Air Mata Buaya Ngabalin

Baru saja membaca si keparat Hitler yang fasis, disebut-sebut Michael H. Hart sebagai salah satu orang berpengaruh, dari 100 tokoh di dunia. Konsentrasi saya tiba-tiba beralih ke, Najwa yang crewet dan cengking seperti burung Kecer, menguber-uber Ngabalin yang ikut dalam rombongan Kunker KKP di ujung sambungan call conference.

Di ujung sambungan telepon ihwal OTT Menteri KKP Edhy Prabowo, tiba-tiba, Ali Mochtar Ngabali mewek. Ia menjawab pertanyaan Najwa dengan sengau. Mulutnya terdengar kaku. Hanya tangisan kecil tersendat-sendat mewakili ucapan. Saya tunggu-tunggu, bisa jadi dari mewek meledak menjadi histeris sebisanya seperti orang kehilangan bini. Atau cuma menangis China macam si Meimei. Apa soal? Apa urusan? Fuih !

Siasat verbal Ngabalin yang tampak demagogis seperti biasa, pun luntur. Saya membayangkan, wajah Timurnya menjadi begitu melo, andai dia tampil live di Mata Najwa. Tapi setelah itu saya bertanya, berapa sih honor perjalanan Kunker Ngabali bersama menteri KKP sebelum di ciduk lembaga anti rasuah sehingga dia seloyal itu?

Dalam beberapa urusan percintaan, air mata bisa jadi alat menipu. Si Mina berselingkuh, tertangkap basah si Udin. Untuk menggebah kesalahan, Mina menagis sebisa mungkin sembari mengucak rambut keribonya. Menghalau perbuatan seleweng. “Aku terpaksa selingkuh Din, sudah tak tahan dengan cuekmu yang kebangatan. Kau pikir perasaanku ini tembok? Hah? Aku ini perempuan lemah Din !” Kata Mina membela diri. Selingkuh tetaplah selingkuh di mata Udin yang roboh cintanya seketika.

Saya pun bertanya-tanya, kenapa Ngabalin secengeh itu? Lembek dan melo. Kalau _live,_ bisa jadi; air mata tangisan kecilnya tumpah, hendak menggahar empati publik. Lah, air mata Ngabalin itu mewakili siapa? Saya pun heran bukan kepalang sampai menepuk jidat berkali-kali.

Mewakili semua barang branded punya bini si Edhy? Tas louis vuitton atau Hermes seharga ratusan juta? Mewakili baju Old Navy? Jam Rolex? Jam Jacob n Co? Koper Tumi? Tas koper LV? Sepeda sporty Yamaha ratusan juta? Atau saldo rekening yang ujuk-ujuk bertambah secara eksponensial?

Di ujung sambungan telepon, Suara Ngabalin berat dan bergemetar. Kalau live, bisa jadi tubuhnya goncang seperti gempa bumi. Garis wajah Najwa menyelam. Mata si Najwa tajam sembari miring menguping ke suara call conference. Jidatnya Kerut. Penuh tanya. Najwa memastikan lagi, “Apakah anda menangis bang Muchtar Ngabalin?” “Tentu.” Dengan nada berat, Ngabalin menjawab.

Muntahan air mata Ngabalin tak mewakili suasana kebatinan rakyat kecil. Justru itu tangisan kurang ajar. Tangisnya cuma mewakili setumpuk barang-barang branded dan rekening tambun milik Edhy dan bininya. Ini kali kesekian Ngabalin norak dan lebay.

Air mata ngabalin itu tak sopan, air mata buaya. Ia menangis mewakili orang-orang yang estblished secara ekonomi. Kenapa banjir air matanya tak tumpah, mewakili jutaan buruh yang di PHK karena Pandemi? Mewakili pekerja serabutan hilang pendapatan? Mewakili asap dapur jutaan keluarga miskin yang blangsak tak karuan sepanjang Pandemi Covid-19?

Ngabalin menangis di tengah druwe bergelimang pundi-pundi. Ia tak pantas melakukan itu, sementara tak sedikit rakyat yang nestapa. Tak ada yang empati. Justru ia membikin dongkol. Air mata murahan, tak laku sepeserpun. Atas air mata tipu-tipu itu, saya sarankan Ngabalin minta maaf ! “Mohon maaf, saya telah menangis mewakili tas louis vuitton atau baju Old Navy, sebagaimana yang disita KPK. Sekian dulu !

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *