Kader Nasi Bungkus #HMI74

Munir Sara (Ms.Pic)

Teman Aliyah saya si Adnan yang duluan masuk HMI, mengatai saya kader nasi bungkus. Saya ikut Bastra HMI gegara nasi bungkusnya. Dari ilmu yang saya pelajari di universitas, gangguan metabolisme, bisa menggangu jalannya akal sehat.

Sistem hormon akan bekerja ekstra pada organ metabolisme. Tentu otak mengalami kekurangan pasokan hormon untuk bekerja secara rasional. Akibatnya condong emosional. Jangan suru orang lapar berpikir normal. Sama persis dengan perempuan menstruasi.

Sistem hormon lebih banyak bekerja pada organ reproduksi, otak kurang pasokan hormon. Jangan nyatakan cinta kala perempuan tengah menstruasi. Bahaya !

Disaat-saat itu mereka agak sensi. Rayuan paling canggihpun tak mampan. Ini sekedar berbagi pengalaman. Seumur hidup, saya baru sekali ditolak Kohati dalam urusan asmara. Mungkin tanggalnya kurang presisi.

Barang tentu motivasi nasi bungkus Bastra itu agak emosional. Tak ada secuilpun alasan ideologis, boro-boro teologis.

Kata kawan di sebelah kamar kos Ombai, entah di DAM IMM, atau Bastra HMI, dua-duanya ada nasi bungkus. “Kamu pilih yang mana?” Waktu itu belum ada PMII di Kupang.

Ada kisah tentang nasi bungkus. Waktu ikut advance training di Badko Jatim tahun 2003. Ketua PAO Badko, mas Totok bercerita, gegara nasi bungkus itu, ada kawannya, yang punya bini Kohati, selama ngidam, mencak-mencak minta nasi bungkus tengah malam.

Apa pasal? Semua gara-gara kala masih aktif, hidup dari training ke training HMI. Barang tentu selama itu tak lepas dari nasi bungkus. Terbawalah ke masa-masa ingidam. Masalah dimulai.

Pernah tengah malam, si bini ngamuk-ngamuk minta nasi bungkus. Padahal makanan komplit di dapur. Tak ambil pusing si bini. Pokoknya nasi dan aneka lauk pauk itu mesti di bungkus. Demi si orok dalam perut, si abang itu bela-belain wara wiri cari kertas nasi tengah malam.

Singkat cerita, entah sejak kapan sejarah nasi bungkus ini dimulai. Yang jelas, setelah saya aktif, setahu saya, HMI cabang Kupang sering ngutang nasi bungkus di Rumah Makan Murah, Fontein Kupang. Nota utangnya pakai stempel organisasi, didahului dengan kalimat, teriring salam dan doa.

Waktu itu, yang bikin saya emoh dengan HMI adalah rapatnya. Lebih lama pengantar, ketimbang inti masalah. Ditambahi sedikit kelakar. Paling doyan dengan keindahan retorika.

Dalam soal begini—keindahan retorika, bang Ishak Bana jagonya. Dia selalu memuntahkan istilah yang bikin kita pening. Mesti rajin-rajin buka kamus kalau ada bang Ishak.

Memilih dan masuk Bastra HMI hanya karena kebetulan. Tapi setelahnya, terasa begitu sebentar dan ingin berlama-lama. Tapi begitulah, masa depan, asmara dan karir menanti di luar sana. Meskipun sekarang masih menjadi…..

***

HMI menurut saya adalah bagian elementer peradaban Indonesia yang tercecer. Saya temukan itu di koran-koran Pelita dan Suara Karya yang tercecer di kantor HMI Cabang Kupang. Isinya pikiran kader HMI dan alumni.

Koran itu dikasi gratis ke HMI se Indonesia tiap bulan. Saya suka baca kolom bang Sulastomo (alm). Renyah, mengalir dan penuh ruh keislaman dan keindonesiaan. Dari situ saya benar-benar kesengsem dengan HMI.

Di satu bagian kolomnya, bang Sulastomo bercerita tentang Kohati-kohati yang harum dan cantik kala tahun 60-an. Demikian pula HMI-wan yang maco dan pintar-pintar. Sementara Gerwani dan anak-anak CGMI yang kemomos dan bau.

Sejak itu, saya mulai menulis, sekitar tahun 2001. Setiap koran pelita masuk, pasti saya kliping kolom bang Sulastomo. Barang berharga saya itu tertinggal di Atambua setelah hijrah ke Jakarta th 2009.

Di persimpangan Indonesia, bertemulah kislaman dan kebangsaan dalam wadah HMI. Bukan ujuk-ujuk, tapi amat berat ujiannya. Bacalah hari-hari yang panjang tulisan bang Sulastomo. Ditambah pula rekam perjalanan Cak Nur yang menginspirasi lahirnya NDP. Disinilah saya mulai merasa berHMI.

Pemikiran keislaman dan keindonesiaan HMI diuji dalam sejarah. Tahun 1960-an sd 1980-an hingga pasca orde baru, HMI ada dalam turbulensi sejarah pancaroba ideologi. Berubahnya NDP ke NIK, lalu ke NDP lagi, adalah bagian dari etape pergolakan nilai yang begitu kuat mempengaruhi cara pandang saya tentang HMI.

Kongres HMI di Jambi tahun 1999, adalah pergolakan penting HMI pasca orde baru. Saya ikuti dari kliping-kliping koran yang di bawa para senior dari Kongres Jambi.

Dinamika perubahan asas HMI, melahirkan berbagai gagasan. Asas HMI kemudian bertemu dengan pikiran mainstream kader pasca negara Orba. Ada berbagai buku karya kader-kader HMI menyambut perubahan asas HMI di tahun 1999.

Peta jalan kaderiasi HMI pun mengalami metamorfosa pasca negara orde baru. Tercabut dari akar ideologis NIK dengan konstruksi makro politik Orba. Lalu menyasar pada konstruksi negara demokrasi terbuka pasca reformasi dengan kembalinya ke NDP.

Masa ber-HMI saya ada dalam pusaran dinamika yang demikian. Disitulah saya mulai benar-benar menyukai HMI. Luar biasa dinamika pemikiran kala itu !

Postur HMI dalam helaan negara orde baru dan pasca reformasi dalam berbagai tulisan para senior, semakin menarik palung hati saya tercelup lebih dalam di HMI. Itu hentakan sejarah yang berarti buat saya.

Dalam sofisme moderen, ada yang disebut ecstasy, bisa jadi saya pernah berada dalam keasyikan-keasyikan seperti itu di HMI. Sampai-sampai nyaris lupa wisuda sarjana. Untunglah tiap hari kena semprot dari ortu di kampung.

***

Sekarang menurut saya, HMI harus menarik girah masa lalunya untuk menemukan bentuk pergolakannya hari ini. HMI saat ini seperti kehilangan common enemy.

Dari tahun 1947 hingga era 80-an dan awal reformasi, HMI selalu menemukan momentum dan dinamika. Selalu ada gerakan dan diskursus yang mengandaikan HMI bergerak dari satu titk ke titik lain. Menjadi dinamik !

Kalau awal mula berdiri HMI punya basic demand, maka sekarang HMI mesti bertanya pada dirinya, apa basic demand HMI hari ini? Dulu, ada terminologi yang paling agresif di HMI, “bergerak atau kafir?” Saya dapat itu di rekontruksi NDP Mataram th 2004.

Sekarang, HMI seakan bergerak, tapi dalam paroki yang amat sempit. HMI tampak sibuk dengan dirinya. Sibuk menyatukan patahan-patahan kecil hanya karena goncangan ringan di sekitar dengan amplifikasi politik kekuasaan yang remeh temeh.

Ingat, HMI pernah melewati goncangan ideologis. Efek goncangan ideologis itu, membelah HMI dalam dua lempengan besar. Efek residunya masih ada hingga hari ini. Itu ujian kekuasaan. HMI mestinya lebih matang dengan situasi demikian.

Hari-hari ini, fragmen-fragmen sosial itu menganga lebar. Di depan mata kader HMI. Dikotomi-dikotomi sosial seakan difasilitasi politik kekuasaan. Pilar-pilar demokrasi menjadi lumpuh total.

Sumber daya politik dan ekonomi serta sirkulasinya, hanya bergerak di sekitar sekelompok kecil elit yang menguasai 80% sumber daya ekonomi. Demokrasi mengalami konglomerasi.

Ruh dari pada aktivisme politik menjadi pudar dan transaksional. HMI mesti secara cepat mereformulasi apa basic demand-nya hari ini !

Dari nasi bungkus di Bastra, perjalanan saya di HMI terasa begitu panjang dan makin menemukan titik-titik rumitnya. Entah pemikiran saya yang makin menemukan relevansi kekinian yang kompleks, atau jangan-jangan pikiran ini tak lazim, tidak berguna hingga sepi dalam keramaian. Wallahu’alam

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *