Eulogi Untuk Haji Natsir dan Bu Haji

Munir Sara (MS.Pic)

Dalam tempo empat hari, pak haji dan bu haji pemilik RM Murah, Fontein, Kupang di panggil Ilahi. Haji Natsir dan bu haji Aminah. Pak haji wafat 23 Januari 2021, bininya 26/1. Pagi tadi, bu haji menghembuskan nafas terakhir, kala sedang salat subuh.

Kala kembali pada-Nya, nama keduanya terdaftar di arsy Tuhan seperti absen sekolah. Berurutan dan bergiliran. Beberapa hari setelah pak Haji wafat, lalu disusul bu Haji. Allahu Akbar !

Tahun 2002, interior RM Murah Kupang cuma tripleks dengan cat kuning yang agak pudar. Lalu ada tiga baris meja. Tempat masak dan tempat makan berdempet. Aroma dan asap menyenggol indera pencium begitu masuk warung. Tempatnya agak sempit.

Tak selang lama saya tinggal di masjid raya Fontein, Kupang, tempat makannya sudah direnovasi. Sudah eksotis. Lebih adem, karena pagar dan atap yang dipenuhi sulur-sulur atau semacam beluntas. Di tempat terbuka, tapi terik panas tak tembus.

“Kali terakhir saya ketemu bu Haji dan suami, saat saya wawancara keduanya tentang Diaspora masyarakat Lamongan di tahun 2019. Itu terakhir saya melihat bu haji Aminah, dengan senyumannya yang tak pernah susut.”

Saya sementara bayangkan, betapa pahala bu Haji tak putus-putus, hanya gegara tiap hari, ia siaga dengan senyum pada pelanggan. Senyuman terasa hingga menggahar hati pelanggan.

Almarhum Haji Natsir termasuk tetua paguyuban Lamongan. Sahaja dan agamis. Nyaris sehari-hari peci hitam tak pernah lepas dari kepalanya. Ia mudah bicara dengan siapa saja.

Kata kawan saya, Herny Sukesi, pak Haji orangnya tak neko-neko. Ia salah satu orang Jawa yang doyan menyumbang. Seluruh orang Jawa di kota Kupang, mengenang akhlak pak Haji yang murah hati.

Waktu masih menjadi bilal, merangkap marbut di masjid raya Nurussa’adah, saya acap membantu pak Haji mempersiapkan segala sesuatu di masjid, bila paguyuban Lamongan merayaakan hari-hari besar Islam di masjid raya.

***

Dari nama warungnya saja bersahaja—RM Murah. Nama kaki lima rasa bintang lima. Waktu kantor HMI masih di Fontein, dari senior sampai anak-anak pasca Bastra makan disini. Selain murah, juga bisa ngutang. RM Murah itu momorable bagi kader-kader HMI Kupang

Menu sederhana dengan rasa yang nancap—khas Lamongan. Yang paling khas di RM murah adalah varian menu dan senyuman bu Haji.

Saya punya first impression dengan senyuman bu Haji di warungnya. Senyuman bu Haji itu yang bikin cita rasa menunya makin intim dengan pelanggan.

RM Murah punya menu-menu makanan yang umum. Sebagaimana rumah makan lain di Kupang lain. Ada nasi campur, nasi ikan, nasi ayam, soto Lamongan, gado-gado, pecal ayam, tempe penyet dan ikan bakar. Ada es kelapa, juga es cendol.

Kalau isi dompet sudah benar-benar kerontang, saya dan kawan-kawan HMI sering beli sayur lodeh buh Haji. Cukup satu porsi dengan harga Rp.2.500, bisa makan enam ketua komisarita HMI Kupang kala itu. Saya selalu minta bu Haji, banyakin kuahnya.

Namun rata-rata yang datang, makanya pecel ayam, gado-gado atau soto Lamongan. Saya sendiri sukanya soto Lamongan, tempe penyet atau gado-gado. Di RM Murah lah kali pertama saya makan tempe penyet.

Momen kedua makan tempe penyet adalah di Wonocolo-Surabaya. Tak jauh dari IAN Sunan Ampel. Dekat dengan Badko HMI Jatim. Saya sering di traktir Pa De Amin dan mas Totok (Ketua PAO Badko Jatim). Waktu LK III HMI di Surabaya, saban hari makan tempe penyet. Sesekali beralih ke nasi Rawon.

“Hingga melanglang buana di Surabaya dan saban hari makan tempe penyet Wonocolo, tempe penyet bu haji Aminah, tetap menjadi first impression di hati saya. Apa karena tempe di Kupang lebih gurih atau gegara senyum tulus bu Haji yang bikin RM Murah lebih intim dengan pelanggan.”

Soto Lamongan bu Haji kuahnya kental. Repih-repih keripik yang dimasukkan ke dalam mangkuk soto juga bikin rasanya makin nancap. Suwir-suwir ayam kampung dalam soto makin meledakkan cita rasa.

Gado-gado bu Haji juga rasanya komplit. Bumbu kacangnya kental dengan sayur-sayur pilihan yang segar. Saya suka meremas keripik hingga halus dan dirawak-rawak dengan gado-gado bu haji. Bikin gurih dan krenyas.

Saya bisa menghabiskan dua porsi tempe penyet kalau mampir di RM Murah. Tempe yang digencet hingga penyet, menyerap bumbu pecal yang manis dan gurih. Aroma jeruk dan bawang di cobek membikin rasanya kuat dan lekit.

Setiap ke Kupang, saya selalu ingin mengulangi sensasi itu. Mengenang masa-masa ber-HMI di Fontein, serta mengobati kerinduan pada gurihnya tempe penyet, soto lamongan dan terlebih-lebih senyuman tulus bu Haji Aminah. Selamat jalan bu Haji, senyumanmu adalah bekalmu di kehidupan  selanjutnya ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *