Selamat Ultah Dik Penja

Abdul Syukur (Foto : Adm Doc)

Sabtu, 5 Desember 2020, stasiun Cilebut tampak lengang. Hilir mudik orang tak semepet hari biasa. Penumpang tak berbebar di mulut jalan, seperti hari-hari kerja. Dari arah peron satu, mata saya agak silau disenter mentari pagi. Dengan mata mengeceng, saya lihat ke jendela commuter, tampak gerbong-gerbong kosong melompong.

Si mak penjual lopis tak tampak di bahu jalan. Uni penjual lontong sayur nan gurih tak nangkring seperti biasa. Si mba penjual pecel juga tak nongol. Pecelnya manis dan gurih. Apalagi dicampur bakwan yang disuwir-suwir. Kuah pecelnya meleleh, melarut ke dalam bakwan. Gurih dan juicy. Tiap hendak naik kreta, saya selalu mengganjal perut dengan pecel dan satu atau dua bakwan.

Hanya pak tua penjual buah yang duduk selonjor di bahu jembatan Cilebut. Menjajakan buah-buah segar. Itupun pak tua cerita, buahnya tak laku. Membusuk. Sementara modal sudah tipis. Abang-abang ojek yang biasanya bikin mepet bahu jalan pun tampak sengang. Jalur depan stasiun yang biasa gaduh dan sumpek dengan tawaran ojek, tampak lenge.

Orang-orang memilih ngetem di rumah kala weekend. Beberapa hari ini, cluster Covid-19 commuter Jabodetabek meningkat tajam. Sekumpulan amoi kece, duduk pelototin layar smartphone di peron. Saya menyempil diantara. Basa-basi, kenalan sambil nunggu commuter tujuan Cawang.

Di stasiun Cilebut-Bogor, saya teringat ulang tahun Penja. Entah keberapa? Yang jelas Penja masih muda di tanggal 5 Desember 2020. Wajahnya masih imut dan cengeh. Penampilannya masih parlente dan kekinian. Ini tulisan berikut yang selalu saya share di hari ultah Penja.

Pertama kali kenal Penja, tubuhnya ceking. Rambutnya jabrik. Agak kumal dengan celana kedororan. Saya pernah sarankan Penja, berhenti gunakan celana bahan, karena membikin dia tak fashionable.

Kadar ketampanannya stagnan. Tidak good looking. Kecepatan tua sebelum tiba masa. “Ingat Penja, kita harus tampak gagah di mata Kohati-Kohati itu.” Saya pernah ingatkan Penja sampai sebegitunya.

Dia tampak more manly kalau pakai Jeans. Rombengan romol tak apa. Tapi Jeans-nya jangan terlampau kemomos macam aktivis Mapala. Celana bahan tak apa. Asalkan modis. Jangan sampai celana bahan yang kadang kedodoran macam penyanyi hip hop Brooklyn, AS.

Saya pernah baca buku Hari-hari yang Panjang 1963-1966, punya dr. Sulastomo, mantan ketum PB HMI (alm). Dibukunya dia cerita, salah satu daya tarik HMI kala itu adalah HMI-wan yang maco  dan parlente. Pula Kohati-nya modis, manis dan wangi-wangi. Beda dengan anak-anak CGMI dan Gerwani yang romol, kemomos dan bau. Saya cerita buku itu pada Penja.

Saya bukan baru satu atau dua tahun kenal Penja. Sudah lama. Tiap kaki saya injak bandara El Tari, sosok pertama yang terngiang di kepala adalah Penja. Selalu dia dan dia.

Macam film Kabi Kushi Kabi Gam. Ketika Rahul menghujam kakinya di tanah, jantung mamanya sontak berdebar-debar. Itulah cinta. Pula saya, tiap menginjakkan kaki di bandara El tari, magnet penja begitu kuat menghela. Itulah soulmate

Apapun alasannya, harus bersama Penja. Entah makan jagung bakar berbalur keju dan susu kental di Oesapa, atau jagung pulut di pantai Teddy’s Bar Kupang. Biasanya, sore-sore, kami seruput kopi di Oesapa, sembari melihat senja yang tenggelam, hingga lekuk teluk Kupang dibikin memerah seperti lahar.

Dari sisi Pantai Oesapa, kami melihat Pulau Kera. Teringat pak Naseng Rabana dengan tongkat keramatnya. Kalau sudah marah, dengan dada mendongak, kopiah menceng, tongkat itu ditikam dalam-dalam ke tanah. Entah apa tujuan?

Saya bilang, itu ilmu swanggi. Pak Naseng tua adat suku Bajo yang keukeuh mempertahankan legacy. Di pulau seuprit itu, idealisme dan ideologi keberpihakan kami pernah di asah; kala masih HMI. Di ujung  tongkat si tua Naseng dan anak-anak HMI Kupang yang kepala batu, 46 KK Pulau kerah meletakkan masa depan. Kala itu.

Di Pula Kera, kami sama-sama meluruskan cara pandang. Ketika penguasa lokal melihat laut dan pantai sebagai modal, komoditas dan investment. Manusia, hak hidup, hak sosial, politik dan hak beragama digerus demi arus modal dan investasi. Tiap hari, dalam diskusi, kami aktivis HMI memaki-maki perselingkuhan penguasa, demagong dan cukong di kabupaten Kupang.

Sulit bagi logika mahasiswa kami kala itu, untuk menerima social and political violence terhadap warga Pulau Kera. Mereka tak bisa buat KTP atau KK. Tak punya sekolah, tak bisa dapat Raskin (kala itu). Tapi tiap Pemilu atau Pilkada, mereka ikut mencoblos. Hak asasi dan konstitusi mereka ditampik negara. Tapi hak politiknya dijadikan alat legitimasi penguasa lokal yang songong dan badung.

World view kami berbeda sama sekali dengan mereka. Dengan teropong masyarakat lokal dan kearifannya, kami melihat laut sebagai nafas kehidupan. Sebagai mata rantai ekosistem. Sebagai eko-sosial. Melihat manusia dan alam sebagai sistem nilai yang utuh. Sebagai kelangsungan hidup anak cucu.

Ini efek pejabat kurang piknik dan nonton TV luar negeri. Global knowledge  minus. Coba kalau dia lihat pulau Santorini, Mykonos atau Poros di Yunani sana yang sering nongol di channel Natgeopeopple. Alam, manusia dan local geniuses adalah entitas tunggal dalam industri pariwisata.  Industri wisata masa depan adalah berbasis ecotourism dan sociotourism. Keindahan pulau Kera dan keunikan masyarakat suku Bajo di Pulau Kera, adalah paket komplit Pariwisata.

Di  Pulau Kera, teologi sosial kami mengalami verifikasi dan pendalaman. Kesalehan bergama kami diperhadapkan dengan tuntutan kesalehan sosial dan kesalehan bernegara. Buku-buku Islam progresif Asghar Ali Engineer, Hasan Hanafi dan lainnya yang kami baca di Komisariat, mengalami verfikasi faktual. Uji kesahihan secara konkret di lapangan.

***

Suatu malam nan gelap; hampir dini hari, kami menabrak ombak menuju di Pulau Kera. Malam-malam, pak Arsyat datang ke HMI Kupang mengadu dengan mata sembab. Besok mereka digusur Pemkab Kupang. Saatnya HMI membela kaum mustazd’afin.

Di Pulau Kera kami tidur di bale-bale bambu reot. Sebuah rumah panggung tanpa atap. Direndam hujan semalam suntuk. Tidur beratapkan langit, dengan mata menggahar bintang yang pudar di balik awan dan mendung yang berdedai. Agin malam menghantam perut kami yang keroncong.

Malam yang hening di Pulau Kera. Hanya terdengar pecah ombak-ombak kecil di bibir pantai dan ikan yang berkecipak. Seperti dalam film Cast Away. Malam-malam di pulau kosong, di tengah lautan Pasifik Selatan, yang dilalui Chuck Noland  (Tom Hanks). Film box office yang dirilis di akhir tahun 2000. Bedanya Chuck Noland  seorang diri. Sementara kami bertiga. Saya, Penja dan Rion. Ada warga. Tapi malam itu hening. Mereka was-was, besok sudah digusur. Paginya kami diuber-uber preman dan Satpol PP. Bersama warga Pulau Kera, kami bertahan. Itulah memoar bersama Penja.

Suatu sore, kami duduk di bibir pantai Oesapa. Mengunya jagung bakar dan seruput kopi. Saya ditraktir Penja. Lalu lalang beberapa ABG berpasangan baru naik bodi. Saya dan Penja saling melirik sambil berkelelot dalam tertawa kecil yang pecah. Teringatlah memoar cinta Penja yang terjejas di becak tua Waingapu-Sumba Timur. Ataupun cinta lain yang terkaram kala masih HMI.

Dalam urusan ini (cinta), Penja macam Gladiator. Maju, kaki ditekuk dengan kuku mencengram tanah. Pantang mundur. Agresor ulung. Cuma itu, selalu saja gayung tak bersambut. Hingga ia menekuk si gadis jeruk. Penja adalah sosok yang genius dalam merawat harapan.

Saya kenal Penja sekenal-kenalnya. Kapan dia marah, kapan dia gembira saya tahu persis detail-detailnya. Saya paham, di level mana emosi Penja bisa diaduk-aduk, hingga di level mana dia bisa tersanjung sampai melayang seperti burung Andes.

***

Apa yang cocok saya ceritakan padamu Penja di hari baikmu? Oh ya, di tanggal 1 Desember 2020, saya nonton film WROM SPRINGS. Kisah penuh epos sosok presiden Emerika ke-32, Franklin Delano Roosevelt.

Satu-satunya presiden AS yang empat kali menang Pilpres. Ditangannya, AS mendulang kemenangan di Perang Dunia ke II.  Roosevelt juga mampu membawa AS keluar dari depresi ekonomi di tahun 1933-1936.

Untuk jadi begitu, tidak mulus bagi Roosevelt. Dia pernah apes, seapes-apesnya. Turun pamor serendah-rendahnya. Ibarat kata, pamornya turun sampai rata ke tanah. Tak direken oleh elit dan politisi Amerika Serikat. Karir politiknya nyaris tamat.

Roosevelt menderita Polio. Kakinya jadi kempis hingga lumpuh menahun. Pergi dari orang-orang sekitar. Jauh dari anak dan bini. Ngumpet di kampung nan udik di Warm Spring, Georgia. Tinggal di sebuah rumah lawas yang reot dan tampak sudah menceng.

Di Warm Spring, Georgia, ia merawat harapan. Bersama orang-orang blangsak yang sama nasib, lumpuh. Tapi harapanya pelan-pelan tumbuh.  Harapannya tak ikut lumpuh.

Ia bangkit karena sokongan cinta sang Istri, Eleanor Roosevelt. Dengan fisik yang dibopong kemana-mana, ia ikut kontestasi politik Pilpres.

Menang telak empat kali Pemilu. Roosevelt adalah presiden yang mampu membawa ekonomi AS keluar dari depresi hebat di tahun 1933-1936. Di tahun-tahun itu Amerika dilanda nestapa. Ekonomi ambruk, kisruh sosial menyembul dimana-mana.

Dengan baleid New Deal yang disetuji kongres AS, Roosevelt memperkuat social safety net. Ia bangun sistemnya dengan Temporary Emergency Relief Administration (TERA) di negara-negara bagian.

TERA ini macam dana PEN dan BLT kalau di Indonesia.  Ia tingkatkan produksi pertanian. Menjaga agar petani tak kehilangan tanah di tengah depresi ekonomi. Ia genjot habis-habisan financing untuk petani dan industrinya. Intinya, orang tak boleh lapar dan jatuh sakit selama depresi.

Dalam beleid New Deal, Roosevelt bertekad menyeret AS keluar dari depresi ekonomi maha dahsyat. Dalam baleid New Deal, Roosevelt mengusung tema relief, recovery dan reform.  Salah satu ide gila Roosevelt saat depresi ekonomi AS adalah Bank Holidays. Semua bank di AS ditutup. Dia kerja jor-joran memulihkan kepercayaan rakyat AS pada pemerintah.

Bank Holiday itu tujuannya untuk memberi ketenangan pada publik. Kepercayaan pada pemerintah pulih, berikut sistem perbankan. Tahun 1936, tidak satupun bank mengalami kegagalan di AS.

Pesan apa yang hendak saya sampaikan padamu Penja, tentang Roosevelt? Orang-orang besar seperti Roosevelt pernah nestapa. Hidupnya pernah digulung derita sedemikian rupa. Tapi mereka tak gegai.

Yang mereka lakukan adalah MERAWAT HARAPAN. Biar kehidupan rontok; rata ke tanah, harapan tak boleh terhuyung-huyung hingga roboh mengenaskan. Dari sini orang-orang seperti Roosevelt bangkit. Anjak dari kepayahan.

Saya tahu, kadang Penja doyan berada di zona kontroversial. Itu pilihan. Bahkan cintanya juga kadang kontroversial. Di bagian-bagian khusus, saya punya permakluman atas pilihan Penja itu.

Kalau pasal ini, hanya saya dan penja yang tahu. Cintanya pernah ditolak 5 kali. Setahu saya begitu. Tapi Mana pernah dia mundur. Satu senti pun tidak.

Dalam pemikiran, apapun; dan belakangan di bidang sosial dan politik, di kanal-kanal sosmed termasuk WAG, Penja acap kali diserang agak garang. Dia loyalis Jokowi dan kiai SAS. Saya juga menyerangnya.

Tapi tetap tak ada mati-matinya ini anak. Sesekali dia WO dari group WA. Tapi nyanda sangka hidup lagi seperti disetrum batrei al kalin.

Saya pernah belajar tentang anatomi fisiologi hewan-hewan invertebrata seperti cacing. Kalau cacing itu, setiap bagian tubuhnya memiliki kutikula yang selalu lembab dan basah agar bisa bernafas.

Cara cacing berkembang biak itu dengan berfragmentasi. Setiap potongan tubuhnya menjadi spesies baru cacing. Begitu pula Penja

Dia meliuk kemanapun tetap bisa bernafas dan selalu di tempat basah. Dari HMI, MUI, Radio Alhikmah, GP Ansor, DPW NU, partai PP dan sekarang di kantor PU yang tiap hari urus besi beton dan aneka material bangunan. Satu-satunya anak GP Ansor yang bolak-balik Kupang-Jakarta macam langgar selokan adalah Penja.

Di semua tempat itu, ia bernafas tanpa suatu aral berarti. Digencet sampai penyetpun tidak hancur seperti krepe.

Ibarat cacing yang licin, setiap tikung etape hidup, dia bisa survive dan makin menjadi-jadi. Ini anak HMI tulen. Ga ada mati-matinya. Laki-laki Sampoerna Hijau; Tak ada Penja tak ramai.

Ibarat makanan, Penja itu mirip kue waffle. Rasanya gurih, manis, creamy dan juicy. Ada kejunya yang bila kelebihan bikin enek. Ada strawberi yang kalau berlebih malah kecut mirip asinan Bogor. Pula ada susu dan kalau kelebihan, hilang rasa waffle-nya. Ada cream yang kalau berlebih malah meluber dan tak tampak waffle.

Penja harus dilihat dalam porsi yang pas sebagaimana takarannya. Biar dia tampak seperti Penja sebagaimana human beings.

***

Tempo pada tuliasan sebelumnya di hari ultah  Penja, saya bilang dia adalah bantal kaderisasi di HMI Cabang Kupang. Tempat bersandar yang empuk. Di sisinya adalah tempat melepas penat yang tepat kala mumet.

Untuk suatu ukuran, dadanya adalah tempat bersandar yang nyaman bagi kaum hawa. Kata-katanya dalam tutur dan surat-surat cinta adalah sihir.

Setiap kalimatnya memiliki cengkok. Mendayu-dayu seperti lagu dangdut Asep Irama. Tak lebih tak kurang, demikian adanya Penja.

Rajin. Lentur dan lincah seperti Charlie Chaplin. Dia bisa melintir dengan lincah kemana-mana seperti Pokemon. Bisa diletakkan dimana-mana. Dia ulet seperti Ray Crock pemrakarsa raksasa bisnis McDonald’s.

Tempo di ujung tahun 2004, ia pernah sekejap dikudeta kala terpilih sebagai ketua Remas Oesapa. Apa soal? Hanya karena tak direstui imam masjid. Meski sama-sama Bugis tulen. Entahlah?

Ini urusan manuver politik tingkat tinggi sesama anak-anak kos Baco yang sulit dianalisa. Sekejap ia dilengserkan setelah satu jam lalu dipilih dengan suara mayoritas—menang telak. Ini biografi politik Penja paling pahit manakala ditulis karir politiknya dari bawah.

Banyak yang tak tahu, kalau bikin apa-apa, Penja selalu tulus dan asyik. Bukan berarti dia kaleng-kaleng. Bukan ! Di HMI dia bukan kader ala kadar. Bisa masak, bisa bedah buku, bisa resensi buku, rajin menulis artikel/opini, bisa berdebat ilmiah.

Omong hukum sudah  major-nya. Merobohkan hati Kohati saja yang dia engap-engap; dulu. Apalagi si Sephia; gadis hayalan yang membuat hatinya remuk seperti abon.

Dia sosok yang bertalenta. Suatu saat dia menggumpal dan menjulang menuding langit seperti piramida Mesir. Dia sosok yang looking forwad. Dalam hal-hal kecil yang tak kita anggap, penja punya pandangan yang visioner.

Siapa sangka, Penja yang pernah menulis 30 artikel Kultum sepanjang bulan puasa di tahun 2020, kelak menjadi tokoh paling kaliber di NTT? Wallahu’alam

Selamat ulang Tahun dik Penja. I Love You

by MS (Soulmate-mu)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *