan PKI sebagai ancaman laten kehancuran ideologi negara serta provokasi teologis PKI vs Islam, mendapatkan respon masyarakat Indonesia secara emosional (emosi teologis dan ideologis). Pasca Orla, pembantaian PKI mendapat legitimasi moral. Diberangus hingga ke akar-akarnya.

Seiring waktu, masyarakat mulai cerdas dalam melihat masa lalu PKI sebagai suatu “konstruksi politik dan konspirasi.” Persoalan PKI vs Islam, ataupun PKI vs ideologi negara, tak lagi dilihat secara tunggal. Tapi dilihat dengan berbagai variable politik global dan di sekitarnya.

Lagi-lagi, Komunis bukanlah sebuah ajaran teologi yang berhadap-hadapan dengan doktrin monoteisme Islam. Komunis hanyala sebuah world view kritis dalam melihat ketertindasan kaum buruh (proletariat) pada abad ke-19 di Eropa. Melihat objek materi sebagai pembentuk kelas sosial.

Konteksnya dengan Indonesia, Komunis hadir untuk memberikan energi perlawanan terhadap kolonialisme dan hegemoni kapitalisme global melalui penguasaan aset dan investasi asing.Tapi komunis sudah menjadi bahaya laten. Sejarah telah menulisnya dengan tinta merah ! Wallahu’alam

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *