Kotak Amal Vs Cash Wakaf

Ilustrasi (MS.Pic)

Sejak bisa injak kaki di teras masjid, yang saya tahu, perbuatan paling dimurkai jamaah se desa, adalah nyolong kotak amal. Disumpahi orang sedesa sampai rasa-rasanya terkutuk seketika.

Setelah ada di tanah Jawa, saya baru ngeh, kalau kotak amal kini jadi musuh negara. Perburuan kotak amal begitu terstruktur dan masif di toko swalan beberapa waktu belakangan.

Polisi uber satu per satu kotak amal. Di penghujung 2020, Densus 88 merilis, 20.000 kotak amal mendanai teroris.

Kotak-kotak amal itu dicacah, hingga bentuk atau jenis khusus. Bisa jadi, apakah kotak amal yang tertulis kalimat Tauhid, diduga berunsur khilafah?

Kalau sudah di bab ini, cuma polisi dan Tuhan yang tahu. Ilmu kita masih cetek.

Salah satu lembaga dengan gerakan social philanthropy activism,  dituding terlibat jaringan kotak amal teroris. Namanya Lembaga Amil Zakat (LAZ) atau Baitul Maal Abdurrahman Bin Auf (ABA).

Tudingan itu ditampik. Selama ini, dana kotak amal dipergunakan untuk kegiatan sosial keagamaan. Juga kegiatan ekonomi. Itu pengakuan LAZ/ABA. Di situsnya pun tampak semua kegiatan riil berbasis kaum duafah.

Di tahun 2019, keuangan LAZ/ABA diaudit AP swasta. Mendapat predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). LAZ/ABA juga diawasi dan dibimbing Baznas. Apa soal?

PPATK suda wara-wiri dan cuap-cuap, namun yang diomong cuma soal aliran dana teroris melalu digital currency dengan berbagai platform. Bedanya bagikan bumi dan langit, antara pendanaan terosis lewat kotak amal dan digital currency.

Adakah suatu transfer dana mencurigakan dalam jumlah besar, yang bersumber dari kotak amal? Berapa nilainya? Kapan dan dimana peristiwa transaksi? Kita belum tahu. Urusan ini, makam-nya terlampau tinggi.

Lantas, LAZ/ABA yang dituding itu semua kegiatannya berbasis sosial keumatan. Mereka sebagai social philanthropy activism  untuk orang susah yang tak dijangkau negara. Apa negara mampu mencakup semua urusan? Dalam banyak kasus negara lalai.

Sumber dananya dari memungut koin-koin (cash) di berbagai public space. LAZ/ABA, selain melakukan kegiatan sosial, juga bantuan modal usaha. Mereka punya program Klinik Berbagi Gizi dan banyak kegiatan sosial ekonomi produktif.

***

Setelah kampanye kotak amal untuk teroris, kini lahirlah gerakan Cash Wakaf. Dua-duanya punya tujuan mulia. Namun kotak amal kadung sudah terlekat stigma.

Padahal, tak semua orang bisa cash wakaf. Yang ekonominya kering kerontang, bisa berbagi/sedekah lewat koin-koinnya. Apa urusan negara dengan orang yang cari pahala?

Cuma belakangan, pemerintah getol sekali mengkampanyekan Cash Wakaf, setelah uang negara di APBN menjelang kere. Ekspansi fiskal menciscayakan pembiayaan.

Jika Cash Wakaf ini benar-benar berjalan/bergulir, maka Insya Allah pemerintah punya kelebihan likuiditas. Pembiayaan APBN terbantukan. Baik itu infrastruktur dan UMKM serta program kesehatan selama pandemi.

Dengan formasi demografi umat Islam yang besar di Indonesia, otomatis, potensi Cash Wakaf  pun sangat besar. Apakah ada hubungan “Setelah Stigma Kotak Amal, Lahirlah Cash Wakaf? Wallahu’alam.   

Dua-duanya (sedekah dan wakaf) berlabel Islam. Dua-duanya juga berada di ranah pengembangan kegiatan produktif. Misalnya, dari koint-koin (cash) yang diambil dari kotak amal, kemudian dipergunakan untuk membeli berbagai aset untuk kepentingan sosial dan keagamaan.

Dua-duanya amal jariah. Bedanya, sedekah bisa juga dalam bentuk yang tak berwujud. Senyum juga sedekah. Asal jangan senyum-senyum sendiri tanpa suatu sebab atau urusan.

Sementara Wakaf itu umumnya dalam bentuk aset. Seperti tanah, rumah, gedung dll. Bisa juga dalam bentuk cash. Atau sekarang lagi getol-getolnya kampanye Cash Wakaf. 

Sekarang sudah moderen sesuai perkembangan ilmu tentang pengelolaan aset. Instrumen wakaf produktif atau Cash Wakaf juga linked dengan sukuk. Dengan imbal hasil sesuai Syariat Islam (tanpa Riba) yang kelak diinvestasikan ke sosial dan keagamaan sesuai keinginan pewakaf.

Saya ga usah publis angka disini, secara agregat saja, umat Islam Indonesia itu 85% dari total populasi 267 juta jiwa. Dengan berbagai sumber daya yang ada dalam besaran demografi itu, pasti potensi wakaf pun besar adanya.

***

Untuk urusan Wakaf produktif dengan berbagai instrumen derivatif, bapak Wapres lah yang paling mafhum. Pasalnya dia kiai. Dia juga doktor bidang agama. Dia paham betul detai-detail fiqih-nya. Soal halal haramnya.

Soal financial engineering, bu Sri Mulyani dan Erick Tohor jagonya. Pasal tiba-tiba bu Sri Mulyani pakai kerudung di peluncuran Cash Wakaf, itu urusannya dia sama kiai Ma’ruf sebagai juru agama.

Toh banyak juga para pemain sinetron non muslim, yang kala main film, pakai jilbab hingga salat. Namanya juga film atau senetron. Semuanya cuma tuntutan sudut pandang kamera.

Kalau bu Srimuliani pakai kerdung, itu bagaian dari marketing negara. Masa Bicara produk-produk syari’ah dengan berbagai istilah ekonomi syari’ah, tanpa embel-embel syari’ah? Kerudung bu Sri itu bagian dari endorsement”

Yang saya tunggu-tunggu, kapan pak Luhut Binsar Panjaitan (LBP) selaku Menko Maritim, angkat suara soal Cash Wakaf. Ajaib? Tidak juga. Toh Cash Wakaf itu kini sebagai ilmu pengetahuan ekonomi dan finansial. Siapapun boleh menjamahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *