Cilaka; Rizal Ramli Blokir Akun Twitter Staf Ahli Menkeu

Pagi tadi sempat baca-baca CNBC. Judulnya, Rizal Ramli Bilang RI Pengemis Hutang. Memang belakangan saya agak malas baca cuitan pria berjuluk Kepret Rajawali ini. di twitter. Atau omongannya di vlog. Dia kurang men-supply pembaca dengan data. Pula terlalu Rizal sentris. Rizalismenya terlampau tinggi. Sementara, saya tak terlalu suka arogansi yang agak lebai-lebai begitu.

Utang itu memang konsekuensi dari kebijakan fiskal yang ekspansif. Asalkan utang itu dikelola secara hati-hati agar tetap sehat. Sesuai kemampuan membayarnya. Dan juga produktif. Penyerapannya berdampak secara trickle down effect.

Sudahlah, ga usah bahas ini. UU No. 20 itu sudah memberikan fasilitas politik anggaran untuk pemerintah untuk mengambil langkah darurat. Kan pemerintah tidak mungkin diam toh  tanpa bikin suatu apa? Harus ada kebijakan cepat-cepat. Nanti omong soal ini di bab lain.

Mestinya RR explore ilmu. Jadi literasi publik soal ekonomi itu makin bagus. Basis kritik publik itu punya alas yang kuat. Apalagi dia mantan orang gede di negara. Sakin gedenya, dalam tempo beberapa bulan, dia gonta-ganti gawean sebagai menteri di pemerintahan Gusdur. Makin tinggi ilmu, dan pengalaman mestinya makin bersahaja. Ga usah terlalu RR sentris. Aku ga suka. Ga tahu yang lain?

Nah, apalagi baru-baru ini, kami yang di twitter land cukup heboh. Apa pasal? RR itu memblokir akun twitter staf ahli khusus Menkeu Yustinus Prastowo. Kenapa Pula RR berang? Berdebat kok ngeblok? Apalagi RR kan doktor ekonomi Boston Univ. Apa lacur berang dengan sarjana teologia si Yustinus itu?

Nah, omongan RR di twitter dan rilis CNBC itu, membuat saya buka-buka data. Bukan apa-apa, sudah beberapa waktu ini, saya merasa pemikiran ekonominya begitu-begitu melulu. Lah, saya itu orang yang doyan beyond the old thing, dalam urusan ilmu pengetahuan.

Kalau omongannya begitu-begitu saja saya emoh. Bisa-bisa jadi kurang ajar. Bisa kasar. Karena passion saya itu pada kebaruan. Apa-apa itu kepengen baru. Kecuali bini. Kalau bini pun harus baru, itu bisa berabe. Bisa terbang lintang pukang segala apa yang ada di dapur.

Kalau omong data aktual, RR lemah. Karena realative yield bond itu trend-nya menurun. Itu bukan saya ikut-ikutan. Tapi gegara RR omong begitu, saya search yield obligasi Indonesia dan Indonesia 5 Years CDS – Historical Data. Sampean pusing toh, Credit Default Swap (CDS) ini makhluk apa? Juga apa itu yield?

The Indonesia 5 Years Sovereign CDS (source : http://www.worldgovernmentbonds.com/)

Sederhananya begini, yield itu tingkat keuntungan atau imbal hasil yang diperoleh investor yang membeli obligasi pemerintah. Sementara, CDS itu Ibarat kata antum memberi pinjaman dan kedepannya takut si peminjam gagal bayar, maka antum beli produk derivatif kepada investor lain dalam bentuk swap dengan membayar premi. Tempo bila si peminjam gagal bayar, maka CDS ini sebagi produk derivatif untuk mitigasi risiko gagal bayar.

Makin rendah CDS, artinya persepsi investor terhadap si peminjam itu bagus. CDS obligasi Indonesia dalam posisi demikian secara aktual sesuai data.

Nah, untuk kasus obligasi pemerintah, berdasarkan data Wolrd Goverments Bonds (WGB), CDS values Indonesia itu memilik trend menurun. Baik CDS surat utang 5 th dan 10 th. Masing-masing grafiknya bergerak menurun dari  CDS values tertinggi di bulan Maret 2020. Untuk itulah saya keberatan dengan RR; kenapa dia blokir akun lawan debatnya. Debat saja berbusa-busa. Bila perlu ketemu dan saling tuding menuding. Tidak apa.

Selanjutnya, kenapa sampai RR blokir akun twitter Yustinus Prastowo, yang konon adalah staf ahli khusus itu. Karena dia tanya, data relative yield meningkat itu dari mana? Kan tinggal RR jawab dari mana kek, pokoknya data yang kredibel. Data yang academicly. Tinggal jawab kok.

Kok malah ngeblok akun YP. Baper bangat sih? Dalam urusan kecil-kecil begitu sudah ngeblok. Apa bedanya dengan rezim? Terkecuali RR itu perempuan. Ada waktu-waktu manakala sistem hormon lebih banyak bekerja pada sistem reproduksi kala dapet. Dateng bulan. Otak kurang di-supply hormon. Bahwaannya baper. Emosian. Ga rasional.

Nah, kalau kita lihat data lagi. Baik Asien Bonds, Global Bonds atau lainnya, juga menunjukkan trend penurunan yield. Jika dilihat pada posisi overweight terhadap obligasi pemerintah Indonesia, konsesensus pasar memperkirakan yield SBN 10 tahun akan melandai dan turun.

Intinya begini ya, Obligasi Pemerintah Indonesia 10 Tahun memiliki imbal hasil 6,263%. Suku Bunga Bank Sentral adalah 3,75% (modifikasi terakhir pada November 2020). Dan Peringkat kredit Indonesia adalah BBB, menurut lembaga Standard & Poor’s.

Imbal Hasil Obligasi Indonesia 10 Tahun (source : https://id.investing.com/)

Sementara Kuotasi Credit Default Swap 5-Tahun saat ini adalah 79,32 dan probabilitas default tersirat adalah 1,32%. Probabilitas default tersirat ini tergolong kecil bila dilihat data sebelumnya. Itu artinya, secara treasury, Indonesia juga menunjukkan trend perbaikan.

Kan begitu teorinya toh? Kalau Yield tertekan, maka nilai surat utang membaik. Demikianpun sebaliknya, bila yield meningkat, maka harga surat utang tertekan. Ini sudah paling standar dan sederhana dalam pemahaman awam kita.

Kenapa Yield SBN menurun? Karena CDS juga menurun secara aktual selain faktor komponen PDB yang ikut me-leverage ekonomi nasional. Trend penurunan CDS value, itu merefleksikan persepsi investor, bahwa pemerintah mampu menjamin obligasinya. Kira-kira begitu lah ya. Kan di pasar portofolio, itu orang berdagang persepsi. Tentu basisnya adalah kinerja konkret.

Di media rujukan pasar seperti Bloomberg, juga menunjukkan obligasi RI menanjukan perbaikan. Menyalip India. Indonesian Bonds Trounce India’s, Bringing Yield Parity in View (Bloomberg, Marcus Wong, 20/11/2020)  

Nah, saya mau, RR itu berdebat disini. Bagaimana dia berargumen, di balik semua data-data ini. Bahwa, bagimana utang (baik dari obligasi, pun utang bilateral dan multilateral), dan pemanfaatannya. Jangan sampai utang ini, realisasinya muter-muter macam gasing di seputar pasar modal saja.

Jangan sampai likuiditas di financial sector  itu mengalami obesitas, tapi sektor riil—termasuk UMKM lelet tumbuh. Kontrol demokrasi–melalui civil socaety itu menjaga ini. Inilah tugas RR dan kawan-kawannya. Dorongan civil society adalah ekonomi kerakyatan (sesuai konstitusi) itu bergerak atas sokongan berbagai bauran kebijakan (antara moneter dan fiskal). Bukan blokir akun. Selain pamor RR rontok, itu juga menunjukkan RR cemen.

 

***

Memang ada perdebatan soal obligasi pemerintah ini. Misalnya, terkait soalan yield-nya bila dilihat dengan negara-negara lain (peer countries) secara data historis. Dari negara-negara Asean, berdasarkan 10 LYC Goverment Bonds yield, Indonesia itu secara data histori 3 tahun terakhir masih tinggi

Kalau lihat data negara-negara peer cauntries, dalam kaitannya dengan yield berdasarkan LCY, Indonesia tergolong lebih tinggi diantara peer cauntries. Meski lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Tapi tentu Indonesia harus punya benchmarking, agar terus menata berbagai aspek fundamental ekonomi, agar surat utangnya lebih baik dan menguntungkan.

10 LYC Goverment Bonds yield (source : Asian Bonds Online)

Dari komposisi kepemilikan pun demikian. Dari data foreign holdings in LCY goverment bonds, foreign holding atau kepemilikan asing terhadap surat utang Indonesia juga tergolong paling tinggi diantara peer cauntries. Per 20/11/2020 itu diposisi 27%. Kendatipun trend pergerakannya menurun, namun masih lebih tinggi bila dibandingkan dengan negara-negara sebantaran.

Tapi tidak selamanya jelek ihwal demikian. Karena selain menggambarkan seksinya obligasi pemerintah (selain faktor yield yang masih tinggi diantara peer countries), juga menunjukkan berbagai kondisi perbaikan fundamental ekonomi yang membikin persepsi investor pelan-pelan membaik.

foreign holdings in LCY government bonds (source : Asian Bonds Online)

Namun komposisi asing yang besar itu harus dikelola secara hati-hati dan menguntungkan—secara perekonomian rakyat. Agar jangan hanya dinikmati orang-orang gedongan yang basah di pasar modal. Atau sebatas pencitraan ekonomi dengan likuiditas yang gemuk. Tentu dengan global uncertainty pun global volatily yang masih tinggi, selalu ada risiko. Itu mesti diwanti-wanti RR. agar ekonomi kita tidak crash. Atau terkaram. Indonesia ini kapal besar. Penumpangnya 270 juta jiwa. Kalau sampai terkaram bagaimana? Jangan baper dong !

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *