Dunia Baru

Ini tata dunia baru pasca pandemi Covid-19. Semua relasi formal runtuh. Baik di dunia kerja, bisnis hingga percintaan, dll.

Ada istilah baru yang disebut Suzi Tahirian. Kolumnis senior di Forbes ini memperkenalkan istilah kesenjangan digital (digital divide).

Kecepatan internet dan ketersambungan, menjadi faktor baru ekonomi global. Yang lelet akan tertinggal. Sentrum ekonomi global adalah kendali internet of things

Agar tuan dan puan ketahui, indeks adopsi teknologi dan komunikasi Vietnam naik 26 poin sedangkan Indonesia cenderung turun 6 poin.

Adalah studi Atlas & Boots pada 2019, kecepatan unduh rata-rata Vietnam mencapai 7 Mbps sementara Indonesia hanya 6,7 Mbps.

Riset Hootsuite, pada Januari 2020, kecepatan Internet Indonesia rata-rata hanya 20,1 Mbps atau jauh di bawah rata-rata dunia (worldwide) yang mencapai 73,6 Mbps.

Tapi mau bagaimana? Kalau Menteri Johnny Gerald Plate bilang internet Indonesia tak ada masalah ya sudah, tak ada masalah. Mau bantah?

Dinamika mendasar dari kerangka kerja global saat ini menegangkan lembaga-lembaga tata kelola global. Perlu ada struktur baru pembangunan ekonomi. Kita harus menyadari bahwa kita sebenarnya sudah berada di puncak disrupsi.

Akar-akar formalisme itu sudah tercerabut. Sebentar lagi satu dunia sudah melayang-layang dalam jagat artifisial. Siapa menguasai “big data, dia yang kuasai dunia.”

Ada yang guyon, jangan-jangan dalam Vaksin itu ada microchip. Kelak bila semua orang sudah disuntik, data pribadinya dikendalikan oleh satu CPU raksasa yang dikuasai kekuatan besar.

Tapi ini bukan guyon. pada pertengahan 2020. berdasarkan survei Yahoo/YouGov sebanyak 44% responden pendukung partai Republicans percaya teori konspirasi microchip dalam vaksin Covid-19. Sementara dengan 19% pendukung partai Democrats. Bill Gates sudah bantah, itu hoax.

Jika benar adanya, mulai dari tidur, bangun, tidur lagi, semua dideteksi. Mau beli feniti sampai odol gigi, transaksinya terdeteksi. Tak bisa mengelak.

Ini yang disebut Muhammet Ali Guler (Kandidate doktor di the University of Malaya) sebagai “The new world order with new values.” Tata dunia baru dengan nilai-nilai baru.

Adanya zoom meeting, llustrasi WhatsApp, Google Hangout Meet, skype, Facetime, Slack dan cisco webex. Ini planet baru manusia pasca Covid-19.

Dari control smartphone, para manejer memonitoring anak buah. Pekerja tak lagi bertemu bendahara kantor. Orang tak lagi kenal uang cash.

Upah pekerja sudah berbasis layanan daring. Semua serba Electronic Funds Transfer (EFT).

Berita di China Start, merilis, sejak Mei 2020, Tiongkok sudah bayar gaji PNS dengan uang digital RMB (virtual renmimbi).

Di Indonesia, presiden sudah bicara “mudik digital.” Tak perlu sungkem, mencium kaki ibu dan ayah di hari lebaran.

Kehadiran dan sentuhan diganti dengan yang artifisial. Ruang, jarak, kehadiran dan sentuhan menemukan pattern baru. Hubungan kemanusia sudah kadung bersandar pada berbagai platform sosial media.

Kita akan alami impersonal relationship. Berelasi tanpa perlu hadir secara fisik (impersonal).

Bentuk asli manusia dan bangunan sosial, ada dalam rekayasa industri digital. Yang jelekbisa jadi baiksecara artifisial. Yang bajingan bisa jadi humanis.

Resolusi layar digital dan kecepatan “internet of things,” menyulap semuanya. Jarak manusia dekat. Terpampang. Tapi absurd.

Suatu waktu, hasrat biologis, akan direkayasa sebagai gelombang signal yang mampu ditransmisikan kepada sesama. Cinta, kerinduan dan sentuhan, menemukan pola baru– artifisial.

Wassala

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *