Jokowi Datang NTT “Sejahtera”

Di Maumere NTT, orang-orang berdedai menyambut bapak presiden tercinta. Di layar TV, yang tampak cuma berjubel tangan menuding langit yang terang. Saking banyaknya tangan melambai, hingga kepala orang-orang seperti menciut. Beberapa kali bapak Jokowi lempar bingkisan dari atap mobil. Sekitar dua atau tiga kali lempar.

Kalau cuma dua atau tiga kali lempar, berarti tak semua dapat bingkisan. Menurut saya, tak begitu penting semua dapat atau tidak, asalkan, dari sudut pandang kamera, yang dipertuan bapak presiden memberikan sesuatu.

Yang tampak cuma lautan tangan manusia. Suara histeris mendengking memanggil-manggil nama bapak presiden yang tercinta. Diantara kerumunan warga, ada yang teriak sampai menangis memanggil-manggil; “Jokowi…”Apa duduk perkara yang membuatnya teriak setengah histeris begitu macam, sampai artikel ini ditulis, belum ada suatu alasan serius yang saya temukan secara daring.

NTT sendiri punya soal dengan kemiskinan dan ketahanan pangan. Persentase kemiskinan di NTT tak lari dari 20%-21% sepanjang lima tahun terakhir (BPS). Pada 2020, komposisi garis kemiskinan makanan sebesar Rp 316.659,-/kapita/bulan (78,24 persen) dan garis kemiskinan bukan makanan sebesar Rp.88.053,-/kapita/bulan (21,76 persen). Garis kemiskinan dari sisi makanan adalah penyumbang terbesar dalam struktur kemiskinan di NTT.

Apa arti dari data BPS? Artinya, politik pembangunan, termasuk politik pangan sepanjang lima tahun terakhir atau sebelumnya, belum menyasar pada mitigasi kemiskinan secara sektoral.

Pada triwulan IV 2020, sektor pertanian NTT berkontribusi terhadap PDRB menurut lapangan usaha sebesar 0,95% (year-on-year). Terkerek 0,4% dari triwulan III. Sektor pertanian, kehutanan dan perikanan adalah salah satu sektor yang tidak mengalami kontraksi terhadap PDRB selama pandemi pada tahun 2020.

Pertumbuhan PDRB NTT secara sektor di satu sisi, dan terkereknya angka kemiskinan dari sisi makanan di sisi yang lain, menandakan adanya mismatch antara pembangunan sektor ekonomi dan kebutuhan masyarakat dari sisi pangan.

Saya teringat comelan salah satu anggota DPR RI asal NTT, Ansy Lema kala Reker bersama Mentan RI di komisi IV. Dia marah betul soal klaim keberhasilan food estate di NTT. Menurutnya, pemerintah baru mulai membangun food estate. Belum adalah output food estate dalam kaitannya dengan supply pangan NTT. Yang jelas total kemiskinan di NTT 78% disumbang oleh garis kemiskinan makanan.

***

Kehadiran bapak presiden di NTT, dalam rangka tugas mulia, meresmikan food estate. Dalam rangka membangun ketahanan pangan. Meski satu dekade belakangan kita dibikin mengernyit, impor pangan dilakukan pemerintah, kala surplus produksi nasional (produk pangan tertentu). Atau impor pangan di musim panen. Antara Bulog dan Mentan tidak nyambung. Bulog bilang stok pangan cukup, mentan bilang impor untuk supply and demand. Benar yang mana? Wallahu’alam !

Berdasarkan data global food security index, Indonesia sendiri masuk dalam “moderate performance.”Masuk dalam best performance adalah dua negara di semananjung skandinavia, yakni Irlandia dan Finlandia. Ini dilihat dari keterjangkauan (affordability), ketersediaan (availability), kualitas dan keamanan (quality and safety), serta sumber daya alam dan ketahanan (natural resources and resilience)

Indonesia sendiri dalam soal ketahanan pangan di rangking 65. Kalah dari Malaysia, tertinggal dari Vietnam dan Thailand lebih unggul, yang mana dalam soal “ketahanan pangan” punya pamor sebagai good performance.

Pokok soalnya memang banyak di Indonesia. Dari soal market access and agriculture financial service, R&D, political and social barrier to access dan agriculture infrastructure. Terkait Affordability dan availability, Indonesia punya banyak catatan merah (Sumber : food security index).

Dari sisi sumber daya alam dan ketahanan, Indonesia punya soal serius pada political commitment and adaptation. Politik pangan belum jelas secara eksposur, apakah ke arah ketahanan pangan atau kedaulatan pangan.

Selaku orang NTT, kita mesti bersyukur, bahwa sepanjang bapak Jokowi berkuasa, belanja modal pusat untuk infrastruktur NTT ada kemajuan. Soal besaran alokasi anggaran dengan daerah lain itu soal tersendiri. Ini akan menggenjot PDRB NTT dari sisi PMTB. Sebagai sebuah investasi, tentu dia punya feature value. Benefitnya tidak mesti sekarang, nanti, entah 10 atau 20 tahun mendatang. Jokowi datang NTT senang?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *