Kesucian Berkurban

Dalam tulisannya Muhbib Abdul Wahap (Dosen UIN Jakarta), menyebutkan, Semantika Idul adha, dimulai dengan pembacaan tanda-tanda, latar, dan konteks Idul Adha.

Makna idul kurban, dapat didekati dengan semiotika (ilmu tentang tanda dan pemaknaannya) karena sarat dengan denotatum berupa: ikon, indeks, dan lambang (simbol).

Sebelum Idul fitri, dimulai dengan puasa Ramadan. Demikianpun, sebelum Idul Adha, dimulai dengan puasa Sunnah Arafah. Puasa Arafah Menurut Muhbib, adalah apresiasi spiritual terhadap mereka yang berwukuf di Arafah sebagai puncak ritual haji.

Puasa Arafah dari sisi semantika, berikut berkurban dari sisi denotatum-nya menjurus pada penyucian diri dengan melepaskan/mengorbankan segala hal yang kita cintai sebabai petanda usaha menuju kesucian diri.

Jejak sejarah dan teologi kurban. Pada intinya, Allah menguji ketulusan nabi Ibrahim a.s. Perintah menyembelih Ismail, kemudian diganti dengan hewan kurban, adalah pesan simbol.

Dalam pendekatan semiotika De Seussure, berkurban adalah penanda (signifier) dan kerelaan berkurbaan adalah petanda (signified). Keduanya adalah satu kesatuan interpretasi. Tak bisa dipisahkan.

Sebelum berkurban, ada sunah puasa Arafah. Wujud apresiasi bagi jamaah yang wukuf di Arafah sebagai puncak ritual haji. Puasa dan berkurban adalah rangkaian proses menuju penyucian diri.

Suatu tanda hanya dapat dipahami jika hubungan di antara kedua komponen pembentuk tanda. Tidak bisa dipisahkan antara penanda dan petanda. Berhubungan secara konsepsi.

Berkurban sebagai penanda (signifier) dan kesucian sebagai petanda (signified) atau konsepsinya, adalah relasi makna berkurban yang saling berkelindan, menjadi satu kesatuan semiotika kurban.

Keduanya menjadi pintu masuk bagi bangunan kesucian diri secara maknawi. Islam dalam ajarannya, membuka jalan lebar menuju makna berkurban secara universe menuju kecusian diri.

Bertolak dari kondisi sosial ekonomi selama pandemi, yang tergambar dengan penurunan daya beli, maka tidak semua orang bisa berkurban di hari raya Idul Adha. Yang mampu, atau memiliki cukup bantalan anggaran, tentulah diharuskan berkurban.

Bahkan Islam memberikan determinasi sangat jelas tentang ini. Demikianpun yang belum mampu saat ini. Janganlah terburu-buru gundah. Atau tenggelam sedalam-dalamnya dalam kegundahan. Bukalah hati dan pikiran, untuk memaknai hari raya kurban dalam pengertiannya yang luas—per se.

Selamat hari raya Idul Adha 1441 H

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *