Gemuk Tapi Ringkih

Penulis : Munir Sara

Semua berita isinya sama. Pertama soal stimulus ekonomi, kedua soal dinamika pasar modal. Jangan tanya berita politik, isinya itu-itu juga. Bosan !

Diskursus politik isinya Denny Siregar, Parmadi Arya dan Ruhut Sitompul. Naik sedikt paling Adian Napitupulu. Terkerek sedikit Budiman Sujatmiko. Isinya ya begitu-begitu saja—menjilat.

Logika pasar dan oligarki, telah memilintir isi kepala dua manusia kiri ini (Adian & Budiman). Yang dulu anti status quo, anti kemapanan dan hegemoni, kini memble dan letoi secara jamak.

Paling sebentar ya berita soal Ahok, terkerek sedikit ya ke Mensos Risma. Isi beritanya juga melulu sama. Kalau ga marah-marah ya penjat tembok atau masuk selokan.  Bosan kan?

***

Di rubrik ekonomi, postur makro kita masih seputar konsumsi. Ini sudah ulang-ulang diomong para ahli. Data BPS pun begitu.

Kira-kira 56% GDP itu dari domestic consumption/household consumption. Ini kalau liat GDP dari sisi pengeluaran.

Dengan struktur GDP demikian, mestinya produksi nasional ditingkatkan. Khususnya yang subtitusi.

Tapi dari data BPS, terlihat, sektor industri selalu tumbuh di bawah GDP dalam satu dekade terakhir. Apa artinya?

Itu berarti, untuk menopang 56% domestic consumption dari GDP, lebih banyak ditopang oleh impor.

Rata-rata produk pangan kita impor untuk melancarkan supply chain. Jika tak impor, akan memicu inflasi (dari sisi volatile food).

Beras impor, demikian juga produk pangan lain seperti garam, kedelai, garam. Ubi-ubian pun impor. Termasuk cabai merah kriting.

Lihat data dua bulan teraakhir 2020, sebagaimana report BPS. Inflasi harga bergejolak itu lebih tinggi dari inflasi umum.

Artinya, ada rantai pasokan yang tersumbat. Entah ini alamiah atau permainan. Pada intinya, bila ihwal itu terjadi, maka keran impor dibuka.

Disisi lain, cadangan devisa kita tipis. Karena selain impor-imporan, Cadev juga digunakan untuk bayar bunga utang LN (jatuh tempo). Hingga Q3 2020, utang LN RI sudah Rp5.768 triliun.

Ingat ya, meski di media menulis Cadev kita besar, tapi belum tentu strukturnya demikian. Cadev juga bisa bersumber dari penarikan utang LN (baru)—selain penerimaan luar negeri lainnya.

***

Dengan kosumsi domestik terhadap GDP yang besar (56%), sementara produksi nasional di bawah pertumbuhan rata-rata GDP, maka mesti buka keran impor untuk penuhi konsumsi domestik

Dengan ruang fiskal yang tertekan—dari sisi penerimaan negara, maka sudah pasti untuk nafsu fiskal yang ekspansif di-doping dengan hutang.

Ekspansi fiskal berarti, pemerintah akan belanja jor-joran. Defisit APBN adalah konsekuensi dari ekspansi fiskal. Dari mana sumber pembiayaan defisit? Sudah pasti dari utang/obligasi negara

Dus, keseimbangan primer (primary balance) APBN pun tampak defisit pada APBN 2020. Artinya, bunga utang, dibayar dengan utang baru.

Jadi APBN kita itu seperti “debt circle. Mutar kesana kemari, mentoknya di hutang juga.

Ada seorang senior di WAG, bertanya pada saya, “jangan asal bicara, kalau kamu menteri keuangan, apa yang kamu lakukan disaat begini (pandemi)?” Saya balik tanya, kalau Menkeu kembali ke posisi saya, apa dia manut-manut saja?

Saya baca beberapa pendapat para ahli  di kampus-kampus ternama, pun para aktivis pemerhati ekonomi, Saya ikut diskusi dari satu webiner ke webiner lain. rata-rata prihatin.

Kata salah satu pengusaha yang kemudian masuk partai, sebelum pandemi, pertumbuhan ekonomi kita sudah karam di 5%. Industri kita sudah lama letoi. business model negara ini tak jelas arahnya.

Kredit juga ga tumbuh-tumbuh. Kalau kredit tumbuh berarti dunia usaha ada akselerasinya–dampaknya ke ekonomi juga.

Saya lihat data di Warld Bank pertumbuhan kredit ke privat sektor terhadap GDP Indonesia rendah bila dibandingkan dengan negara sebantaran (peer cauntries).

Domestic credit to private sector (% of GDP) – Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, Singapore. Indonesia paling rendah kredit ke privat sektor terhadap GDP.

WB- Domestic credit to private sector (% of GDP

 

***

Dari webiner ke webiner itulah saya pelajari omongan orang-orang hebat itu. Mereka minta, ekonomi kita ini harus pelan-pelan digeser, dari yang mengandalkan konsumsi ke produksi.

Kalau bicara GDP dari sisi lapangan usaha, maka otomatis soal “nilai tambah.” Ada 17 Sektor lapangan usaha ini mesti di genjot. Domestic credit to private sector (% of GDP) juga dikerek. Tempo sudah lama sekali para ahli ingatkan Jokowi demikian.

Fungsi intermediasi perbankan jangan slogan doang. Tapi mesti benar-benar terukur. Maksimal. Kalau dari data intermediasi perbankan belum maksimal.

Ini kalau ditulis terus tak akan habis urusan. Memang bukan perkara mudah. Tapi pemerintah mesti perlahan merombak struktur ekonomi. Harus jelas arah busniness modal-nya

Waktu efektif Jokowi tinggal dua tahun. Waktu selebihnya, ia akan digelayuti tahun-tahun politik yang serba blepotan. Semua akan onar di tahun-tahun tersebut. Sebelum terlambat, ayo mulai.

Jangan sampai meninggalkan utang yang tambun, tapi minim output ekonomi. Paling tidak, diakhir nanti, orang bilang “o, Jokowi mampu menggeser struktur ekonomi A ke B yang lebih efisien.” Itu saja sih maunya kami rakyat kecil !

 

@Bogor, Senin, 11/Jan/2021

by Munir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *